Oleh: Dr. Najamuddin Amy, S.Sos., MM.
Pernahkah Anda ‘lari’ ke hutan untuk mencari ketenangan, tapi justru menemukan tumpukan plastik di sela-sela pakis dan akar pohon tua?
Pagi ini, saya touring motor bersama Club Touring Widyaiswara BPSDMD Provinsi NTB. Rutenya sederhana: Rumah – Bukit Murpeji – Bendungan Meninting – Suranadi – Sesaot – Ai Nyet. Hampir semuanya menyusuri kawasan hutan yang kini disulap menjadi wana wisata.
Angin pagi masih segar. Pepohonan masih rimbun. Burung berkicau, air sungai mengalir jernih. Tapi mata saya tidak bisa berpaling dari satu pemandangan yang terus mengganggu di sepanjang perjalanan: sampah plastik di mana-mana.
Bukan satu atau dua botol. Bukan pula sekadar bungkus makanan yang tertiup angin. Ini tumpukan. Menggunung di sudut-sudut tersembunyi, terselip di sela bebatuan sungai, dan menggantung memalukan di dahan-dahan pohon.
Hutan yang seharusnya menjadi tempat pelarian dari hiruk-pikuk kota, kini perlahan berubah menjadi tempat pembuangan sampah raksasa.
Ketika Ekonomi Tumbuh, Sampah juga Tumbuh
Desa Wisata Sesaot memang pernah meraih penghargaan nasional dari Kemenparekraf. Mata airnya jernih. Trekkingnya menantang. Warganya ramah. Ekonomi pun menggeliat. Warung makan menjamur bagaikan cendawan di musim hujan. Parkir hidup, angkutan padat, wisatawan datang dari berbagai kota, bahkan mancanegara.*Semua terdengar seperti kabar baik, bukan? Tapi di balik euforia “hujan rupiah” itu, ada “banjir plastik” yang mengancam kelestarian hutan itu sendiri.
Setiap akhir pekan, ribuan orang datang ke kawasan wana wisata ini. Mereka membawa bekal: air minum kemasan, makanan ringan berbungkus plastik, kopi instan dalam sachet, mi instan, hingga popok bayi sekali pakai. Setelah puas bermain air, berswafoto, dan berpiknik bersama keluarga, sebagian besar dari mereka meninggalkan sampahnya begitu saja.
Saya menyusuri aliran sungai di Sesaot pagi itu. Di sela-sela bebatuan yang indah, terselip botol plastik, bungkus mi instan, dan kantong kresek yang sudah setengah membusuk. Di pinggir jalan setapak menuju Bendungan Meninting, tumpukan sampah plastik bercampur tanah dan daun kering. Di Ai Nyet, tutup botol dan sedotan plastik mengambang di sela-sela air yang seharusnya jernih.
Seorang pemuda desa yang saya temui di warung pinggir jalan mengeluh pelan, “Setiap Senin pagi, kami bersih-bersih. Tapi Sabtu-Minggu berikutnya, sampahnya kembali lagi. Kayak nggak pernah ada habisnya.” Itulah ironi wisata massal yang tidak diimbangi pengelolaan sampah yang serius. Kadang pokdarwisnya begitu gercep dan tak kenal lelah membuat destinasinya menjadi bersih kembali. Namun, masih ada saja pengunjung yang abai bahkan tak mau peduli kelestarian hutan. Alam memberi ketenangan dan kenyamanan tapi kita datang membawa sampah plastik dan puntung rokok serta pulang tanpa rasa bersalah.
Fakta yang Membuat Kita Bergidik
Mari kita lihat datanya. Bukan data dari negeri antah berantah, tapi dari NTB sendiri.
Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) mencatat bahwa setiap musim ramai pendakian, petugas mengangkut ratusan kilogram sampah plastik dari jalur pendakian. Botol minuman, bungkus makanan, alat makan sekali pakai—semuanya ditemukan berserakan di kawasan konservasi yang seharusnya dijaga kesuciannya.
Bayangkan jika volume sampah sebesar itu terjadi setiap akhir pekan di Sesaot, Meninting, dan Ai Nyet yang tidak memiliki sistem pencatatan dan pengangkutan sebaik TNGR. Berapa ton plastik yang akan menumpuk setiap bulannya? Berapa banyak yang sudah tercecer ke aliran sungai dan akhirnya bermuara ke laut?
Masalah sampah memang sudah menjadi “pekerjaan rumah” besar Provinsi NTB. Gili Trawangan, ikon pariwisata dunia sekalipun, menghasilkan 18 ton sampah per hari. Sementara kapasitas pengelolaan yang ada hanya mampu menangani sebagian kecil dari angka tersebut. Sisanya? Menumpuk, dibakar, atau dibuang ke laut.
Sekarang bayangkan sampah itu bukan lagi di pulau dengan akses transportasi laut, tapi di hutan lindung yang menjadi sumber mata air bagi ribuan warga di hilir. Di Sesaot, airnya mengalir ke sawah-sawah penduduk. Di Bendungan Meninting, airnya ditampung untuk irigasi 1.559 hektare lahan pertanian.
Plastik yang dibuang sembarangan di hutan hari ini, akan menjadi mikroplastik dalam air minum dan makanan kita beberapa tahun ke depan.
Ilmuwan telah menemukan mikroplastik dalam darah manusia, dalam ASI, bahkan dalam plasenta janin. Kita mungkin tidak merasakan dampaknya sekarang. Tapi anak-anak kita yang akan membayar harga atas kelalaian kita hari ini.
Pelajaran dari Tempat Lain: Mereka Sudah Bergerak Lebih Cepat
Sementara kita masih sibuk berdebat siapa yang bertanggung jawab membersihkan sampah wisatawan, daerah lain dan negara lain sudah bergerak lebih cepat dengan langkah-langkah berani.
Bangladesh tidak main-main. Pemerintah mereka melarang plastik sekali pakai di seluruh kawasan konservasi hutan. Warung tidak boleh menjual air kemasan botol. Wisatawan wajib membawa tumbler sendiri. Pelanggar dikenakan denda yang cukup berat untuk membuat orang berpikir dua kali.
Hasilnya? Kawasan hutan di Bangladesh tidak hanya bersih, tapi juga menjadi contoh bagi negara tetangga bahwa kebijakan tegas itu mungkin dan efektif.
Bhutan, negara kecil di kaki Himalaya, mengambil jalur berbeda. Mereka menerapkan prinsip High Value, Low Volume Tourism. Tiket masuk untuk wisatawan asing mencapai USD 200-250 per hari. Mahal? Tentu. Tapi konsekuensinya: jumlah wisatawan terkontrol, sampah minimal, dan hutan tetap lestari.
Bhutan tidak mengejar jumlah wisatawan sebanyak-banyaknya. Mereka mengejar nilai. Wisatawan yang datang adalah mereka yang benar-benar menghargai alam dan bersedia membayar untuk kelestariannya.
Tasmania, Australia, mengambil pendekatan pengawasan ketat. Mereka punya tim khusus dengan kamera badan yang memantau operator wisata. Jika ada pelanggaran terhadap aturan lingkungan, izin operasional langsung dicabut. Wisatawan nakal? Dikenakan denda dan larangan memasuki kawasan nasional.
Lalu bagaimana dengan NTB?
Kabar Baik: Ada Harapan dari Rinjani

Di tengah rasa frustasi saya menyusuri tumpukan sampah di Sesaot, ada secercah harapan yang datang dari Gunung Rinjani.
Pemerintah Provinsi NTB bersama Balai TNGR meluncurkan program Zero Waste Rinjani 2025. Targetnya ambisius: menjadikan kawasan Rinjani sebagai kawasan pendakian bebas sampah plastik pertama di Indonesia.
Dan yang membuat saya terkesan, program ini tidak sekadar slogan. Ada sistem dan sanksi tegas di belakangnya.
Ini cara kerjanya:
- Setiap pendaki wajib menerapkan carry in-carry out (bawa masuk, bawa keluar semua sampah);
- Sebelum mendaki, barang bawaan diperiksa satu per satu oleh petugas;
- Kemasan sekali pakai dipisahkan dan dibatasi jumlahnya;
- Botol minuman kemasan dilarang; pendaki wajib membawa tumbler isi ulang;
- Pendaki yang membuang sampah sembarangan dikenakan denda dan blacklist 5 tahun (tidak boleh mendaki ke Rinjani selama setengah dekade).
Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni mengapresiasi langkah ini: “Pengetatan ini disertai aturan tegas. Ada denda dan blacklist mendaki hingga lima tahun.”
Hasilnya? Perlahan tapi pasti, jalur pendakian Rinjani mulai bersih. Sampah plastik berkurang drastis. Kesadaran kolektif mulai terbangun.
Tapi satu pertanyaan besar mengganjal:
Kenapa kebijakan sekuat ini belum diterapkan di Sesaot, Bendungan Meninting, Suranadi, Ai Nyet dan seluruh kawasan wana wisata lainnya di seluruh kab kota se NTB ?
Apakah karena statusnya bukan taman nasional? Apakah karena anggarannya tidak cukup? Apakah karena belum ada korban jiwa akibat sampah? (Padahal untuk sampah, korbannya tidak langsung tapi pasti—dalam bentuk kerusakan ekosistem dan kesehatan masyarakat).
Yang Bisa Kita Lakukan Sekarang juga
Kita tidak perlu menunggu pemerintah bergerak sendiri. Setiap dari kita, sebagai wisatawan, bisa menjadi bagian dari solusi. Bukan bagian dari masalah.
Pertama, bawa tumbler dan tas belanja sendiri Sebelum berwisata ke hutan, siapkan botol minum isi ulang dan kantong sampah pribadi. Isi tumbler di rumah atau di warung yang menyediakan air minum galon. Jangan tergiur membeli air kemasan plastik hanya karena malas membawa botol.
Kedua, terapkan carry in-carry out di mana pun.
Aturan ini tidak hanya untuk pendaki Rinjani. Saat Anda ke Sesaot, Meninting, atau Ai Nyet, bawa turun semua sampah yang Anda hasilkan. Jika Anda bisa membawa masuk camilan dalam kemasan plastik, Anda juga bisa membawa keluar kemasan kosongnya. Jangan percaya pada “petugas kebersihan” yang mungkin tidak pernah ada.
Ketiga, pilih warung dan penginapan yang peduli sampah.
Sebelum membeli makanan atau minuman, lihat sekeliling. Apakah warung itu menyediakan tempat sampah? Apakah mereka menjual minuman dalam kemasan botol kaca atau galon isi ulang? Apakah mereka melarang pembeli membuang sampah sembarangan? Gunakan uang Anda sebagai “suara”. Dukung pelaku usaha yang bertanggung jawab.
Keempat, laporkan dan tegur jika melihat pelanggaran.
Jika melihat wisatawan lain membuang sampah sembarangan, tegur dengan santun tapi tegas. Jika warung masih menjual minuman dalam kemasan plastik sekali pakai, usulkan untuk beralih ke sistem galon isi ulang. Jangan diam. Karena diam berarti setuju.
Kelima, dukung perluasan kebijakan Zero Waste. Suarakan di media sosial masing-masing dan tag media sosial instansi terkait agar jadi atensi dan masukan evaluasi kebijakan. “Perluas kebijakan Zero Waste ke seluruh wana wisata NTB!” Suara kolektif kita bisa mengguncang kebijakan.
Hutan Bukan Tempat Sampah, Hutan adalah Rumah Kita
Kawasan hutan bukan sekadar latar belakang foto Instagram. Bukan pula tempat untuk buang sampah karena merasa “sudah ada petugas kebersihan”.
Ia adalah paru-paru kota, yang menghasilkan oksigen bagi kita semua.
Ia adalah sumber air, yang mengairi sawah dan memberikan air minum bagi ribuan warga di hilir.
Ia adalah warisan, yang akan kita tinggalkan untuk anak cucu. Apakah kita ingin mereka mewarisi hutan yang penuh plastik? Atau hutan yang masih rimbun dan bersih seperti aslinya?
Tahun 2026 adalah momentum. Program Zero Waste Rinjani sudah membuktikan bahwa sanksi tegas dan kesadaran kolektif bisa bekerja—tidak hanya di atas kertas, tapi di lapangan.
Sekarang saatnya memperluas kebijakan itu ke seluruh kawasan wana wisata di NTB. Sesaot, Meninting, Suranadi, Ai Nyet, dan semua titik wisata hutan lainnya berhak mendapatkan perlindungan yang sama
Jadi, sebelum Anda berwisata ke hutan akhir pekan ini, tanya dulu pada diri sendiri:
“Apakah saya akan membawa pulang sampah saya?
“Apakah saya rela anak saya nanti bermain air di sungai yang penuh plastik?”
“Apakah saya ingin menjadi bagian dari masalah, atau bagian dari solusi?”
Karena hutan yang ramai tanpa sampah bukan mimpi. Itu pilihan. Dan pilihan itu ada di tangan kita. Sampai jumpa di touring berikutnya. (Drna67)



