Politik Loyalitas
Ambisi kekuasaan kerap melahirkan politik patronase modern. Loyalitas menjadi mata uang. Akses kebijakan, perlindungan hukum, bahkan kesempatan ekonomi ditentukan oleh kedekatan politik, bukan oleh prinsip keadilan.
Max Weber dalam bukunya “Wirtschaft und Gesellschaft” (Economy and Society) yang di terbitkan pertamakali secara anumerta pada tahun 1922 membedakan kekuasaan legal-rasional dengan kekuasaan personal. Negara sehat ketika hukum lebih kuat daripada figur. Namun ketika hukum tunduk pada kehendak individu, negara bergerak ke arah patrimonial, kekuasaan menjadi milik orang, bukan sistem.
Guillermo O’Donnell dalam jurnalnya Januari 1994, Volume 5, menyebut kondisi ini sebagai delegative democracy, ketika pemimpin merasa dirinya personifikasi kehendak rakyat dan memandang pengawasan sebagai hambatan. Checks and balances pun dipreteli atas nama efektivitas.



