Trump Sebut Dirinya Bisa Jadi PM Israel Usai Dikabarkan Cekcok dengan Netanyahu
Jakarta (NTBSatu) – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump berkelakar ia bisa saja menjadi Perdana Menteri (PM) Israel berikutnya menggantikan sekutunya, Benjamin Netanyahu.
Pernyataan itu Trump sampaikan saat berbicara kepada wartawan dalam momen wisuda Akademi Penjaga Pantai AS, Rabu, 20 Mei 2026. Dalam kesempatan tersebut, Trump mengklaim, memiliki tingkat popularitas yang sangat tinggi di Israel.
Ia bahkan menyebut, tingkat penerimaan publik terhadapnya di Israel mencapai 99 persen. Berdasarkan klaim itu, Trump kemudian berseloroh dapat mencalonkan diri sebagai perdana menteri Israel.
“Jadi mungkin setelah ini, saya akan pergi ke Israel dan mencalonkan diri sebagai perdana menteri,” ujar Trump, mengutip USA TODAY, Kamis, 21 Mei 2026.
“Saya mendapat hasil jajak pendapat pagi ini. Angka saya 99 persen, jadi itu bagus,” tambahnya.
Namun, ia tidak menjelaskan jajak pendapat mana yang dimaksud. Gedung Putih juga belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar dari USA TODAY terkait klaim tersebut.
Netanyahu sendiri saat ini masih menjabat sebagai Perdana Menteri Israel dan telah memimpin negara itu dalam beberapa periode sejak 1996.
Sebagai informasi, Trump selama ini menjadi pendukung kuat Netanyahu. Terutama, di tengah hubungan erat AS dan Israel dalam perang yang sedang berlangsung melawan Iran.
Mengenai komunikasinya dengan Netanyahu terkait situasi perang Iran, Trump memberikan pujian kepada pemimpin Israel tersebut.
“Dia baik-baik saja, orang yang sangat baik. Dia akan melakukan apa pun yang saya inginkan. Dan dia pria hebat. Bagi saya, dia pria yang hebat,” kata Trump.
Sempat Terlibat Cekcok
Pernyataan itu muncul di tengah laporan sejumlah media. Termasuk Axios dan media Israel Channel 12 yang menyebut, Trump dan Netanyahu sempat terlibat cekcok melalui sambungan telepon terkait Iran.
Kedua pemimpin sama-sama frustrasi menghadapi Iran. Trump disebut berupaya mendorong Teheran menyepakati perundingan, guna mengakhiri perang yang dinilai meleset dari tujuan awal Washington.
Di sisi lain, Netanyahu dilaporkan menginginkan Trump tetap melanjutkan operasi militer terhadap Iran dan melancarkan serangan baru ke Teheran.
Kelakar Trump mengenai kemungkinan menjadi perdana menteri Israel itu juga ia sampaikan, sehari setelah mengaku sedang mempertimbangkan “serangan besar lainnya terhadap Iran”.
Sebelumnya, dua hari lalu Trump juga mengatakan, sempat menunda kemungkinan serangan karena adanya kemajuan menuju kesepakatan untuk mengakhiri konflik.
“Jangan lupa, Netanyahu adalah perdana menteri di masa perang. Dan menurut saya dia tidak diperlakukan dengan baik di Israel. Tetapi ya, dia adalah perdana menteri di masa perang dan saya rasa mereka tidak memperlakukannya dengan baik,” tambah Trump.
Meski demikian, Trump tidak mengungkap lebih jauh pembicaraannya dengan Netanyahu terkait Iran dalam keterangannya kepada wartawan. (*)




