Ratusan Hektare Lahan di NTB Dilanda Kekeringan, Pemprov Pastikan Produksi Padi Tetap Aman
Mataram (NTBSatu) – Di tengah kemarau ekstrem beberapa pekan lalu, Pemprov NTB mengklaim hanya ada 2,5 hektare lahan sawah di NTB yang mengalami puso atau gagal panen.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) NTB, Lalu Mirza Amir Hamzah, membeberkan data bahwa lahan gagal panen mencakup Desa Pelambik di Kecamatan Praya Barat Daya sekitar setengah hektare, serta Desa Ranggagata dan Ungga masing-masing satu hektare.
“Itu doang laporannya, cuma 2,5 hektare. Itu yang puso,” ujarnya, Senin, 2 November 2026.
Sementara itu, kekeringan melanda ratusan hektare lahan di NTB. Kekeringan menimpa hampir seluruh daerah di provinsi ini.
Petani di Lombok Barat melaporkan sekitar 150-170 hektare lahan terdampak, sedangkan di Ungga, Lombok Tengah, kekeringan menimpa belasan hektare lahan.
Selanjutnya, kekeringan melanda 186 hektare lahan di Sumbawa, hingga petani di delapan kecamatan di Lombok Timur menunda musim tanam akibat kekurangan air hujan.
Meski kemarau ekstrem memicu gagal panen hingga kekeringan lahan yang cukup parah, Mirza meminta masyarakat membedakan lahan yang terdampak kekeringan dengan lahan yang benar-benar mengalami puso.
Menurutnya, kekeringan belum tentu membuat tanaman gagal panen karena petugas masih berpeluang menyelamatkannya melalui penanganan teknis.
“Jadi, yang gagal panen yang dibilang ratusan hektare itu tidak ada. Itu terdampak namanya, dan terdampak itu belum berarti gagal, masih bisa diselamatkan,” tegasnya.
Meski begitu, Mirza tidak menampik kekeringan berdampak pada sejumlah areal persawahan di NTB. Namun, ia menegaskan petugas tidak bisa langsung mengategorikan lahan terdampak sebagai lahan puso.
“Yang gagal panen pasti ada, tetapi jumlahnya kecil. Terdampak itu belum gagal, masih bisa diselamatkan,” tambahnya lagi.
Kemarau Ekstrem Tak Ganggu Produksi Padi
Di samping itu, ia memastikan kemarau panjang yang melanda hampir seluruh wilayah NTB tidak berdampak signifikan terhadap produksi padi.
Ia membeberkan, hingga saat ini, NTB mencatat produksi Gabah Kering Giling (GKG) mencapai 1,687 juta ton atau mendekati capaian produksi sepanjang 2025 yang mencapai 1,7 juta ton.
Pihaknya optimistis produksi padi tahun ini dapat melampaui capaian tahun sebelumnya.
Ia menyampaikan, sisa waktu satu bulan untuk mengejar target produksi serta ketersediaan stok beras di gudang Bulog yang telah mencapai 200.000 ton meyakinkannya dan mendukung optimisme tersebut.
“Sekarang produksi padi kita sesuai Kerangka Sampel Area Badan Pusat Statistika (KSABPS), 1.687.000 gabah kering giling. Jadi kalau kita merujuk ke tahun 2025, kita kan 1,7,” katanya.
Ia menyebut, capaian produksi saat ini sudah hampir menyamai produksi tahun lalu. Dengan demikian, pemerintah daerah menilai kondisi produksi di tingkat hulu masih aman meski sejumlah wilayah menghadapi dampak kekeringan.
“Jadi sudah hampir sama lah, tinggal 1 bulan insya Allah kita bisa melampaui. Jadi kalau dari segi produksi di hulu, sudah aman. Kemudian di gudang bulog, kita sudah mencapai 200.000 ton beras,” lanjutnya.
Dampak Sektor Pertanian
Meski demikian, ia mengakui kemarau panjang tetap memberikan dampak terhadap sektor pertanian. Namun, ia menilai dampak tersebut relatif kecil karena petani mulai beradaptasi dengan menyesuaikan jenis komoditas tanam berdasarkan ketersediaan air.
“Ya, ada pengaruh tapi sedikit. Karena sudah ada substitusi, adaptasi komoditi. Jadi menanam tanaman disuaikan dengan kebutuhan air,” jelasnya.
Menurutnya, tanaman padi membutuhkan ketersediaan air yang cukup. Karena itu, pemerintah mendorong petani di wilayah yang mengalami keterbatasan air untuk menyesuaikan pilihan komoditas dengan kondisi lahan, seperti jagung dan tanaman hortikultura.
“Kalau padi ya perlu ada air, kalau yang lain disuaikan dengan jagung, tembak, kol, segala macam,” pungkasnya. (*)




