Sumbawa Barat

Dinas Perikanan KSB Gerakkan 58 Poklahsar Perkuat Industri Hilirisasi

Sumbawa Barat (NTBSatu) — Dinas Perikanan Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) memperkuat konsep hilirisasi dengan merangkul 58 Kelompok Pengolah dan Pemasar (Poklahsar). Langkah strategis ini menjadi bagian dari implementasi program unggulan “Sumbawa Barat Maju Luar Biasa” guna mendongkrak nilai tambah produk perikanan lokal.

Kepala Dinas Perikanan KSB, Agus Purnawan menjelaskan, keterlibatan puluhan kelompok binaan ini krusial untuk menjalankan mandat industri hilirisasi. Saat ini, pihaknya tengah melakukan klasifikasi ketat guna menentukan kelompok yang paling siap menjalankan produksi secara berkelanjutan.

“Ada 58 Poklahsar yang kami bina. Kami sedang memilah mana kelompok yang betul-betul aktif dan siap menjalankan hilirisasi, terutama untuk pengolahan komoditas ikan nila,” ujarnya kepada NTBSatu, Minggu 26 April 2026.

Fokus pada Olahan Ikan Nila

Pemilihan ikan nila sebagai komoditas utama hilirisasi didasari pertimbangan efisiensi biaya dan risiko yang lebih rendah. Asni menyebut para pembudidaya di KSB sudah terbiasa dengan komoditas ini. Sehingga Poklahsar tinggal mengolahnya menjadi produk turunan seperti abon dan bakso.

Harapannya, inovasi ini mampu memenuhi tingginya permintaan pasar. Termasuk suplai untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui Satuan Pelayanan Persiapan Gizi (SPPG) KSB di Bertong, Menala, hingga Air Suning.

“Permintaan pasar untuk abon dan bakso ikan sangat tinggi. Ke depan, melalui Poklahsar ini, kita ingin produk olahan perikanan KSB mampu bersaing di pasar modern dengan legalitas lengkap. Seperti BPOM dan sertifikasi halal,” tambahnya.

Dukungan Ketersediaan Bahan Baku

Agus Purnawan menegaskan, penguatan peran 58 Poklahsar ini harus mendapat dukungan ketersediaan stok yang stabil. Ia tengah memetakan sentra produksi agar pasokan bahan baku dari hulu ke hilir tetap terjaga.

Ia menargetkan penguatan produksi budidaya digenjot pada 2026. Sehingga saat hilirisasi berjalan masif di 2027, kelompok pengolah tidak terkendala bahan baku.

“Hilirisasi membutuhkan kelebihan stok. Kami sedang merumuskan rantai distribusinya, siapa yang membawa ke pasar dan siapa yang membawa ke unit pengolahan atau Poklahsar tadi. Program ini harus berjalan simultan dan berkesinambungan,” tegasnya.

Selain menyasar kebutuhan konsumsi lokal dan program gizi, Pemda menyiapkan hilirisasi yang berjalan dengan Poklahsar ini untuk memenuhi permintaan industri besar. Salah satunya suplai ikan segar untuk PT Amman Mineral Internasional (AMMAN). (Andini)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button