Ekonomi Bisnis

Dampak Ekonomi MotoGP Mandalika 2026 Diprediksi Tembus Rp5 Triliun

Mataram (NTBSatu) – Penyelenggaraan ajang MotoGP Mandalika 2026 di Pertamina Mandalika International Circuit, Lombok Tengah, menunjukkan tren pertumbuhan ekonomi yang kian menguat dalam lima tahun terakhir.

Peningkatan signifikan ini tidak hanya mencerminkan keberhasilan perhelatan ajang olahraga berskala global. Tetapi juga memberikan angin segar bagi geliat sektor pariwisata serta perekonomian regional di NTB.

Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, mengungkapkan hal tersebut setelah evaluasi penyelenggaraan ajang tersebut.

“Kalau kita lihat review dari perjalanan 5 tahun, terlihat grafiknya itu grafiknya sangat signifikan pertumbuhan. Bahkan kalau bandingkan dengan tahun lalu misalnya, tahun lalu dampak ekonominya, multiplier effect-nya kira-kira sekitar 4,2 triliun. Tahun ini harapannya 5 triliun,” ujarnya, Senin, 12 Oktober 2026.

Kenaikan nilai ekonomi tersebut mencatatkan persentase pertumbuhan tahunan melampaui 15 persen. Angka ini sekaligus memperkuat dasar pertimbangan bagi para pemangku kepentingan untuk memperpanjang masa penyelenggaraan ajang balap motor bergengsi ini pada periode lima tahun berikutnya.

Akselerasi Menuju Dampak Pembangunan

Meski angka perputaran uang menunjukkan tren positif, kalangan akademisi menilai evaluasi penyelenggaraan ajang internasional tidak sekadar berhenti pada besaran perputaran dana jangka pendek (event impact).

Associate Professor Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mataram, Iwan Harsono, dalam kajiannya menekankan pentingnya mengarahkan orientasi penyelenggaraan menuju dampak pembangunan jangka panjang (development impact) bagi masyarakat lokal.

“Setelah beberapa tahun penyelenggaraan, orientasi kita harus berubah dari ‘berapa UMKM ikut bazar?’ menjadi ‘berapa UMKM memperoleh kontrak bisnis setelah MotoGP?’ Ini perbedaan yang sangat mendasar,” ujarnya pada Jumat, 9 Oktober 2026.

Transformasi tersebut menuntut keterlibatan sektor UMKM agar tidak hanya berperan sebagai penjual musiman selama acara berlangsung.

Pelaku usaha lokal didorong bertransformasi menjadi pemasok tetap bagi ekosistem pariwisata, perhotelan, serta jaringan ritel sepanjang tahun.

Optimalisasi Potensi Daerah

Pemerintah daerah bersama pengelola kawasan terus merumuskan langkah konkret untuk memperluas rantai pasok domestik. Penguatan sinergi antara sektor pariwisata dan sektor produktif seperti pertanian, perikanan, serta industri pengolahan lokal menjadi kunci utama.

Dengan memperpanjang masa pemanfaatan infrastruktur kawasan melalui agenda pariwisata, MICE (Meeting, Incentive, Conference, and Exhibition), dan kegiatan olahraga berkelanjutan, aset daerah tersebut diharapkan mampu menggerakkan perekonomian secara konsisten di luar jadwal balapan tiga hari. (*)

Artikel Terkait