Catatan Satu Tahun LazAdha: Lima Prioritas, Ragam Capaian
Penataan Kota Gerung, Ekonomi dari Ruang Publik
Penataan Kota Gerung menjadi program prioritas pertama yang langsung terlihat dampaknya. Salah satu intervensi yang menonjol adalah pelaksanaan Car Free Night yang digagas sebagai ruang interaksi sosial sekaligus pengungkit ekonomi rakyat.
Berdasarkan keterangan Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda, dan Olahraga (Disparekrafpora) Lombok Barat, Agus Gunawan, Car Free Night bukan sekadar agenda hiburan, melainkan strategi ekonomi.
Aktivitas ini membuka ruang bagi pelaku UMKM untuk berjualan secara rutin, menciptakan perputaran uang baru, dan memperluas akses pasar bagi pedagang kecil.
“UMKM yang terdata secara resmi ada 275, belum termasuk yang datang secara mandiri karena ramainya pengunjung. Kalau dihitung, bisa lebih dari 400 pelaku UMKM yang terlibat,” ujar Agus kepada NTBSatu Jumat, 6 Februari 2026.

Data BPS Lombok Barat menunjukkan, sejak Car Free Night digelar secara konsisten, jumlah pedagang yang terlibat meningkat, begitu pula transaksi ekonomi di sekitar pusat kota.
Pemerintah daerah bahkan menyebut, program ini berkontribusi dalam menekan angka kemiskinan melalui penciptaan aktivitas ekonomi berbasis kerakyatan.
“Antusiasme masyarakat membuat CFN berkembang pesat dalam waktu singkat, lebih cepat dari Car Free Day (CFD) Mataram. CFN mampu menurunkan angka kemiskinan Lobar sekitar 0,75 persen atau 4.000 jiwa serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi hingga tiga persen lebih,” tambah Agus.
Di sisi lain, Lalu Ahmad Zaini (LAZ) menyebutkan, fokus pembangunan Kota Gerung ini didasarkan pada keprihatinan mendalam akan kondisi Gerung ketika dia baru pertama kali menjabat.
“Dulu ketika saya baru pertama kali di sini, saya coba lihat-lihat sambil jalan-jalan di jalan yang depan ini. Saya lihat sepi sekali. Saya duduk, termenung, dan merenung secara mendalam, lalu berkata: ini harus segera diubah.” ujar LAZ di berbagai kesempatan saat bertemu dengan NTBSatu.



