Komunikasi sebagai Alat Kuasa
Kemunduran demokrasi juga tampak dari cara kekuasaan berkomunikasi. Politik tidak lagi mengandalkan argumen, tetapi emosi. Simbol, stigma, dan polarisasi menjadi instrumen utama.
Jürgen Habermas menegaskan bahwa demokrasi hidup dari ruang publik rasional. Ketika ruang itu dipenuhi disinformasi dan ejekan, publik kehilangan kemampuan deliberatif. Viralitas menggantikan kebenaran, loyalitas menggantikan etika.
Kita harus mewaspadai bahwa dehumanisasi adalah pintu masuk kekuasaan absolut. Ketika warga tidak lagi diperlakukan setara, hak konstitusional berubah menjadi alat tawar politik.



