Opini

Revolusi Karakter di Akar Rumput, Menggeser Pendidikan Moral dari Seremonial ke Praktik Inti

Oleh: Dr. Ibnu Khaldun Sudirman – Ketua STKIP Taman Siswa Bima

Pendidikan karakter di Indonesia sering kali terjebak dalam labirin administratif dan upaya seremonial yang minim impak nyata pada perilaku siswa. Di Kabupaten Bima, sebuah inisiatif ambisius mulai membedah anomali ini dengan menyasar 14 sekolah dasar revitalisasi. Program penguatan pendidikan karakter ini bukan sekadar tambahan kurikulum. Melainkan upaya sistemik untuk menggeser paradigma pendidikan dari fokus akademik murni menuju keseimbangan karakter moral dan kinerja.

Data awal menunjukkan tantangan yang signifikan, meskipun sekolah-sekolah sasaran telah menjalankan rutinitas harian seperti doa bersama atau upacara, raport pendidikan karakter mereka masih berada dalam kategori “kuning” atau kurang optimal. Kesenjangan ini mengindikasikan bahwa pembiasaan yang ada selama ini belum bertransformasi menjadi budaya sekolah yang terintegrasi, terutama pada aspek karakter kinerja seperti ketekunan, dedikasi, dan kerja keras.

LPTK STKIP Taman Siswa Bima, bekerja sama dengan Dinas Dikbudpora Kabupaten Bima, Program INOVASI NTB, dan BPMP NTB, merancang intervensi yang berbasis data. Melalui rangkaian pemetaan yang dimulai sejak Maret 2026, ditemukan fakta bahwa pendidikan karakter selama ini cenderung bersifat satu arah. Guru dan kepala sekolah kerap menempatkan diri sebagai penginstruksi, bukan sebagai model perilaku (role model) yang menunjukkan nilai-nilai tersebut secara konsisten dalam interaksi harian.

Konteks global melalui laporan OECD dalam “Education 2030” menekankan bahwa kompetensi masa depan membutuhkan keseimbangan antara pengetahuan (knowledge), keterampilan (skills), serta sikap dan nilai (attitudes and values). Di tingkat lokal, temuan tim pemetaan pada 31 Maret 2026 memperlihatkan bahwa aspek “karakter kinerja” hampir sepenuhnya absen dari radar pendidik. Sekolah terlalu sibuk mengejar ketuntasan materi akademik sehingga abai pada pengembangan etos kerja siswa.

Untuk mengatasi hal tersebut, program ini mengadopsi pendekatan “Theory of Change” (ToC) yang dimulai dengan diagnostik partisipatif. Pada pertengahan April 2026, tim pengawas, kepala sekolah, dan akademisi melakukan studi banding ke Lombok Tengah dan Lombok Barat guna mempelajari praktik terbaik. Langkah ini krusial untuk memastikan bahwa strategi yang disusun tidak hanya teoritis, tetapi aplikatif terhadap dinamika sosial di lapangan.

Salah satu pilar utama dalam desain program ini adalah “internal reflection”. Sejak 9 Mei 2026, sekolah-sekolah diwajibkan melakukan refleksi berjenjang untuk menggali masalah dasar di lingkungan masing-masing. Alih-alih menerapkan satu set karakter yang seragam dari pusat, setiap sekolah didorong untuk menetapkan “karakter prioritas” yang paling relevan dengan kebutuhan siswanya, sehingga tercipta rasa kepemilikan (sense of ownership) yang kuat terhadap program tersebut.

Penekanannya, bahwa keberhasilan program ini akan sangat bergantung pada perubahan pola pikir pendidik. Karakter tidak bisa hanya diajarkan di kelas melalui ceramah, melainkan harus “ditularkan” melalui ekosistem yang mendukung. Hal ini mencakup perubahan cara guru memberikan umpan balik kepada siswa, cara kepala sekolah mengelola konflik, hingga cara sekolah melibatkan orang tua dalam memantau perkembangan perilaku anak.

Implikasi jangka panjang dari inisiatif ini sangat vital bagi daya saing daerah. Lulusan sekolah dasar yang memiliki karakter kinerja kuat, gigih menghadapi kesulitan dan jujur secara moral, akan menjadi modal sosial berharga bagi Bima dan NTB. Program ini menjadi pembuktian bahwa revitalisasi sekolah tidak boleh berhenti pada perbaikan fisik bangunan, melainkan harus menyentuh jiwa dari proses pendidikan itu sendiri.

Menatap ke depan, tantangan terbesar terletak pada konsistensi pasca-pendampingan. Keberhasilan 14 sekolah model ini diharapkan menjadi mercusuar bagi ribuan sekolah lainnya di Nusa Tenggara Barat. Transformasi pendidikan karakter dari slogan ke tindakan nyata adalah perjalanan panjang yang membutuhkan ketahanan, namun dengan mekanisme refleksi rutin dan data yang akurat, jalan menuju perbaikan mutu pembelajaran kian terbuka lebar. (*)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button