Jangan Tambal Sendiri, PUPR Minta Warga Laporkan Jalanan Rusak ke Mataram Siaga
Mataram (NTBSatu) – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Mataram mengimbau warga melaporkan jalan rusak melalui Mataram Siaga, atau kepada lurah dan kepala lingkungan.
Hal ini menanggapi viralnya video warga menambal jalan berlubang di Jalan Gajah Mada, tepatnya di depan UIN Mataram.
Dalam video yang beredar, sejumlah warga menambal lubang di Jalan Gajah Mada dan Perumahan Grand Kodya dengan material seadanya.
Mereka menggali bagian yang rusak, mengisi lubang, lalu meratakan permukaannya. Warga mengaku memperbaiki jalan secara swadaya karena khawatir membahayakan pengendara.
Kepala Dinas PUPR Kota Mataram, Lale Widiahning mengatakan, pihaknya belum menerima laporan terkait kerusakan jalan tersebut. Karena itu, tim belum turun melakukan perbaikan.
“Kami sudah memiliki tim Mataram Siaga yang siap beraksi bersama kepolisian dan Balai Jalan. Namun, jika tidak ada informasi yang masuk dari lingkungan, baik dari kaling maupun lurah, kami tidak dapat mengetahui kondisi di lapangan,” katanya, Selasa, 4 Agustus 2026.
Lale menjelaskan, setiap laporan jalan rusak masuk melalui sistem Mataram Siaga dan menjadi dasar penanganan. Menurutnya, laporan dari warga, lurah, atau kepala lingkungan akan langsung ditindaklanjuti tim di lapangan.
“Kami menghargai kepedulian warga. Namun, kami berharap kerusakan jalan melalui Mataram Siaga atau kepada lurah agar bisa segera kami tindak lanjuti,” ujarnya.
Ia menambahkan, Dinas PUPR telah menyiapkan material dan petugas untuk pemeliharaan jalan. Penanganan akan dilakukan sesuai tingkat kerusakan setelah laporan diterima. “Begitu ada laporan, tim langsung turun ke lokasi,” tukasnya.
Penyebab Kerusakan Jalan
Menurut Lale, pemicu kerusakan jalan di Kota Mataram adalah kendaraan bertonase besar yang melintas di jalan dengan spesifikasi aspal untuk jalan kota. Padahal, jenis aspal jalan kota berbeda dengan jalan nasional.
“Kalau kita mau jujur, klasifikasi jalan itu kan ada. Kalau jalan kota itu sebenarnya tronton, truk besar, fuso nggak boleh lewat banyak di situ. Karena jenis aspal kita berbeda dengan jalan nasional,” terangnya.
Ia mencontohkan Jalan TGH Faesal di wilayah Sweta yang kerap rusak meski sudah beberapa kali penanganan. Aktivitas kendaraan berat menuju gudang semen menjadi salah satu penyebab utama.
“Begitu selesai perbaikan lalu rusak, karena apa? Kan disana ada gudang semen, bayangkan saja kalau gudang semen itu bawa berapa ton sekali muat. Itu yang membuat jalan kita cepat rusak,” ujarnya.
Pihaknya sering kali melakukan tambal sulam beberapa lokasi. Antara lain Jalan Lingkar Selatan, Dasan Cermen, Sandubaya. Ruas jalan tersebut kembali berlubang akibat tingginya intensitas truk besar yang melintas setiap hari. (*)




