ANDAI KARTINI HADIR DI ERA INI?
Oleh: Dr. Najamuddin Amy, S.Sos.,MM (Pendiri & Motivator Actioner Indonesia)
“Ketika seorang menyebut Kartini ? Apa yang terlintas di kepala Anda?
Bagi yang membacanya, beragam kesan akan muncul. Bagi yang sekedar mendengarkan riwayatnya, banyak yang keliru menjelmanya. Andai Kartini hidup di era keterbukaan ini ? dia pasti akan
menulis kita dengan kritis dan mendalam “
Hampir setiap April di setiap tahunnya, saya berdebat tentang Kartini. Selalu, debat itulah membuat saya membaca ulang Kartini. Dan setiap saya membaca saya kagum pada ketekunan menulis Kartini. Kartini adalah sosok telaten, terampil berbahasa, rajin membaca dan pribadi yang taat dan menawan. “…Kartini bisa berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda” (Wikipedia).
Dulu, keberuntungan dan kesempatan belajar tidak berpihak kepada semua orang. Apalagi bagi kaum perempuan. Namun, Kartini sudah mulai dan berani memahami itu. Walaupun sahabatnya Rosa Abendanon banyak mendukungnya. Mengirimkan Kartini buku-buku, koran dan majalah Eropa. Yang membuat Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Namun, Kartini bisa bertahan tanpa kehilangan respeknya pada orang tua dan adat jawa yang begitu melekat.
Tulisan Kartini adalah inspirasi dan kemajuan berpikir. Surat-surat yang pernah dituliskan Kartini kepada teman-temannya di Eropa dikumpulkan dalam buku diberi judul Door Duisternis tot Licht yang arti harfiahnya “Dari Kegelapan Menuju Cahaya” yang diterbitkan Tahun 1911. Sebelas Tahun kemudian, Balai Pustaka menerbitkannya dalam bahasa Melayu dengan judul yang diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang : Boeah Pikiran, yang merupakan terjemahan oleh Empat Saudara. Kemudian tahun 1938, keluarlah Habis Gelap Terbitlah Terang versi Armijn Pane seorang sastrawan Pujangga Baru. Armijn membagi buku menjadi lima bab pembahasan untuk menunjukkan perubahan cara berpikir Kartini sepanjang waktu korespondensinya. Versi ini sempat dicetak sebanyak sebelas kali. Surat-surat Kartini dalam bahasa Inggris juga pernah diterjemahkan oleh Agnes L. Symmers. Selain itu, surat-surat Kartini juga pernah diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa Jawa dan Sunda.
Kartini adalah sosok Perempuan Jawa yang bukan hanya taat pada orang tua dan adat istiadatnya. Kartini pun adalah cucu dari Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. Kartini memang tidak membuat judul dalam setiap surat-suratnya. Namun, pemikirannya membuat orang memberikan tema yang tepat atas kegelisahannya. Kartini kecil yang lincah dan rajin belajar pastilah mendapatkan bimbingan yang cukup dari orang tua dan kakeknya. Kartini pasti pula memahami bahwa bahwa perjuangan Nabi Muhammad yang ‘ummi’ memulai kenabiannya dengan ‘iqro’ (membaca) dan mulai membebaskan kejahiliaan menuju jaman berperadaban. Sebagai perempuan cerdas, Kartini mendapatkan spirit dan inspirasi dari kalimat suci ‘mina dzulumati ilannur’.
Membaca Kartini adalah membaca kehidupan dan perjuangan. Membaca Kartini adalah membaca zaman. Tariklah, Kartini di era ini walau itu sesuatu yang mustahil. Era ini adalah era keterbukaan. Kesempatan terbuka bagi siapa pun. Dunia tanpa batas. Ilmu pengetahuan berserakan. Buku tercecer di hampir setiap jengkal kehidupan kita. Bahkan ada dalam genggaman kita. Andai Kartini hidup di hari ini, dia bisa saja mengkritisi kita sebagaimana dia menulis mengkritisi eranya dengan tulisan-tulisannya. Sebuah buku kumpulan surat kepada Stella Zeehandelaar periode 1899-1903 diterbitkan untuk memperingati 100 tahun wafatnya. Isinya memperlihatkan wajah lain Kartini. Koleksi surat Kartini itu dikumpulkan Dr Joost Coté, diterjemahkan dengan judul Aku Mau…Feminisme dan Nasionalisme.
Surat-surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar 1899-1903. “Aku Mau …” adalah moto Kartini. Sepenggal ungkapan itu mewakili sosok yang selama ini tak pernah dilihat dan dijadikan bahan perbincangan. Dulu, Kartini telah berbicara banyak tentang sosial, budaya, agama, bahkan korupsi (Wikipedia).
Setiap 21 April, Bangsa Indonesia memperingati Hari Lahirnya Raden Ayu Kartini. Setiap itulah, kerap orang salah kaprah atas cara memperingatinya. Andai Kartini hadir, dia mungkin akan bangga jika banyak perempuan Indonesia pandai menulis surat/buku penuh makna daripada menulis keluh kesah di medsos.
Dia akan bangga perempuan Indonesia memiliki koresponden sebanyak-banyaknya seantero dunia. Kartini akan tersenyum sumringah, jika banyak wanita Indonesia berprestasi dengan karya dan kepeduliannya. Bukan sekedar peragaan pakaian kebaya, bukan pula lomba lagunya, bukan sekedar festival rambut dan kondenya. Kartini akan berkata dengan motonya…’Aku Mau…Perempuan Indonesia berkarya bukan sekedar bergaya’. ‘Aku Mau…Wanita Indonesia memiliki softskill yang kuat, pandai berbahasa, cerdas bertutur kata, santun pada orang tua dan adat istiadatnya, rajin menulis. ‘Aku Mau…Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, karena ia melihat bahwa perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah (salah satu kemauan Kartini).
Ayo..Peringati Kartini dengan mendalam. Ayo Baca Kartini sesungguh Kartini. Mari Kita hentikan peringati Kartini tanpa kita mengenalnya. Jangan lagi wariskan Kartini yang salah pada generasi berikutnya. (Na005/drna76).



