AdvertorialPendidikan

STKIP Tamsis Bima Ikut Merancang Pilot Penguatan Berpikir Kritis dan Inferensial

Bima (NTBSatu) – STKIP Taman Siswa (Tamsis) Bima turut mengambil bagian dalam perancangan Pilot Penguatan Kemampuan Berpikir Kritis dan Inferensial untuk Pemahaman Bacaan.

Keterlibatan tersebut hadir melalui dua dosen, Ahyar, M.Pd. dan Anisah, M.Pd., dalam Workshop Persiapan Pilot yang berlangsung di Hotel Trembesi Serpong, Tangerang City, pada 11–12 Juni 2026.

Workshop tersebut mempertemukan 31 peserta dari berbagai unsur pendidikan. Peserta berasal dari Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) serta Direktorat Sekolah Dasar Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Selain itu BBGTK Jawa Barat, Direktorat GTK Madrasah, Pusat Pengembangan Kompetensi (Pusbangkom) Kementerian Agama RI, LPTK dari NTB, Maluku, dan Jawa Barat, serta tim INOVASI.

IKLAN

Forum tersebut membahas cara memperkuat kemampuan anak dalam memahami bacaan, terutama kemampuan membaca informasi tersurat sekaligus menangkap makna tersirat. Para peserta tidak hanya mendengarkan pemaparan, tetapi turut memberikan pengalaman dan masukan berdasarkan konteks pendidikan masing-masing daerah.

“Waktu itu kami belum tahu persis akan seperti apa hasil akhirnya. Yang kami tahu, semua yang hadir diminta bicara, memberi masukan, membagi pengalaman dari daerah masing-masing. Tidak ada yang datang sebagai penonton,” kata Ahyar, Kamis, 20 Agustus 2026.

Bahas Cara Anak Membaca dan Menalar

Anisah mengatakan, salah satu pembahasan penting dalam workshop berkaitan dengan kemampuan anak memahami pesan yang tidak tertulis secara langsung dalam teks.

IKLAN

“Kami banyak bicara tentang bagaimana anak-anak sebenarnya bisa memahami bacaan bukan hanya dari apa yang tertulis, tapi dari apa yang tersirat di baliknya. Itu bagian yang menurut saya paling menantang untuk dirancang, karena setiap daerah punya karakter anak dan bahan bacaan yang berbeda-beda,” ujarnya.

Diskusi kemudian berkembang pada dua kemampuan utama, yakni berpikir kritis dan berpikir inferensial. Peserta membahas cara agar siswa mampu menghubungkan informasi, menggunakan bukti, mengajukan pertanyaan, memberikan alasan, berdialog, hingga menarik kesimpulan secara logis.

Pembahasan juga mempertimbangkan kondisi nyata dalam proses pembelajaran. Dengan cara tersebut, rancangan pilot tidak hanya mengutamakan konsep, tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan guru dan karakter peserta didik pada wilayah sasaran.

Para peserta selanjutnya menyusun sejumlah komponen teknis program. Materi tersebut mencakup desain monitoring dan evaluasi, baseline dan endline, serta indikator keberhasilan. Selain itu, ada metode pengumpulan data, desain pelatihan, strategi implementasi, serta dukungan setelah pilot berjalan.

Turut Menyusun Blueprint Program

Ahyar menilai, penyusunan indikator dan monitoring-evaluasi penting karena peserta harus membayangkan penerapan program secara nyata dalam pembelajaran.

“Bagian yang paling melelahkan sekaligus paling penting justru di sesi merumuskan indikator dan mekanisme monitoring-evaluasi. Di situ kami dipaksa membayangkan program ini benar-benar berjalan di kelas, bukan sekadar konsep di atas kertas,” katanya.

Rangkaian diskusi menghasilkan blueprint atau kerangka besar Pilot Program dalam bentuk Theory of Change (ToC). Kerangka tersebut memuat hubungan antara persoalan, intervensi, tahapan pelaksanaan, keluaran, hingga perubahan yang ingin dicapai pada peserta didik.

Proses tersebut kemudian berlanjut melalui Training of Facilitators (ToF) di Bekasi pada 19–22 Agustus 2026. Ahyar dan Anisah kembali mengikuti kegiatan tersebut sebagai calon fasilitator.

“Waktu di Serpong, kami merumuskan apa yang ingin dicapai dan mengapa itu penting. Baru di Bekasi kemudian dibahas bagaimana caranya, siapa yang mendampingi, dan seperti apa langkah teknisnya di lapangan. Dua kegiatan ini sebenarnya satu napas yang sama, hanya beda tahap,” kata Anisah.

Keterlibatan STKIP Taman Siswa Bima dalam rangkaian tersebut menunjukkan kontribusi perguruan tinggi dalam pengembangan pembelajaran berbasis penalaran. Program ini menargetkan kemampuan peserta didik agar mampu membaca secara lebih mendalam, mengolah informasi, serta membangun kesimpulan berdasarkan alasan dan bukti. (*)

Atim Laili

Jurnalis NTBSatu

Artikel Terkait