NTB

NTB Kebanjiran Wisatawan Asing di Tengah Anjloknya Rupiah

Mataram (NTBSatu) – Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir, ternyata membawa berkah bagi sektor pariwisata Nusa Tenggara Barat (NTB).

Saat nilai tukar dolar terus menembus rekor baru, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke NTB justru menunjukkan tren peningkatan yang signifikan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB mencatat, 8.686 wisman masuk melalui Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid pada April 2026. Kepala BPS NTB, Wahyudin mengatakan, angka tersebut meningkat 35,13 persen dibandingkan Maret 2026 yang mencapai 6.428 orang.

IKLAN

“Secara tahunan, jumlah kunjungan wisatawan asing juga tumbuh 11,19 persen,” ungkapnya, Rabu, 3 Juni 2026.

Kenaikan jumlah wisman tersebut terjadi saat dolar AS terus menguat terhadap rupiah. Pada April 2026, dolar mulai menembus level Rp17.000 per dolar. Memasuki Mei 2026, kurs bergerak pada kisaran Rp17.410 hingga Rp17.425 per dolar, dan melampaui rekor nominal tertinggi yang pernah tercatat pada masa krisis moneter 1998.

Penguatan berlanjut sepanjang Mei hingga awal Juni 2026. Pada Rabu, 3 Juni 2026 dolar AS tercatat menembus Rp17.927 per dolar.

IKLAN

Kondisi tersebut membuat Indonesia, termasuk NTB, menjadi destinasi yang relatif lebih murah bagi wisatawan asing. Dengan nilai tukar yang lebih tinggi, wisatawan pemegang dolar memiliki daya beli yang lebih besar untuk menikmati berbagai layanan wisata, mulai dari hotel, restoran, transportasi, hingga aktivitas wisata lainnya.

Tren positif itu juga tercermin dari tingkat hunian hotel. BPS NTB mencatat Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang mencapai 36,06 persen pada April 2026. Naik 4,79 poin dari bulan sebelumnya. TPK hotel nonbintang dan akomodasi lainnya mencapai 26,59 persen atau naik 5,75 poin.

Momentum Perkuat Pariwisata

Ketua Komisi III DPRD NTB, Sambirang Ahmadi menilai, kondisi tersebut harus menjadi momentum bagi NTB untuk memperkuat sektor pariwisata.

Menurutnya, penguatan dolar memang memberi tekanan kepada pelaku usaha yang bergantung pada bahan baku impor. Namun pada saat yang sama, kondisi tersebut membuka peluang besar bagi daerah tujuan wisata seperti NTB untuk menarik lebih banyak wisatawan mancanegara.

“Tentu kondisi ini sangat mempengaruhi bagi pengusaha-pengusaha yang menggunakan bahan baku impor. Kalau mereka menggunakan bahan baku impor, tentu terpukul karena mereka belanja dengan dolar,” ujarnya Rabu, 3 Juni 2026.

Sambirang menjelaskan, dampak pelemahan rupiah akan merembet ke berbagai sektor melalui kenaikan biaya produksi, distribusi, dan transportasi. Pada akhirnya, masyarakat akan merasakan kenaikan harga berbagai kebutuhan.

Meski demikian, ia menilai sektor pariwisata memiliki peluang untuk menjadi penyeimbang tekanan ekonomi tersebut. Sambirang menilai, lonjakan kunjungan wisman yang tercatat BPS menjadi sinyal awal NTB memiliki peluang besar untuk memperoleh manfaat dari penguatan dolar.

“Ini peluang bagi industri pariwisata kita. kondisi dolar yang lagi bagus ini bisa mendatangkan sebanyak mungkin wisatawan dari mancanegara, supaya mereka membawa dolar ke sini. Visi NTB Makmur Mendunia ini harus dikencangkan saat ini,” tegasnya.

Perkuat Promosi Destinasi Wisata

Pemerintah daerah perlu memperkuat promosi destinasi wisata, memperluas konektivitas penerbangan internasional, serta meningkatkan kualitas layanan wisata agar lebih kompetitif di pasar global.

Menurut Sambirang, semakin banyak wisatawan asing yang datang, semakin besar pula perputaran devisa yang masuk ke NTB. Dampaknya tidak hanya terasa pada hotel dan restoran. Tetapi juga pelaku UMKM, transportasi wisata, pemandu wisata, hingga masyarakat sekitar destinasi.

“Ketika sektor pariwisata bergerak, ekonomi masyarakat juga ikut bergerak. Momentum ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya,” pungkasnya. (*)

Artikel Terkait

Back to top button