Antara NTB Mendunia dan Kerusakan Infastruktur Jalan: Realitas Bima–Dompu di Persimpangan Harapan
Oleh: Alfikun – Ketua Umum Himasdom
Tagline “NTB Mendunia” bukan sekadar rangkaian kata yang indah didengar. Ia adalah janji, arah, sekaligus harapan kolektif tentang masa depan sebuah daerah yang ingin melampaui batas geografisnya. “Mendunia” berarti siap bersaing, siap dilihat, dan siap dinilai oleh dunia.
Namun, di antara euforia visi besar itu, terbentang realitas yang tak bisa dihindari, khususnya di wilayah Bima dan Dompu. yakni kerusakan infrastruktur jalan yang justru menjadi kebutuhan sehari-hari bagi masyarakat.
Di banyak titik jalur Bima–Dompu, jalan bukan lagi sekadar sarana penghubung, melainkan ujian kesabaran. Lubang-lubang yang menganga, permukaan aspal yang retak, hingga genangan air saat hujan seolah menjadi pemandangan yang biasa. Yang luar biasa justru ketahanan masyarakat yang setiap hari harus beradaptasi dengan kondisi tersebut.
Dalam konteks ini, “mendunia” terasa seperti konsep yang melayang diatas langit, sementara kaki masyarakat masih terjebak di jalan yang rusak.
Secara filosofis, jalan adalah simbol perjalanan peradaban. Ia mencerminkan sejauh mana sebuah daerah bergerak menuju kemajuan. Jalan yang baik menandakan arah yang jelas, sistem yang tertata, dan perhatian yang hadir. Sebaliknya, jalan yang rusak mencerminkan keterputusan, antara rencana dan pelaksanaan, antara janji dan realitas. Maka ketika jalan di Bima–Dompu dibiarkan dalam kondisi yang memprihatinkan, yang dipertaruhkan bukan hanya kenyamanan, tetapi juga makna dari pembangunan itu sendiri.
Ada ironi yang sulit diabaikan. Di satu sisi, pemerintah mengusung narasi globalisasi daerah, promosi pariwisata, dan peningkatan investasi. Namun di sisi lain, akses dasar yang menjadi fondasi justru rapuh. Bagaimana wisatawan akan datang dengan nyaman jika jalan menuju destinasi penuh risiko? Bagaimana distribusi hasil pertanian bisa efisien jika kendaraan harus melambat atau bahkan rusak di tengah perjalanan? Dalam logika sederhana, mustahil membangun puncak tanpa memperkuat dasar.
Kerusakan jalan di Bima–Dompu juga menyentuh dimensi keadilan sosial. Infrastruktur bukan hanya soal pembangunan fisik, tetapi juga distribusi kesejahteraan. Ketika suatu wilayah terus-menerus menghadapi kondisi jalan yang buruk, sementara wilayah lain berkembang lebih cepat, maka ketimpangan menjadi nyata.
Dalam hal ini, “NTB Mendunia” seharusnya tidak hanya dinikmati oleh sebagian wilayah, tetapi dirasakan secara merata, termasuk oleh masyarakat di Bima dan Dompu.
Dalam melihat realitas yang terjadi di Bima-Dompu, kita sebagai Organisasi Himpunan Mahasiswa Sukun Donggo Mataram (Himasdom) mengadakan Dialog Publik dengan tema; Antara NTB Mendunia Dan Realias Kerusakan Infastruktur Jalan Bima-Dompu.
Dalam Dialog Publik ini dihadiri oleh anggota DPR Provinsi dan juga Kepala Dinas PUPR NTB mereka menyampaikan bahwa untuk jalan yanga ada di kabupaten Bima-Dompu akan segera ditangani dengan perkiraan waktu Dua bulan kedepan, dengan demikian Ketua Himasdom (Alfikun Apriyanto) menegaskan Bahwa atas nasma kelembagaan dan masayrakat kita akan tetap kawal sampai jalan yang ada di Bma-Dompu itu diperbaiki dengan baik.
Lebih jauh lagi, kondisi ini mencerminkan kualitas tata kelola. Jalan yang cepat rusak sering kali bukan semata akibat faktor alam, tetapi juga berkaitan dengan perencanaan yang kurang matang, kualitas pengerjaan, hingga pengawasan yang lemah. Jika pola ini terus berulang, maka pembangunan hanya akan menjadi siklus tanpa kemajuan yang berarti. Tambal sulam tanpa solusi jangka panjang hanya akan memperpanjang masalah.
Dampak dari kerusakan jalan juga merambat ke berbagai aspek kehidupan. Secara ekonomi, biaya logistik meningkat, harga barang bisa lebih mahal, dan daya saing produk lokal menurun. Secara sosial, mobilitas masyarakat terganggu, akses ke layanan kesehatan dan pendidikan menjadi lebih sulit. Bahkan, dari sisi keselamatan, jalan yang rusak menjadi ancaman nyata bagi pengguna jalan. Setiap lubang bukan hanya kerusakan fisik, tetapi potensi kecelakaan yang bisa merenggut nyawa.
Namun, yang paling mengkhawatirkan adalah dampak psikologisnya. Ketika masyarakat terlalu lama hidup dalam kondisi infrastruktur yang buruk, muncul rasa terbiasa yang berbahaya—seolah kerusakan adalah hal yang wajar. Dari sini lahir sikap apatis, di mana harapan terhadap perubahan perlahan memudar. Padahal, pembangunan yang sejati bukan hanya membangun jalan, tetapi juga membangun keyakinan bahwa masa depan bisa lebih baik.
Dalam konteks ini, perlu ada keberanian untuk merefleksikan kembali makna “NTB Mendunia”. Mendunia bukan berarti melupakan persoalan lokal, tetapi justru menyelesaikannya dengan serius. Dunia tidak hanya melihat dari baliho, slogan, atau promosi digital, tetapi dari realitas di lapangan. Jalan yang baik di Bima–Dompu adalah bagian dari wajah NTB di mata dunia. Jika wajah itu retak, maka citra yang dibangun pun ikut tergerus.
Solusi tentu tidak cukup dengan retorika. Dibutuhkan komitmen nyata: perencanaan yang berbasis kebutuhan, alokasi anggaran yang tepat, kualitas pembangunan yang terjamin, serta pengawasan yang transparan. Selain itu, partisipasi masyarakat juga penting untuk memastikan bahwa pembangunan berjalan sesuai dengan kepentingan bersama. Jalan bukan milik pemerintah semata, tetapi milik semua orang yang melaluinya setiap hari.
Pada akhirnya, “NTB Mendunia” akan menemukan maknanya ketika ia berpijak pada kenyataan, bukan sekadar harapan. Bima dan Dompu bukan pinggiran dari cerita besar ini, melainkan bagian penting yang tidak boleh diabaikan. Jika jalan-jalan di sana diperbaiki dengan serius, maka bukan hanya kendaraan yang bergerak lebih lancar, tetapi juga kepercayaan, harapan, dan masa depan. Karena sejatinya, untuk sampai ke dunia, kita harus terlebih dahulu memastikan bahwa jalan di rumah kita sendiri sudah layak untuk dilalui. (*)



