Program INOVASI Latih 34 Pengawas di Bima-Dompu, Fokus Perbaiki Metode Pembelajaran Matematika
Mataram (NTBSatu) — Kemitraan Australia-Indonesia untuk Menuju Pendidikan Dasar yang Bermakna dan Inklusif (INOVASI) memperkuat kapasitas fasilitator numerasi di Kabupaten Bima dan Dompu. Program ini melibatkan 34 pengawas dan akademisi dalam pelatihan yang digelar pada Minggu, 19 April 2026.
Kegiatan ini bertujuan mereformasi pendekatan pembelajaran matematika di tingkat sekolah dasar. Fokusnya menggeser metode dari sekadar prosedural menjadi berbasis pemahaman konseptual, guna mengatasi stagnasi capaian belajar siswa di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Langkah tersebut diambil sebagai respons atas temuan di lapangan yang menunjukkan rendahnya performa matematika siswa tidak semata karena kemampuan murid, tetapi juga dipengaruhi praktik pengajaran yang belum optimal. Program ini menitikberatkan pada penguatan fondasi numerasi, seperti kepekaan bilangan (number sense), pemahaman nilai tempat, serta makna operasional dalam matematika.
Sekretaris Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dikpora) Kabupaten Bima, Fatahurahman, menegaskan pentingnya transformasi peran pengawas pendidikan. Menurutnya, pengawas tidak lagi hanya berfungsi sebagai supervisor administratif, melainkan harus menjadi fasilitator yang aktif mendampingi kualitas pembelajaran di sekolah.
“Kehadiran pengawas sebagai fasilitator menjadi kunci dalam mendorong perubahan praktik mengajar yang lebih sadar, sederhana, dan konsisten. Kami berharap pengawas dapat menjadi penggerak dalam menghadirkan pembelajaran matematika yang membangun penalaran dan kepercayaan diri murid, bukan sekadar mengikuti alur buku teks,” ujarnya.
Program ini juga melibatkan kolaborasi lintas lembaga. Sejumlah pakar dari Gerakan Nasional Pemberantasan Buta Matematika (Gernastastaka), seperti Setiawan Agung Wibowo dan Trimadona, turut memberikan materi.
Selain itu, Spesialis Solusi Digital dan Numerasi INOVASI Jakarta, Andika Dewantara, serta Koordinator Pendidikan INOVASI NTB, Ali Akrom, menyampaikan kerangka kebijakan yang terintegrasi dengan konsep Pembelajaran Bermakna.
Dari kalangan akademisi, Hikmah Ramdhani dari Program Studi PGSD Universitas Mataram hadir memperkuat aspek pedagogis. Para peserta dibekali kemampuan mendiagnosis hambatan belajar siswa serta merancang pembelajaran yang lebih personal dan adaptif.
Secara teknis, pelatihan ini menekankan pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning). Peserta didorong untuk membantu guru merefleksikan praktik mengajar yang selama ini cenderung berorientasi pada penyelesaian kurikulum, tanpa memastikan pemahaman konsep dasar siswa.
INOVASI menilai, tanpa perubahan di level fasilitator dan pengawas, kebijakan kurikulum baru akan sulit diimplementasikan secara efektif, terutama di daerah dengan kesenjangan sumber daya pendidikan yang masih tinggi.
Pasca pelatihan, para peserta dijadwalkan melakukan pendampingan langsung ke sekolah-sekolah di bawah naungan Dikbud dan Kemenag di Bima dan Dompu. Fokus awal adalah memonitor perubahan metode mengajar di kelas dasar, guna memastikan fondasi numerasi siswa terbentuk dengan baik.
Penyelenggara juga akan melakukan evaluasi berkala untuk mengukur dampak program terhadap peningkatan kemampuan numerasi di tingkat kabupaten. Inisiatif ini diharapkan menjadi bagian dari pergeseran paradigma pendidikan di NTB, dari sekadar pemenuhan jam pelajaran menuju penguasaan kompetensi dasar yang lebih bermakna dan inklusif. (*)



