Kota Mataram

DLH Kota Mataram Targetkan Pembersihan Sampah TPS Bintaro Tuntas 10 Hari ke Depan

Mataram (NTBSatu) – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram, terus menggenjot penanganan sampah setelah kembali membuka Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kebon Kongok yang sebelumnya sempat tutup selama tiga bulan.

Kepala Bidang Pengelolaan Persampahan DLH Kota Mataram, Vidi Partisan Yuris mengungkapkan, volume sampah harian saat ini meningkat signifikan, yakni mencapai 300 hingga 380 ton per hari.

“Biasanya kami hanya menangani sekitar 240 sampai 260 ton per hari. Namun karena TPA sempat tutup, sekarang kami bekerja ekstra untuk mengosongkan penumpukan,” ungkapnya kepada NTBSatu, Selasa, 14 April 2026.

Penutupan TPA sejak November hingga akhir Februari menyebabkan sampah menumpuk di sejumlah titik, termasuk kawasan Bintaro. DLH kemudian mencari lokasi penampungan, sementara karena kapasitas di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Sandubaya sudah tidak mencukupi.

Vidi menargetkan, petugas menuntaskan tumpukan sampah di Bintaro dalam waktu 10 hari ke depan. Ia menyebut, petugas hampir merampungkan bagian depan lokasi dalam waktu kurang dari satu bulan.

“Sekarang kami fokus menyelesaikan bagian belakang. Targetnya selesai dalam 10 hari ke depan,” katanya.

Untuk mempercepat pengangkutan, DLH mengoperasikan sekitar 35 hingga 37 unit truk, termasuk 14 truk kontainer (arm roll) dengan frekuensi pengangkutan hingga tiga kali sehari.

Terapkan TPS Mobile

Di sisi lain, Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram mulai meninggalkan sistem Tempat Pembuangan Sementara (TPS) konvensional dan beralih ke sistem TPS mobile. Melalui sistem ini, petugas langsung memindahkan sampah dari kendaraan roda tiga ke truk di titik yang masing-masing lurah tentukan.

“Jadi tidak ada lagi penumpukan seperti TPS lama. Setelah petugas mengangkut sampah, lokasi tetap bersih,” ujarnya.

Operasional TPS mobile berlangsung satu hingga dua kali sehari, menyesuaikan kebutuhan di tiap wilayah. DLH Kota Mataram menargetkan, pengangkutan dua kali sehari agar proses pemisahan sampah organik dan anorganik berjalan lebih optimal.

Meski sempat menuai keluhan warga, DLH memastikan kondisi penumpukan ini hanya bersifat sementara. Pemkot juga mempercepat penanganan agar dampak penutupan TPA segera teratasi.

Dalam jangka panjang, DLH menyiapkan pembangunan TPST modern, termasuk TPST Kebon Talo yang akan dilengkapi mesin pemilah otomatis dari luar negeri.

“Kami tahu edukasi pemilahan sampah membutuhkan waktu. Karena itu, nanti mesin akan membantu memilah secara otomatis,” ujarnya.

Vidi menegaskan, persoalan sampah merupakan isu global yang membutuhkan peran bersama antara pemerintah dan masyarakat. Namun, Pemkot Mataram saat ini memprioritaskan sistem yang memudahkan warga.

Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak membuang sampah ke sungai. Warga dapat memanfaatkan TPS mobile atau titik pengumpulan yang tersedia di setiap kelurahan.

“Kalau warga membuang sampah ke sungai, sampah itu akan kembali lagi dan kami harus mengangkutnya lagi. Itu berarti dua kali kerja,” tegasnya. (*)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button