OpiniWARGA

Seabad NU: Ulama Berkarya, Umat Berdaya, Bangsa Terjaga

Oleh: Dr. Erlan Muliadi, M.Pd.I. – Dosen FTK UIN Mataram

Seratus tahun perjalanan Nahdlatul Ulama (NU) merupakan tonggak penting dalam sejarah keislaman dan kebangsaan Indonesia. Dalam satu abad tersebut, NU tidak hanya bertahan sebagai organisasi keagamaan, tetapi berkembang menjadi kekuatan sosial yang berpengaruh dalam membentuk watak Islam Indonesia yang moderat, inklusif, dan berakar kuat pada tradisi pesantren. Keberlangsungan NU hingga hari ini menunjukkan bahwa kekuatannya tidak semata terletak pada struktur organisasi, melainkan pada otoritas moral ulama dan kepercayaan sosial umat yang terbangun secara historis.

Sejak berdiri pada 1926, NU meneguhkan ajaran Ahlussunnah wal Jama‘ah sebagai fondasi teologis dan etika sosial. Prinsip tawasuth, tasamuh, tawazun, dan i‘tidal menjadi kerangka yang memungkinkan Islam tumbuh sejalan dengan realitas masyarakat majemuk. Corak keberagamaan ini membentuk sikap keislaman yang tidak ekstrem, tidak eksklusif, serta mampu menjembatani hubungan antara agama dan kebangsaan. Dalam kajian Islam Indonesia, menurut Azra karakter tersebut menjadi modal sosial penting bagi terpeliharanya harmoni nasional.

Kekuatan NU terutama terletak pada kesinambungan tradisi keilmuan pesantren. Pesantren berfungsi sebagai ruang reproduksi ulama sekaligus pusat pembentukan etika sosial umat. Melalui sistem sanad keilmuan, pengkajian kitab turats, serta forum bahtsul masail, NU memastikan bahwa otoritas keagamaan lahir melalui proses intelektual yang panjang dan bertanggung jawab. Tradisi ini menjadikan ulama tidak hanya sebagai penjaga teks, tetapi juga sebagai penafsir realitas sosial yang mampu merespons perubahan zaman secara bijaksana.

Dalam perkembangan pemikiran Islam Indonesia, NU turut memperkaya khazanah keilmuan melalui pendekatan fiqh sosial. Gagasan ini menempatkan kemaslahatan publik sebagai orientasi utama pemahaman hukum Islam. Sehingga dalam hal ini menurut Mahfudh agama tidak diposisikan semata sebagai seperangkat norma ritual, melainkan sebagai sumber nilai untuk menjawab problem kemiskinan, ketimpangan, dan ketidakadilan sosial. Melalui pendekatan tersebut, Islam hadir sebagai kekuatan transformatif yang membumi.

Pemberdayaan umat menjadi capaian penting NU selama satu abad. Jaringan pesantren, madrasah, sekolah, dan perguruan tinggi yang berafiliasi secara struktural maupun kultural dengan NU membentuk salah satu ekosistem pendidikan terbesar di Indonesia. Pendidikan NU tidak hanya berorientasi pada transmisi ilmu keagamaan, tetapi juga pembentukan karakter kebangsaan. Nilai toleransi, musyawarah, dan penghormatan terhadap perbedaan ditanamkan melalui praktik hidup kolektif sehari-hari.

1 2Laman berikutnya

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button