Lombok Barat

‎Pasar Seni Senggigi Sepi Pengunjung, Pedagang Keluhkan Wisatawan Kian Menurun

Lombok Barat (NTBSatu) – Kondisi Pasar Seni Senggigi, Lombok Barat, kini jauh berbeda daripada masa kejayaannya puluhan tahun lalu. Di tengah upaya pemerintah menghidupkan kembali pariwisata Senggigi, para pelaku wisata justru mengeluhkan minimnya kunjungan wisatawan ke kawasan pasar seni tersebut.

Bahkan, jumlah pedagang disebut lebih banyak daripada pengunjung yang datang setiap hari. Salah seorang pelaku wisata di Pasar Seni Senggigi, Mas’ud mengungkapkan, aktivitas pengunjung saat ini sangat sepi. Terutama, pada pagi hingga siang hari.

“Kalau pengunjung nggak terlalu banyak sebenarnya, sekitar 10 motor paling sore hari. Kalau pagi sampai siang cuma satu-dua orang, itu pun jarang-jarang,” ujarnya kepada NTBSatu, Kamis, 7 Mei 2026.

IKLAN

Menurutnya, keramaian hanya terjadi menjelang sore, itu pun didominasi wisatawan lokal, khususnya anak muda dari Kota Mataram yang datang menikmati suasana sunset di Senggigi. Sementara itu, wisatawan mancanegara sudah jarang menjadikan Senggigi sebagai destinasi utama.

“Sekarang wisatawan asing itu tergantung guide-nya juga. Kalau nggak dibawa ke sini ya sepi. Karena sekarang tujuan utama mereka lebih banyak ke Mandalika,” katanya.

Ia menjelaskan, Senggigi biasanya baru merasakan dampak lonjakan wisatawan ketika hotel-hotel di Mandalika dan Mataram mulai penuh. Terutama, saat event besar seperti MotoGP berlangsung.

Persaingan Harga antar Pedagang

Di sisi lain, pedagang di Pasar Seni Senggigi juga menghadapi persoalan persaingan harga dengan pedagang di luar kawasan pasar. Banyak wisatawan lebih memilih membeli barang di luar karena dianggap lebih murah.

“Mana lebih banyak pedagang daripada pengunjung sekarang. Pengunjung juga biasanya beli di luar karena dianggap lebih murah,” keluhnya.

Padahal, menurut Mas’ud, harga di dalam kawasan pasar lebih tinggi karena pedagang harus menanggung berbagai biaya operasional seperti sewa tempat, air, hingga pengelolaan sampah. Ia juga menilai, menurunnya daya tarik Senggigi tidak lepas dari hilangnya berbagai atraksi budaya yang dulu rutin.

“Dulu tahun 1994-1995 masih ramai karena banyak atraksi kayak gendang beleq, gamelan, kecimol. Sekarang rata-rata sudah nggak ada,” ujarnya.

Meski demikian, optimisme terhadap kebangkitan Senggigi masih disampaikan pemerintah desa. Kepala Desa Senggigi, Mastur sebelumnya menyebut, tren kunjungan wisatawan mulai membaik dengan tingkat hunian hotel yang meningkat hingga 80 persen pada periode tertentu.

“Senggigi ini lumbung padinya Lombok Barat. Kalau pajak di sini meningkat, otomatis desa-desa lain juga akan merasakan,” katanya beberapa waktu yang lalu.

Pemkab Lombok Barat sendiri disebut tengah menyiapkan berbagai program penataan kawasan wisata Senggigi. Mulai dari pembangunan jogging track hingga penguatan atraksi wisata, untuk menghidupkan kembali kawasan yang pernah menjadi ikon pariwisata NTB tersebut. (Zani)

Artikel Terkait

Back to top button