Opini

Terorisme Negara Modern: Perang Iran–Amerika–Israel 2026 dan Jejak Oligarki Global

Oleh: Ariady Achmad & Tim

Pembuka: Ketika Bom Jatuh, Siapa yang Sebenarnya Berbicara?

Pada 28 Februari 2026, rudal menghantam Teheran. Yang terdengar di layar televisi adalah bahasa resmi: pertahanan diri, stabilitas kawasan, ancaman nuklir.

IKLAN

Namun di balik dentuman itu, ada suara lain yang tidak disiarkan: suara kepentingan.

Serangan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran bukan hanya operasi militer. Ia adalah manifestasi dari sebuah sistem—di mana perang tidak selalu lahir dari ancaman, tetapi dari kebutuhan untuk mempertahankan dominasi.

Babak I: Ancaman yang Dibentuk, Bukan Sekadar Ditemukan

Iran sejak lama ditempatkan sebagai “ancaman global”. Narasi ini tidak muncul tiba-tiba. Ia dibangun melalui: laporan kebijakan, framing media, dan tekanan diplomatic.

Di ruang-ruang kekuasaan Washington, kelompok seperti American Israel Public Affairs Committee memainkan peran penting dalam memastikan bahwa isu Iran tetap berada di pusat perhatian politik.

Pertanyaannya bukan apakah Iran berbahaya. Tetapi: seberapa jauh persepsi bahaya itu diproduksi dan diperbesar?

Babak II: Industri Perang—Bisnis yang Tak Pernah Rugi

Perang selalu membawa korban. Namun bagi sebagian pihak, perang juga membawa keuntungan. Raksasa pertahanan seperti: Lockheed Martin, Raytheon Technologies, Northrop Grumman, berada di jantung ekosistem ini.

Setiap eskalasi berarti: kontrak baru, produksi meningkat, dan saham menguat. Dalam logika ini, perdamaian bukan prioritas utama. Ia justru menjadi anomali.

Babak III: Uang Mengalir, Kebijakan Mengikuti

Di sistem politik modern, pengaruh tidak selalu dibeli secara ilegal. Ia sering kali dibangun secara sah melalui mekanisme demokrasi.

Pendanaan kampanye, jaringan donor, hingga dukungan politik menciptakan hubungan timbal balik antara: politisi, korporasi, kelompok kepentingan, dan Think tank seperti: Council on Foreign Relations, Brookings Institution, memproduksi wacana yang membingkai realitas.

Dari sana lahir: definisi ancaman, urgensi tindakan, dan legitimasi perang. Semua terlihat rasional. Namun pertanyaannya tetap: siapa yang mendefinisikan rasionalitas itu?

Babak IV: Revolving Door—Ketika Negara dan Korporasi Menjadi Satu

Di United States Department of Defense, fenomena revolving door bukan rahasia. Pejabat publik: berpindah ke industri pertahanan. Eksekutif industri: masuk ke lingkaran kekuasaan. Hasilnya adalah simbiosis yang sulit dipisahkan.

Dalam kondisi seperti ini, keputusan untuk berperang tidak lagi berdiri murni sebagai keputusan politik. Ia menjadi bagian dari ekosistem kepentingan.

Babak V: Israel, Iran, dan Politik Ketergantungan

Hubungan antara Israel dan Amerika Serikat sering disebut sebagai aliansi strategis. Namun di balik itu, terdapat: kepentingan domestik, tekanan politik, dan jaringan lobi.

Dukungan terhadap Israel tidak hanya soal geopolitik, tetapi juga bagian dari kalkulasi politik dalam negeri Amerika.

Sementara itu, Iran menjadi “lawan permanen”— sebuah posisi yang secara politik berguna untuk mempertahankan narasi ancaman.

Babak VI: Terorisme Negara—Ketika Kekerasan Dilegalkan

Jika terorisme adalah penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan demi tujuan politik, maka dunia perlu bertanya secara jujur: Apa yang terjadi ketika negara melakukan hal yang sama—dengan legitimasi hukum dan kekuatan militer?

Serangan terhadap infrastruktur, korban sipil, dan ancaman eskalasi menunjukkan bahwa: teror tidak lagi hanya dilakukan oleh kelompok non-negara. Ia telah menjadi instrumen kekuasaan negara. Perbedaannya hanya satu: negara memiliki legitimasi untuk melakukannya.

Babak VII: Deep System—Arsitektur Kekuasaan Global

Istilah deep state sering diperdebatkan. Namun yang lebih relevan adalah konsep deep system: sebuah jaringan yang terdiri dari: negara, korporasi, lembaga keuangan, dan aktor politik.

Sistem ini tidak selalu berkonspirasi secara terbuka. Namun ia bergerak dalam satu arah: mempertahankan kekuasaan dan aliran keuntungan. Dalam sistem seperti ini, konflik bukan kegagalan. Ia bisa menjadi mekanisme yang berfungsi.

Penutup: Dunia yang Dikelola oleh Kepentingan

Perang Iran–Amerika–Israel 2026 membuka realitas yang sulit diabaikan: bahwa dunia tidak hanya bergerak oleh nilai dan hukum, tetapi juga oleh jaringan kepentingan yang kompleks.

Dari ruang lobi hingga medan perang, kita melihat satu pola: ancaman dibentuk, kebijakan disusun, konflik terjadi, dan keuntungan mengalir. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah ini terjadi. Tetapi: apakah dunia masih memiliki keberanian untuk mengakuinya—atau akan terus hidup dalam ilusi bahwa semua ini hanyalah kebetulan sejarah?

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button