Solusi Lahan Sempit, Kelurahan Pejeruk Maksimalkan Lubang Biopori
Mataram (NTBSatu) – Inovasi lubang biopori Kelurahan Pejeruk bekerjasama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram dalam mengatasi masalah sampah dapur dan genangan air.
Lurah Pejeruk, Lalu Bagus Afriadi memilih program yang cocok dengan kebutuhan wilayah. Kerja sama ini membuahkan hasil yang positif bagi warga setempat.
“Selain menjalankan program Pemkot, kami bekerjasama dengan DLH untuk berdiskusi. Akhirnya kita pakai biopori sebagai solusi,” jelasnya pada NTBSatu, Kamis, 4 Juni 2026.
Ia mengatakan, kelurahan telah menerapkan metode biopori secara massal. “Agar bisa mengelola sampah dari rumah, pada tahap pertama, kita menanam 60 lubang biopori. sekarang program memasuki tahap kedua dengan menambah sekitar 100 lubang biopori lagi di lapangan,” tuturnya.
Biopori memiliki fungsi ganda, sehingga manfaat yang dirasakan menjadi lebih banyak.
“Kalau yang biopori ini kan skalanya dia kumpul. Jadi dua-dua kegunaan. Bisa untuk menampung sampah dapur, bisa juga meresap air. Ada genangan, jadi bisa meresap air tanah,” imbuhnya.
Bagus mengungkap, inovasi ini merupakan solusi di tengah keterbatasan lahan pemukiman padat penduduk.
“Yang punya lahan kita kasih ke Tempah Dedoro. Yang tidak punya lahan itu harus ada solusinya juga. Jangan sampai dia membuang sampahnya di dekat tangganya, yautu dengan biopori ini,” ucapnya.
Sementara sampah anorganik yang tidak bisa terurai, diangkut secara konvensional. Bagus menilai, hal tersebut cukup menekan volume sampah yang sampai ke TPA.
Penerapan program ini juga melalui proses adaptasi sosial yang cukup dinamis. Setelah berjalan satu bulan, evaluasi kelurahan menunjukkan bahwa sampah dapur warga kini telah matang sempurna menjadi pupuk kompos berkualitas.
Lebih kanjut, hal tersebut berhasil mengubah kebiasaan harian para ibu rumah tangga. Para kader yang terlibat, aktif memilah sampah langsung dari rumah. Sehingga sampah dapur masuk ke sistem biopori. (*)




