Kota Mataram

Dulu Ramai Kini Sepi, Pedagang Pasar Mandalika ‘Hijrah’ ke Pasar Swasta

Mataram (NTBSatu) — Aktivitas perdagangan di Pasar Mandalika, Bertais, Kota Mataram mengalami penurunan yang cukup signifikan akhir-akhir ini.

Sbraha pasar induk, Mandalika dulunya sebagai salah satu pusat aktivitas ekonomi yang sangat ramai. Kini justru tampak sepi setelah ditinggal oleh mayoritas pedagangnya.

Para pedagang tersebut memilih untuk ‘hijrah’ dan beralih berjualan ke pasar swasta. Salah satunya Pasar PT Pade Angen, karena kenyamanan dan infrastruktur yang lebih memadai.

IKLAN

Kepala Pasar Mandalika, Ahmad Amin mengungkapkan, berdasarkan data yang ada, sebenarnya terdapat sekitar 800-an pedagang yang terdaftar di pasar tersebut.

Namun, ketidaksesuaian fasilitas meja beton yang pemerintah bangun menjadi pemicu utama eksodusnya para pedagang.

“Jumlah pedagang kami sebenarnya yang terdata 800-an. Cuma karena tidak sesuai dengan meja beton ini yang dibuat oleh pemerintah, jadi pedagang saya banyak lari berjualan ke pasar sebelah,” kata Ahmad Amin, Minggu, 5 Juli 2026.

IKLAN

Amin, yang baru tiga bulan mengemban tugas sebagai pengelola di Pasar Mandalika, menceritakan, berdasarkan sejarahnya, pasar ini memiliki rekam jejak yang sangat aktif dan ramai pembeli. Ia berharap, pemerintah daerah mau mendengar keluhan para pedagang dan segera melakukan perbaikan fasilitas.

“Harapan kami ke depannya, kalau bisa pemerintah memikirkan kembali, merenovasi meja beton ini supaya kembali pasar ini jadi ramai. Yang dulunya saya dengar history pasar ini sangat ramai sekali sebelum saya di sini,” tutur Ahmad Amin.

“Harapan kami agar pemerintah kembali memikirkan meja beton ini. Agar ada renovasi atau perbaiakn kembali sesuai dengan harapan para pedagang yang ada di Pasar Mandalika,” tambahnya.

Lebih lanjut, Ahmad Amin menjelaskan, sepinya pasar saat ini juga berdampak langsung pada iklim ekonomi di dalam pasar yang kian merosot.

“Kalau perekonomiannya, jujur saja agak menurun. Menurun dengan kondisi saat ini,” jelasnya.

Retribusi Pasar untuk PAD Kota Mataram

Terkait dengan biaya operasional, pihak pengelola menegaskan biaya sewa tempat tidaklah mahal. Hanya ada kewajiban membayar retribusi harian dan sewa ruang bagi yang menggunakan fasilitas tersebut.

Tarif ini merupakan aturan seragam yang berlaku di seluruh pasar di Kota Mataram.

Untuk Retribusi Harian, tarif sebesar Rp1.000 per meter persegi setiap harinya. Sedangkan sewa ruang ada biaya bulanan sebesar Rp4.000 per meter persegi.

Meskipun kondisi pasar sedang sepi, komitmen dalam penegakan retribusi tetap berjalan. Setiap harinya, juru pungut pasar berhasil mengumpulkan pendapatan retribusi hingga mencapai Rp2,5 juta.

Seluruh hasil penarikan retribusi harian tersebut kemudian langsung ia setorkan secara disiplin untuk masuk ke kantong kas Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Mataram. (*)

Artikel Terkait