Internasional

Media Meksiko Soroti Kasus Dugaan Pelecehan Seksual di Pesantren Lombok Tengah

Mataram (NTBSatu) – Kasus dugaan pelecehan seksual di lingkungan pondok pesantren di Lombok Tengah, NTB, mendapat perhatian media internasional.

Portal media asal Chihuahua, Meksiko, ZOLO Noticias, menyoroti keberanian para alumni dalam membongkar dugaan kejahatan seksual yang melibatkan pimpinan pesantren mereka.

Dalam media tersebut menampilkan percakapan Yusron saat menerima panggilan telepon dari mantan pimpinannya yang meminta agar merahasiakan kasus tersebut.

IKLAN

“Saya tahu persis apa yang ingin dia bicarakan,” kata Yusron, mengutip zolonoticias.com pada Selasa, 22 September 2026.

Yusron merekam pembicaraan telepon itu ketika Abah memohon agar ia menutup penutup aib sang guru.

Sorotan Media Luar Negeri

Laporan ZOLO Noticias yang terbit pada Sabtu, 19 September 2026 mengungkapkan perjuangan dua alumni bernama Zia dan Yusron dalam mengumpulkan bukti serta kesaksian korban.

IKLAN

Pemberitaan media Amerika Latin ini menegaskan persoalan kekerasan seksual di institusi pendidikan keagamaan di Indonesia kini menjadi perhatian global.

Penyelidikan mandiri para alumni ini bermula ketika Ziadatur Rahmah (Zia) menceritakan pengalaman pahitnya kepada Yusron. Ia mengaku mengalami pelecehan seksual oleh Abah saat masih berusia 16 tahun.

“Saya merasa sangat kotor, hancur, dan kehilangan arah,” ungkap Zia menceritakan peristiwa saat Abah sapaan akrab pimpinan ponpes, mencegatnya di area taman sekolah lalu membawanya ke rumah pelaku.

Gerakan Alumni

Kesaksian Zia mendorong Yusron untuk bergerak. Bersama rekan alumni lainnya, Wanda Hamidah dan Mahima Eka, mereka mulai mengumpulkan kesaksian dari mantan santri lain yang mengalami perlakuan serupa.

Upaya tersebut membuahkan hasil. Satu per satu cerita dari para alumni mulai bermunculan dan membongkar pola kejahatan berulang yang tersembunyi selama bertahun-tahun di lingkungan lembaga pendidikan tersebut.

Dalam laporan yang sama, ZOLO Noticias mengutip data Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan). Mereka juga menyebut kekerasan seksual di lembaga pendidikan Islam di Indonesia telah memasuki tahap darurat nasional. Meski demikian, banyak kasus tidak pernah sampai ke ranah hukum.

Tekanan sosial sering kali memaksa para korban menarik laporan atau memilih bungkam. Keberanian Zia, Yusron, dan rekan-rekannya meruntuhkan tembok pembungkaman tersebut.

Langkah mereka kini menjadi simbol perlawanan dalam memperjuangkan keadilan di tengah sistem yang cenderung memojokkan kelompok rentan. (*)

Artikel Terkait