Lombok Barat

Tinggal Dekat Bendungan Meninting, Warga Bukittinggi Justru Kekeringan

Lombok Barat (NTBSatu) – Kekeringan melanda wilayah Desa Bukittinggi, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat, NTB. Ironisnya, desa tersebut berada di kawasan lingkar bendungan Meninting.

Kepala Desa Bukittinggi, Ahmad Muttakin mengatakan, kondisi kekeringan semakin terasa dalam lima bulan terakhir. Menurutnya, meski desanya masuk daerah lingkar bendungan, tapi mereka tetap kekurangan air.

“Meskipun kami di lingkar bendungan, tapi bisa tidak dapat air, memang itu lumrah,” kata Ahmad kepada NTBSatu, Selasa, 22 September 2026.

IKLAN

Ia menjelaskan, sumber air warga Bukittinggi berbeda dengan sumber air bendungan. Posisi bendungan justru berada di bawah lembah wilayah Bukittinggi. Karena itu, warga tidak mendapat air langsung dari bendungan.

“Karena bendungan ini ada di bawah di lembah. Jadi kita pemanfaatan air untuk masyarakat semua itu bukan dari bendungan tapi dari hulunya bendungan,” ujarnya.

Debit Air Hulu Mulai Kurang

Masalah muncul ketika debit air dari kawasan hulu mulai menurun. Ahmad mengatakan, kondisi hutan dan sungai di bagian atas kini mengalami penurunan debit.

IKLAN

“Memang hutan atau sungai-sungai di atas itu airnya agak kurang sekarang, debitnya kurang,” katanya.

Kekeringan terparah melanda Dusun Bukit Tinggi dan Tunjang Polak. Ahmad menyebut, Tunjang Polak mengalami kondisi paling parah. Wilayah tersebut berada di bagian paling bawah Desa Bukittinggi.

“Yang paling parah itu adalah Tunjang Polak karena dusun yang paling bawah di wilayah desa Bukit Tinggi,” ujarnya.

Ahmad memperkirakan, sekitar 370 Kartu Keluarga (KK) terdampak di wilayah tersebut. Secara keseluruhan, sekitar 600 KK terdampak kekeringan di Bukit Tinggi dan Tunjang Polak.

Selain itu, Camat Gunungsari, Zulkifli, juga membenarkan dampak kekeringan tersebut. Ia menyebut, warga Bukit Tinggi yang terdampak mencapai ratusan KK.

“Yang di Bukit Tinggi itu ratusan KK,” kata Zulkifli kepada NTBSatu beberapa waktu lalu.

Pemerintah kecamatan Gunungsari juga mencatat wilayah lain mengalami kondisi serupa. Kekeringan turut menyentuh wilayah Guntur Macan dan Bukit Korea. Namun, jumlah warga terdampak di Bukit Korea belum mencapai 100 orang.

Warga Bertahan dari Bantuan Air

Zulkifli juga mengatakan, pemerintah sudah menurunkan tim untuk mengirim air. Dukungan distribusi melibatkan banyak stakeholder. Menurut Zulkifli, bantuan air sudah beberapa kali masuk ke wilayah terdampak.

“Rata-rata di lokasi itu hampir dua kali,” ujarnya.

Namun, distribusi tersebut tidak berlangsung setiap hari. Karena itu, warga harus mengatur persediaan air untuk memenuhi kebutuhan harian.

“Stok airnya itu yang sudah mereka punya adalah stok untuk air minum,” kata Zulkifli.

Untuk kebutuhan mandi, sebagian warga masih mengandalkan sumber air lain. Warga bahkan mengaku harus ke saluran bendungan agar bisa mandi. “Masih ada ke kali di Bendungan Meninting,” ujarnya.

Ahmad berharap, pemerintah membantu mencari solusi jangka panjang. Salah satu usulannya ialah memindahkan titik pengambilan mata air. Ia menilai, perubahan jalur perpipaan dapat mengurangi beban satu sumber air.

“Perpipaan pemindahan mata airnya dari arah pengambilan mata air itu kita pindah ke lain tempat,” katanya.

Pemerintah Desa Bukittinggi juga menyiapkan langkah menghadapi kekeringan berikutnya. Ahmad menyebut rencana tersebut mencakup penyediaan mesin untuk penanganan kekeringan.

“Kami akan upayakan untuk pengadaan mesin air agar bisa menyedot air,” tutup Ahmad. (*)

Khazani Darunnafis

Khazani atau Zani adalah Jurnalis NTBSatu yang fokus menulis di isu Daerah Lombok Barat, Politik, Kebencanaan dan Human Interest. Ia merupakan lulusan Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Mataram dengan Konsentrasi Jurnalistik.

Artikel Terkait