Pengelola Aik Bukak Keluhkan Nihil Dana Operasional, Dispar Sebut Terdampak Efisiensi Anggaran
Lombok Tengah (NTBSatu) – Pengelola Taman Wisata Aik Bukak mengeluhkan tidak adanya alokasi dana operasional dari Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah untuk mendukung pengelolaan destinasi tersebut.
Ketua Pengelola Wisata Aik Bukak, Rusdiono mengatakan, hingga saat ini pengelola masih mengandalkan swadaya untuk membiayai kebutuhan operasional dan perawatan kawasan wisata.
“Biaya operasional dari Pemda nol. Sampai detik ini belum ada,” kata Rusdiono kepada NTBSatu, Jumat, 5 Juni 2026.
Menurutnya, berbagai kebutuhan perawatan, mulai dari kebersihan hingga perbaikan fasilitas yang rusak, selama ini ditangani secara mandiri oleh pengelola.
Padahal, kawasan wisata ini memiliki luas lebih dari lima hektare. Tentunya membutuhkan biaya pemeliharaan yang tidak sedikit.
“Kami siasati sendiri. Ada hasil sawah dan sumber lain yang bisa kami manfaatkan untuk membeli sapu, sikat, dan kebutuhan perawatan lainnya,” ujarnya.
Rusdiono menuturkan, pengelola tetap berupaya menjaga kondisi kawasan wisata. Tujuannya, agar tetap bersih dan nyaman bagi pengunjung meski dengan keterbatasan anggaran.
Tanggapan Dinas Pariwisata
Menanggapi hal tersebut, Kepala Bidang Destinasi Pariwisata, Dinas Pariwisata (Dispar) Lombok Tengah, Zamzuri membenarkan belum adanya alokasi dana operasional khusus untuk Aik Bukak.
Ia mengatakan, pihaknya telah mengusulkan anggaran operasional selama beberapa tahun terakhir. Namun, usulan tersebut belum terealisasi karena keterbatasan anggaran daerah.
“Sudah kami usulkan, paling tidak Rp5 juta sampai Rp10 juta per bulan untuk operasional dan perawatan kawasan, tetapi belum ada,” katanya.
Menurut Zamzuri, efisiensi anggaran menjadi salah satu faktor yang menyebabkan belum terakomodirnya usulan tersebut.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Lombok Tengah, Lalu Muhammad Hatta mengatakan, pihaknya akan kembali mengupayakan anggaran operasional pada perubahan APBD maupun tahun anggaran berikutnya.
Selain itu, Dinas Pariwisata juga membuka peluang dukungan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR). Termasuk dari PDAM untuk membantu penataan sistem pengelolaan air di kawasan wisata.
“Pada perubahan anggaran ini mudah-mudahan bisa kami upayakan lagi. Kami juga akan mencoba mencari dukungan CSR,” ujar Hatta.
Menurutnya, dukungan anggaran operasional penting agar pengelolaan Aik Bukak semakin optimal dan mampu bersaing dengan destinasi wisata serupa yang terus berkembang di Lombok Tengah. (*)




