OpiniWARGA

Darurat Sampah, Menuju Indonesia Emas, Mataram Terancam!

Oleh: Rheza Firda Yana – Mahasiswi Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam UIN Mataram

Sampah, satu kata yang seringkali kita dengar, tetapi jarang kita pikirkan. Namun, tahukah anda bahwa sampah adalah salah satu masalah lingkungan terbesar yang dihadapi dunia saat ini. Dari sampah plastik banyak mengapung di laut hingga gunung sampah yang membanjiri setiap sudut kota bahkan sampai ke penjuru desa. Sampah telah menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan hidup kita. Sampah juga bisa menjadi cerminan dari perilaku kita sendiri, sebuah refleksi dari kebiasaan membuang sampah sembarangan dan jumlah konsumsi semakin meningkat.

Permasalahan sampah di Kota Mataram kini berada dalam situasi yang mengkhawatirkan. Sampah yang semakin hari membeludak menjadi masalah bagi pemerintah dan warga setempat. Dilansir dari inside, Denny selaku Kepala Dinas Lingkungan Hidup mengatakan bahwa sejak Desember 2025 pembuangan sampah ke Tempat Pemrosesan Akhir Regional (TPAR) Kebon Kongok dibatasi dari empat ritase per hari menjadi satu ritase per hari. Sedangkan saat ini, sekitar 10.200 ton sampah masih tertahan di Tempat Pembuangan Sementara (TPS) yang ada di Kota Mataram. Keterbatasan tersebut ternyata membuat sejumlah lokasi mengalami penumpukan parah, di antaranya TPS Bintaro, Sandubaya, Lawata, Selagalas, hingga TPS 45.

Sampah yang menumpuk seperti itu dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap aktivitas warga setempat. Mulai dari bau yang menyengat, lalat bertebaran, nyamuk yang berkerumun, bahkan dapat menyebabkan banjir dan penyakit yang cukup serius. Kebijakan pemerintah yang membatasi pembuangan sampah ke TPAR ternyata tidak menjadi sebuah solusi untuk menyelamatkan Kota Mataram dari sampah. Jika kita melihat gaya kepemimpinan dari Wali dan Wakil Wali Kota Mataram yang mempunyai jargon untuk membawa Kota Mataram menjadi kota yang aman dan bersih, perlu dipertanyakan terkait permasalahan yang kini dihadapi.

Dikutip dari RRI.CO.ID, Mataram, yang mengatakan bahwa Wali Kota Mataram H. Mohan Roliskana memberikan solusi terkait permasalahan tersebut yang dikenal dengan istilah Tempah Dedoro. Tempah Dedoro adalah istilah yang dipakai untuk mengatasi sampah dengan metode pengolahan sampah organik menggunakan buis beton yang ditanam di tanah serta dilengkapi penutup. Tempat penanaman buis beton ini di rumah masing-masing warga.

Namun, cara ini belum meluas secara merata. Solusi yang dikeluarkan oleh pemerintah tersebut, khususnya di Desa Karang Pule, Kecamatan Sekarbela belum terealisasikan sama sekali. Realitanya masih banyak warga setempat membuang sampah di sungai. Dan jika dilihat dari jalan sekolah SMKN 2 Mataram bau menyengat akibat tumpukkan sampah sampai saat ini masih terasa bahkan sampai mengganggu aktivitas belajar dan mengajar di sekolah tersebut. Dikutip dari Lombok Post, sejumlah siswa dan guru mengeluh terkait hal tersebut, dan wakil kepala sekolahnya pun sempat melayangkan surat pengaduan kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) namun solusi yang didapat dinilai belum maksimal.

Dengan permasalahan di atas jika dikaitkan dengan menuju Indonesia emas 2045 maka perlu ditindak secara tegas terkait permasalahan kecil yang ada di kota-kota seluruh Indonesia. Indonesia akan menuju puncak emasnya diisukan pada tahun 2045, yang dimana Indonesia genap berusia 100 tahun kemerdekaan dan akan mendapatkan bonus demografi.

Namun, apakah bisa Indonesia mencapai semua itu sedangkan permasalahan di Kota setiap provinsi belum bisa diatasi secara maksimal. Masih banyak Sumber Daya Manusia (SDM) yang harus dibenahi serta permasalahan lainnya yang perlu dipersiapkan sebagus mungkin. Mulai dari hal terkecil seperti permasalahan sampah di setiap dusun, desa, kota, kabupaten dan provinsi.

Permasalahan sampah bukan menjadi masalah bagi pemerintah akan tetapi menjadi masalah bagi kita semua. Kurangnya rasa kesadaran diri dan jumlah penduduk kota setiap tahun bertambah. hal tersebut yang menjadikan sampah menjadi sebuah masalah yang cukup serius bagi semua kalangan. Untuk bisa mengatasi semua permasalahan tersebut, hendaknya pemerintah Kota Mataram lebih peka dan mencarikan solusi yang tepat.

Semisalnya, seperti mengadakan sosialisasi baik kepada masyarakat atau kepada sekolah-sekolah untuk mengedukasi tentang betapa pentingnya menjaga lingkungan agar tetap bersih dan membuang sampah pada tempatnya. Mengajak Mahasiswa se-Kota Mataram untuk menyuarakan hal tersebut kepada masyarakat. Mahasiswa juga mempunyai peran dalam mewujudkan Indonesia emas 2045 karena yang menjadi ujung tombak dari hal itu ialah dikalangan anak muda dari generasi ke generasi selanjutnya.

Jika ditelaah dari teori gaya kepemimpinan menurut Hasibuan hendaknya seorang pemimpin itu menerapkan gaya kepemimpinan yang demokratis. Artinya seluruh elemen pemerintahan sampai masyarakat wajib tahu dan ikut berpartisipasi dalam memecahkan permasalahan yang sedang dihadapi. Masyarakat tahu akar masalahnya dimana dan solusi untuk itu dipikirkan secara bersama tanpa adanya miss komunikasi.

Namun nyatanya di Kota Mataram penanganan terkait masalah sampah ini bisa dikatakan cukup lamban dan banyak membuang waktu. Sedangkan dampak yang dirasakan masyarakat cukup signifikan, seperti penyakit demam berdarah, dan Mataram sekarang sedang berada ditahap rawan terkena banjir.

Oleh karena itu, jika langkah ini diambil sekarang, kita bisa mengharapkan hasil positif di masa mendatang. Seperti sama-sama dan peka terhadap kebersihan sampah, gotong royong setiap minggu, saling mengingatkan satu sama lain, komunikasi atasan (pemerintah) ke bawahan (jajarannya) semakin intensif dan responsif sehingga dapat mewujudkan visi dan misi dari kepemimpinan masa ini. Dan pada akhirnya, masa depan Kota Mataram menuju Indonesia emas 2045 bergantung pada keberanian kita untuk melakukan tindakan hari ini. (*)`

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button