STKIP Taman Siswa Bima Nahkodai Revitalisasi Pendidikan Karakter di 14 SD
Mataram (NTBSatu) — STKIP Taman Siswa Bima memimpin inisiatif revitalisasi pendidikan karakter di 14 sekolah dasar di Kabupaten Bima. Program ini dijalankan melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah, didukung BPMP NTB dan INOVASI NTB.
Program tersebut lahir dari kegelisahan atas kesenjangan antara capaian akademik dan pembentukan karakter siswa di sekolah. Selama ini, pendidikan karakter dinilai masih sebatas formalitas, seperti pembiasaan doa dan sopan santun, tanpa menyentuh aspek “karakter kinerja” seperti ketekunan, daya juang, dan efikasi diri.
Berdasarkan pemetaan awal tim STKIP bersama Dinas Dikbudpora Kabupaten Bima, ditemukan bahwa mayoritas sekolah masih memprioritaskan akademik. Sementara itu, nilai-nilai karakter belum sepenuhnya diinternalisasi, bahkan keteladanan dari lingkungan sekolah dinilai belum konsisten.
Program ini menggunakan pendekatan berbeda dengan mengadopsi Theory of Change (ToC) berbasis diagnostik partisipatif. Sekolah didorong melakukan refleksi internal untuk menentukan karakter prioritas sesuai kebutuhan masing-masing.
Koordinator Ekosistem Pendidikan INOVASI NTB, Lalu Ari Irawan, menekankan pentingnya penguatan ekosistem pendidikan secara menyeluruh.
“Kita sedang mempelajari dua fokus utama, penguatan pendidikan karakter dan strategi peningkatan mutu layanan sekolah yang berkelanjutan,” ujarnya.
Secara metodologis, program ini menggeser pendekatan dari instruktif menjadi berbasis budaya. Salah satu inovasi yang diterapkan adalah “Pohon Cinta”, media refleksi harian guru untuk menanamkan kesadaran karakter secara nyata dalam aktivitas belajar.
Ketua STKIP Taman Siswa Bima, Ibnu Khaldun Sudirman, menegaskan komitmen kampus dalam mendukung program ini.
“Dosen-dosen kami siap bertransformasi dalam pengembangan pendidikan karakter berbasis deep learning,” katanya.
Dari sisi kebijakan, Dinas Dikbudpora Kabupaten Bima berharap program ini menjadi dasar lahirnya kebijakan pendidikan yang lebih kuat. Kepala Bidang Pendidikan Dasar, Husnul Khatimah, menargetkan peningkatan mutu sekolah secara merata melalui penguatan karakter dan literasi numerasi.
Ke depan, tantangan terbesar terletak pada konsistensi pelaksanaan pascapendampingan. Dengan roadmap yang mencakup monitoring rutin mulai Mei 2026, program ini diharapkan mampu menghindari pola “program seremonial” yang berhenti di tengah jalan.
Jika berhasil, model di 14 sekolah ini berpotensi menjadi contoh nasional dalam penguatan pendidikan karakter berbasis kolaborasi daerah. (*)



