Opini

KSB’s Model Kembali ke Fitrah: Memindahkan Emas ke Otak Manusia Sumbawa Barat

Oleh: Dr. Najamuddin Amy, S.Sos.,MM (Wakil Rektor III Universitas Cordova Indonesia Periode 2009 – 2015 & Ketua DPD KNPI KSB Periode 2010 – 2015)

Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) terlahir di malam Lailatul Qadar, 25 Ramadhan 1422 H. Momentum spiritual ini bukan sekadar catatan sejarah, melainkan fondasi utama visi Peradaban Fitrah yang digagas KH. Zulkifli Muhadli (Buya Zul). Visi ini bertumpu pada tiga prinsip dasar: Assalamualaikum (salam), Warahmatullah (rahmat), dan Wabarakatuh (berkah), serta lima jaminan aman: beragama, jiwa, keturunan, harta, dan kehormatan.

Dari sanalah lahir Pembangunan Berbasis Rukun Tetangga (PBRT)—sebuah model yang oleh para peneliti disebut sebagai satu-satunya di NTB bahkan Indonesia pada masanya. PBRT membalik logika pembangunan: dari top-down menjadi bottom-up, dari terpusat menjadi berakar di unit terkecil masyarakat, yaitu RT.

Namun, dua dekade berlalu, KSB kini berdiri di persimpangan jalan. Di satu sisi, kekayaan alamnya luar biasa. Tambang Batu Hijau dan Proyek Elang menyimpan deposit tembaga-emas super raksasa, dengan cadangan emas mencapai 26,4 juta ons. Smelter Amman Mineral telah beroperasi penuh. Di sisi lain, sekitar 80 persen PDRB KSB masih bergantung pada tambang, penyerapan tenaga kerja lokal rendah, dan struktur ekonomi belum terdiversifikasi. Pertanyaan besarnya: akankah kekayaan ini tetap menjadi emas yang mengendap, atau diubah menjadi otak emas dan kegemilangan SDM?

PBRT: Gagasan Besar yang Terbengkalai

Dalam disertasinya, Buya Zul mengkritik habis pembangunan elitis yang mengabaikan suara warga. PBRT adalah jawabannya: masyarakat di tingkat RT merencanakan, melaksanakan, mengawasi, dan menikmati hasil pembangunan. Pemerintah daerah hanya fasilitator. Ini adalah cita-cita pemerintahan yang melayani dan terbuka dalam bentuknya yang paling murni.

Namun penelitian Lestanata & Pribadi (2017) mengungkapkan fakta menohok: meskipun menjadi program unggulan, PBRT periode 2014-2015 belum berjalan efektif. Banyak sumber daya tak termanfaatkan. Saat kepemimpinan berganti, peran RT kembali terpinggirkan—honor minim, dukungan nyaris tak ada. Inilah ironi pembangunan daerah: ide brilian mati karena tak dirawat.

Padahal, di era digital yang penuh paradoks—kita terhubung global tetapi asing dengan tetangga sendiri—PBRT justru semakin relevan. Forum fisik warga menjadi benteng melawan hoaks, ujaran kebencian, dan anonimitas destruktif. Prinsip “tebar salam” bisa menjadi etika komunikasi digital. Lima aman bisa diterjemahkan sebagai perlindungan dari penipuan daring, cyberbullying, dan konten kekerasan. Yang diperlukan adalah adaptasi, bukan pembuangan.

Mengembalikan Emas Menjadi Otak Emas

Bupati H. Amar Nurmansyah paham betul tantangan ini. Beliau secara terbuka mengakui bahwa 80 persen ekonomi KSB bergantung pada tambang—sebuah posisi yang sangat rentan. Ia juga menyoroti bahwa pengalaman 1999-2015 membuktikan tambang belum membentuk klaster ekonomi lokal berkelanjutan. Ironisnya, dari potensi 14.000 tenaga kerja di proyek smelter, hanya sekitar 2.700 dari masyarakat lokal.

Maka, transformasi SDM menjadi keniscayaan. Pemerintah berkomitmen mengalokasikan lebih dari 20 persen APBD untuk pendidikan. Ini bukan angka kecil. Ini adalah pernyataan tegas: kekayaan tambang harus dikembalikan dalam bentuk kualitas manusia unggul.

Universitas Cordova (UNDOVA) menjadi ujung tombak. Didirikan dengan semangat kebangkitan peradaban ala Andalusia, UNDOVA kini telah meluluskan ratusan sarjana. Pada Wisuda XI November 2025, 161 wisudawan diwisuda, dengan 74 orang (46 persen) meraih cumlaude. Ini prestasi luar biasa untuk universitas muda di daerah terpencil.

Namun jalan masih panjang. Bupati Amar mengakui adanya kesenjangan kompetensi: peluang kerja berlimpah, tetapi tenaga kerja lokal tak bisa mengakses karena keterampilan tak sesuai kebutuhan industri. Balai Latihan Kerja (BLK) yang berdiri sejak 2012 sedang direvitalisasi. Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menegaskan bahwa dunia kerja tak lagi butuh sekadar lulusan, tetapi SDM adaptif, melek digital, dan siap pakai.

Komparasi dan Jalan ke Depan
Dibandingkan daerah lain, KSB memiliki modal finansial jauh lebih besar dari sektor tambang. Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) menargetkan 100 magister dan 10 doktor putra daerah dengan APBD yang jauh lebih terbatas. KSB seharusnya bisa lebih ambisius: 500 magister dan 50 doktor dalam satu dekade bukanlah mimpi. Syaratnya, alokasi APBD untuk pendidikan dan pelatihan vokasi harus serius dan berkelanjutan.

Dari sisi tata kelola, PBRT perlu dihidupkan kembali dalam wujud hibrida: digitalisasi partisipasi tanpa meninggalkan musyawarah fisik. Ketua RT bisa memiliki dashboard digital untuk memonitor kemiskinan, melaporkan kerusakan infrastruktur, memverifikasi bantuan sosial, sekaligus menjadi fasilitator literasi digital bagi warganya. Ini adalah perpaduan high tech dan high touch—sesuatu yang tak bisa ditiru aplikasi publik mana pun.
Yang paling urgen dan proposal mendesak pengesahan Perda Peradaban Fitrah. Sudah lebih dari 10 tahun tertunda sejak pertama kali diusulkan Buya Zul pada 2015. Perda ini harus mengatur etika digital, perlindungan data pribadi, standar pelayanan publik yang responsif, dan penguatan peran RT sebagai ujung tombak pembangunan.

Penutup: Fitrah Sejati Sebuah Peradaban

Disertasi Buya Zul tentang PBRT bukan dokumen usang. Ia adalah kritik abadi terhadap pembangunan yang elitis. Di tengah kegilaan Artificial Intelegent (AI) dan kota pintar, The KSB’s Model mengingatkan kita pada kebenaran sederhana: pemerintahan yang melayani dan terbuka tidak akan pernah terwujud jika hanya berbicara dalam bahasa angka dan algoritma, tetapi lupa berbicara dalam bahasa gotong royong dan musyawarah di tingkat RT.

KSB memiliki modal sosial luar biasa. KSB juga memiliki kekayaan alam melimpah. Namun emas yang tak dikelola bijak hanya akan menjadi beban. Kembalikan emas menjadi otak emas. Jadikan kekayaan tambang sebagai mesin pencetak generasi cerdas, terampil, dan berkarakter.

Hanya dengan SDM unggul—yang mampu mengoperasikan teknologi, memiliki etika digital, berani berwirausaha—KSB bisa benar-benar maju luar biasa, bukan hanya di atas kertas, tetapi dalam kehidupan nyata masyarakatnya.

The KSB’s Model bukan sekadar strategi pembangunan fisik. Ia adalah peta menuju kegemilangan peradaban: di mana emas bumi KSB menjelma menjadi kilauan otak-otak emas putra-putri daerah, yang siap membawa tanah kelahirannya bersaing di kancah dunia. UNDOVA telah mulai menunjukkan jalan. BLK sedang direvitalisasi. KSB Satu Data sedang dioptimalkan.

Sekarang saatnya eksekusi yang konsisten dan berkelanjutan. Itulah fitrah sejati. Itulah makna pembangunan yang sesungguhnya. Sebuah peradaban tidak diukur dari megahnya gedung atau melimpahnya tambang, tetapi dari kualitas manusia yang menghuninya. KSB memiliki semua potensi untuk menjadi bukti hidup kebenaran itu. Mencari konsep dan praktik baik good governance dan clean government ternyata ada di depan mata. Pertanyaannya kini: apakah kita semua memiliki kemauan politik dan semangat kolektif untuk mewujudkannya? (DRNA76)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button