Ruang Digital Tanpa Etika: Demokrasi yang Bising dan Adab yang Tersingkir
Oleh: Dr. H. Ahsanul Khalik – Kepala Dinas Kominfotik NTB
Di ruang digital hari ini, kita menyaksikan ironi yang semakin nyata: demokrasi tumbuh, tetapi adab perlahan runtuh. Cukup membuka satu unggahan tentang kebijakan publik di Facebook atau Instagram. Dalam hitungan menit, kolom komentar berubah menjadi arena saling serang. Bukan lagi soal setuju atau tidak, melainkan siapa yang paling keras menghina.
Kata-kata kasar, ejekan personal, hingga penghinaan terhadap martabat menjadi pemandangan sehari-hari, seolah itu bagian wajar dari kebebasan berpendapat. Kita tidak sedang kekurangan suara. Kita justru kelebihan kebisingan.
Kritik, yang seharusnya menjadi instrumen kontrol dalam demokrasi, kini berubah bentuk. Ia tidak lagi disusun sebagai argumen, tetapi dilepaskan sebagai amarah. Kata-kata tidak lagi dipilih untuk menjelaskan, melainkan untuk melukai.
Di sinilah ruang digital memperlihatkan wajah gandanya: ia memberi keberanian, sekaligus menghapus batas. Apa yang tidak mungkin diucapkan di ruang tatap muka, karena ada norma dan rasa malu menjadi sangat mudah dilontarkan dari balik layar. Jari menjadi lebih cepat daripada akal sehat.
Namun persoalan ini tidak berhenti pada etika komunikasi. Ada sesuatu yang lebih mendasar: fanatisme politik yang tidak lagi memberi ruang bagi perbedaan.
Ruang digital hari ini bukan sekedar tempat bertukar pikiran, melainkan arena pembenaran diri. Ketika seseorang telah berada pada satu pilihan politik, maka yang lain tidak lagi dilihat sebagai sesama warga, tetapi sebagai pihak yang harus disalahkan. Logikanya menjadi sederhana dan berbahaya: yang berbeda harus salah, dan yang salah layak diserang.
Di titik ini, kritik kehilangan tujuannya. Ia tidak lagi untuk mencari kebenaran, tetapi untuk memenangkan pertarungan. Bahasa berubah fungsi, dari alat dialog menjadi alat serangan. Yang lahir bukan lagi diskursus, melainkan permusuhan yang terus dipelihara.
Pertanyaannya menjadi serius: jika pola ini terus berlangsung, demokrasi seperti apa yang sedang kita bangun?
Demokrasi yang sehat membutuhkan warga yang mampu berpikir, bukan sekedar bereaksi. Ia membutuhkan perbedaan yang diperdebatkan, bukan permusuhan yang dipertajam. Kritik boleh keras, tetapi ia tetap harus punya arah. Tanpa itu, yang tersisa hanyalah kebisingan yang tidak membawa perubahan. Dan kebisingan yang terus dibiarkan, lama-kelamaan akan menjadi budaya.
Jika itu terjadi, dampaknya tidak sederhana. Delegitimasi terhadap siapa pun yang berkuasa akan menjadi kebiasaan, bukan lagi pengecualian. Bukan karena semua kebijakan salah, tetapi karena kecenderungan untuk selalu menolak dan menyerang.
Dalam jangka panjang, ini melahirkan publik yang tidak lagi percaya pada siapa pun, dan demokrasi tanpa kepercayaan adalah demokrasi yang rapuh.
Lebih jauh, generasi ke depan akan mewarisi cara berpolitik yang dangkal dan emosional. Mereka belajar dari apa yang mereka lihat setiap hari: bahwa berdebat berarti menyerang, bahwa berbeda berarti bermusuhan. Ketika ini menjadi pola, masa depan politik tidak lagi dibangun oleh gagasan, tetapi oleh sentimen.
Ruang publik pun kehilangan maknanya sebagai tempat berpikir bersama. Yang tersisa hanyalah gema dari kelompok masing-masing, saling menguatkan tanpa pernah benar-benar saling mendengar.
Jika ini terus dibiarkan, kita tidak sedang memperkuat demokrasi. Kita sedang mengikisnya, perlahan, dari dalam. Karena itu, persoalan ini tidak cukup dijawab dengan imbauan untuk lebih santun. Yang dibutuhkan adalah kesadaran bahwa demokrasi bukan ruang pelampiasan, melainkan ruang tanggung jawab.
Perbedaan politik adalah keniscayaan. Namun perbedaan tidak pernah memberi legitimasi untuk merendahkan. Tanpa kesadaran ini, kebebasan hanya akan berubah menjadi pembenaran atas kebencian.
Kritik pun harus dikembalikan pada fungsinya: bukan untuk melampiaskan emosi, tetapi untuk memperbaiki keadaan. Kritik yang tidak membawa arah hanyalah kebisingan yang memperkeruh.
Pada akhirnya, perubahan tidak dimulai dari sistem, tetapi dari cara kita berperilaku di ruang publik. Dari keputusan sederhana untuk menahan diri sebelum menulis, untuk berpikir sebelum bereaksi, dan untuk tetap menghormati meskipun tidak sepakat.
Demokrasi tidak pernah runtuh dalam satu waktu. Ia melemah sedikit demi sedikit, melalui cara kita berbicara, cara kita menyikapi perbedaan, dan cara kita memperlakukan sesama.
Ruang digital telah memberi kita kebebasan yang luar biasa. Namun tanpa kendali, kebebasan itu dapat berubah menjadi sesuatu yang merusak. Kritik harus tetap ada. Bahkan harus kuat. Tetapi jika ia kehilangan adab, maka yang hancur bukan hanya percakapan, melainkan martabat kita sebagai masyarakat demokratis.
Dan ketika martabat itu hilang, yang tersisa bukan lagi demokrasi yang hidup, melainkan kebisingan yang perlahan menggerogoti masa depannya sendiri. (*)



