OpiniWARGA

Seabad NU: Ulama Berkarya, Umat Berdaya, Bangsa Terjaga

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pesantren tradisional, khususnya yang berafiliasi dengan NU, berperan signifikan dalam penguatan demokrasi dan kohesi sosial. Moderasi beragama tumbuh bukan melalui slogan, tetapi melalui pengalaman sosial yang terus-menerus. Dengan demikian Hefner menjelaskan bahwa pesantren NU relatif mampu membentengi santri dari ideologi keagamaan ekstrem dan puritanisme transnasional.

Kontribusi NU terhadap ketahanan bangsa juga tercermin dalam sikap kebangsaannya. Resolusi Jihad 1945 menegaskan bahwa pembelaan terhadap tanah air merupakan bagian dari tanggung jawab keagamaan. Dalam perjalanan selanjutnya, NU menerima Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai konsensus final. Sikap ini menurut Bruinessen menunjukkan kematangan teologis ulama dalam membaca relasi antara agama dan negara secara konstruktif.

Di tengah menguatnya politik identitas dan polarisasi sosial global, peran NU sebagai penjaga moderasi beragama menjadi semakin strategis. Islam yang tumbuh dari tradisi pesantren terbukti mampu menjadi kekuatan peneduh ruang publik. Moderasi tidak dipahami sebagai kompromi terhadap akidah, melainkan sebagai kemampuan menjaga keseimbangan antara keyakinan religius dan tanggung jawab kebangsaan.

Namun, peringatan satu abad NU juga menuntut refleksi yang jujur. Tantangan abad kedua berbeda dengan masa sebelumnya. Digitalisasi dakwah, kesenjangan mutu pendidikan antar-lembaga, regenerasi ulama, serta penguatan tata kelola organisasi menjadi agenda yang tidak dapat dihindari. Kebesaran sejarah akan kehilangan makna apabila tidak disertai kemampuan memperbaiki diri secara berkelanjutan.

Refleksi tersebut sejatinya merupakan tradisi intelektual NU itu sendiri. Sejarah panjang organisasi ini menunjukkan kemampuan beradaptasi tanpa kehilangan akar. Sebagaimana pernah ditegaskan Abdurrahman Wahid, kekuatan NU terletak pada kemampuannya berubah secara gradual melalui jalan kultural, bukan melalui pemutusan tradisi.

Seabad Nahdlatul Ulama pada akhirnya bukan sekadar perayaan usia, melainkan momentum meneguhkan kembali arah khidmah. Ulama terus berkarya menjaga integritas ilmu, umat diberdayakan melalui pendidikan yang membebaskan, dan bangsa dirawat melalui Islam yang moderat serta berkeadaban. Dengan modal sosial, kultural, dan intelektual yang dimilikinya, NU memiliki peluang besar untuk tetap menjadi jangkar moral Indonesia pada abad kedua perjalanannya. (*)

Laman sebelumnya 1 2

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button