Pendidikan

Akademisi Unram Mulai Perkuat Kesiapan Guru Sebelum Bahasa Inggris Jadi Mata Pelajaran Wajib SD

Mataram (NTBSatu) – Penerapan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib di sekolah dasar mulai tahun ajaran 2027/2028 tidak hanya menuntut kesiapan kurikulum dan peserta didik. Kesiapan guru menjadi salah satu tantangan yang perlu dipersiapkan sejak dini.

Regulasi tersebut ditegaskan melalui Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 13 Tahun 2025. Namun, perubahan kebijakan tidak serta-merta membuat seluruh guru sekolah dasar siap mengajarkan Bahasa Inggris.

Sebagian guru SD tidak memiliki latar belakang khusus Pendidikan Bahasa Inggris. Karena itu, mereka membutuhkan kesempatan untuk berlatih, sumber belajar yang dapat diakses secara berkelanjutan, serta ruang yang aman untuk membangun kepercayaan diri dalam menggunakan Bahasa Inggris di kelas.

IKLAN

Persoalan tersebut menjadi perhatian Akademisi Universitas Mataram (Unram) melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang digelar pada 21–22 Mei 2026 di SD Negeri 26 Mataram.

Kegiatan tersebut melibatkan guru dari sejumlah sekolah dasar yang tergabung dalam Gugus I Selaparang, Kota Mataram. Program ini sekaligus menjadi kontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goal (SDG) 4 atau Quality Education, khususnya dalam penguatan kompetensi guru dan perluasan akses pembelajaran Bahasa Inggris yang bermutu, inklusif, dan berkelanjutan.

Tim Akademisi Unram diketuai Dr. Khusnul Khotimah, S.Pd., M.Pd., dengan anggota Prof. Dr. H. Sudirman, M.A., Beta Rida Pasaribu, M.Pd., Darin Fadhilah, M.Pd., dan Siti Sumarti, M.Hum. Kegiatan tersebut juga melibatkan mahasiswa, Diana Putri.

IKLAN

Kolaborasi dosen dan mahasiswa ini diarahkan untuk mendekatkan pengetahuan akademik dengan kebutuhan nyata guru di sekolah.

Ketua Tim Akademisi Unram, Dr. Khusnul Khotimah menyampaikan, sebelum mengikuti pertemuan tatap muka, para peserta terlebih dahulu mengikuti kegiatan secara daring. Tahap tersebut memberikan gambaran awal mengenai kebijakan Bahasa Inggris di SD sekaligus arah program penguatan kapasitas guru.

Dalam workshop, materi tidak hanya membahas Bahasa Inggris secara teoritis. Para guru diajak mempraktikkan penggunaan bahasa sederhana yang dapat langsung diterapkan dalam rutinitas pembelajaran.

Mulai dari menyapa siswa, membuka pelajaran, meminta siswa membuka buku, membentuk kelompok, memeriksa pemahaman, memberikan pujian hingga menutup pembelajaran.

“Ungkapan sederhana seperti Good morning, everyone, Please open your book, Work with your partner, dan Excellent work menjadi bagian dari latihan,” katanya.

Bagi guru yang belum terbiasa menggunakan Bahasa Inggris di kelas, kemampuan menggunakan ungkapan sederhana secara konsisten dinilai dapat menjadi langkah awal membangun lingkungan belajar yang lebih akrab dengan Bahasa Inggris.

Konsep classroom language menjadi salah satu materi yang ditekankan. Guru tidak harus menunggu sampai fasih untuk mulai menggunakan Bahasa Inggris.

Penggunaan dapat dimulai dari satu atau dua ungkapan sederhana dalam rutinitas kelas. Seiring waktu, jumlah dan variasi ungkapan dapat ditambah sesuai kesiapan guru dan siswa.

“Selain kemampuan berbahasa, workshop juga membahas pendekatan Teaching English for Young Learners,” ujarnya.

Guru diajak memahami bahwa pembelajaran Bahasa Inggris bagi anak memiliki karakteristik berbeda dengan pembelajaran untuk orang dewasa. Anak dapat belajar melalui suara, gerak, gambar, permainan, cerita, pengulangan, dan interaksi.

Karena itu, peserta tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga diajak melihat bagaimana karakteristik anak memengaruhi pilihan bahasa, aktivitas, dan media pembelajaran.

Aspek kepercayaan diri guru juga menjadi perhatian. Kekhawatiran salah mengucapkan kata atau tidak mampu menjawab pertanyaan siswa dapat membuat guru enggan menggunakan Bahasa Inggris.

Pelatihan tersebut karena itu dirancang sebagai ruang untuk mencoba, berdiskusi, berlatih, dan belajar dari kesalahan.

Para guru juga diperkenalkan dengan LearningApps.org, sebuah platform yang dapat digunakan untuk membuat aktivitas pembelajaran interaktif. Di antaranya mencocokkan gambar dengan kosakata, menyusun kata menjadi kalimat, hingga membuat kuis sederhana.

Teknologi tersebut diperkenalkan bukan sekadar untuk membuat pembelajaran terlihat lebih modern, melainkan untuk membantu guru menciptakan aktivitas yang dapat meningkatkan keterlibatan siswa sekaligus memudahkan persiapan pembelajaran.

Tidak Berhenti di Workshop

Dr. Khusnul Khotimah menyadari pelatihan selama satu atau dua hari tidak cukup untuk memastikan perubahan praktik mengajar.

Karena itu, workshop tersebut ditempatkan sebagai tahap awal. Setelah mendapatkan penguatan mengenai Bahasa Inggris dasar, classroom language, pedagogi anak, dan teknologi pembelajaran, para guru direncanakan melanjutkan proses melalui praktik dan pendampingan di kelas masing-masing.

Tahap tersebut diharapkan dapat mempertemukan materi yang diperoleh selama workshop dengan kondisi nyata di sekolah, termasuk karakteristik siswa, waktu belajar, fasilitas, serta dinamika masing-masing kelas.

“Untuk menjaga agar proses belajar tidak berhenti setelah workshop, tim Akademisi Unram juga mengembangkan Google Sites Guru SD Siap Bahasa Inggris sebagai ruang belajar digital,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, platform tersebut menghimpun modul, panduan classroom language, video pembelajaran, bahan presentasi, contoh praktik, serta tautan menuju berbagai sumber belajar digital.

Melalui situs tersebut, guru dapat mengulang materi sesuai kebutuhan dan kecepatan belajar masing-masing. Guru juga dapat kembali melihat contoh ungkapan sebelum mengajar, meninjau aktivitas yang akan digunakan, dan mempersiapkan diri untuk praktik pembelajaran berikutnya.

Situs tersebut dapat diakses melalui Google Sites Guru SD Siap Bahasa Inggris di https://sites.google.com/staff.unram.ac.id/guru-sd-siap-bahasa-inggris/home.

Inisiatif Akademisi Unram bersama guru-guru Gugus I Selaparang ini menjadi langkah awal dalam mempersiapkan tenaga pendidik menghadapi penerapan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib di SD.

Upaya tersebut juga membuka peluang kolaborasi yang lebih luas antara akademisi Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Mataram maupun perguruan tinggi lain di NTB dengan sekolah.

Kolaborasi dapat diarahkan pada pengembangan materi, peningkatan kemampuan berbahasa guru, pembuatan media digital, pendampingan praktik mengajar, hingga pembentukan komunitas belajar antarsekolah.

Dengan tahun ajaran 2027/2028 yang semakin mendekat, kesiapan guru menjadi bagian penting yang perlu dipersiapkan sejak sekarang.

Dari SD Negeri 26 Mataram, proses tersebut telah dimulai melalui pelatihan, praktik, dan penyediaan ruang belajar digital agar guru tidak harus menghadapi perubahan kebijakan tersebut sendirian. (*)

Artikel Terkait