Jejak United Tractors di Leong, dari Kopi Bangkitkan Harapan Pascagempa Lombok 2018
Gempa berkekuatan Magnitudo 7,0 menghantam Pulau Lombok tahun 2018 lalu, tak hanya melumpuhkan sendi sosial, juga ekonomi. Tak butuh waktu lama, sentuhan Corporate Social Responsibility (CSR) PT United Tractors menghidupkan nadi ekonomi warga lewat Kopi Leong.
———————————————-
Suasana dingin merambat hampir seluruh tubuh. Hembusan angin tipis di sela-sela pohon rimbun membuat udara terasa lebih sejuk. Menambah kesan tenang di kawasan Leong, Desa Tegal Maja, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara (KLU).
Di ruang sederhana itu, aroma kopi hitam merebak hampir di seluruh ruangan. Wangi khas biji kopi baru disangrai. Bagi Khaerul Anwar, di tempat ini kopi bukan sekadar minuman, ada proses panjang pascapanen untuk membangun ekonomi masyarakat sekitar.
“Dari biji kopi ini kita olah menjadi produk yang memiliki nilai tambah. Ada kopi bubuk, roast bean dan sebagainya,” kata Khaerul kepada NTBSatu, Selasa, 15 September 2026.
Usaha Kecil, Mikro, dan Menengah (UMKM) Kopi Leong hadir pertama kali di tahun 2021 melalui pendampingan dan program pemberdayaan masyarakat Corporate Social Responsibility (CSR) PT United Tractors (UT). Penggunaan nama Kopi Leong sekaligus mem-branding nama daerah tersebut, yaitu Dusun Leong. Terdiri dari Leong Barat, Tengah, dan Timur.
Awalnya UT membantu masyarakat di Kabupaten Lombok Utara pascagempa 2018 lalu. Perusahaan tersebut membangun sebanyak 100 unit rumah untuk warga terdampak.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tercatat hingga 13 Agustus 2018, gempa Lombok 2018 menyebabkan 436 orang meninggal dunia. Terbanyak di Lombok Utara. Jumlah korban meninggal mencapai 374 orang. Korban luka-luka paling banyak terdapat di Lombok Utara sebanyak 640 orang.
Khaerul Anwar sebagai Owner UMKM Kopi Leong mengatakan, setelah program pemulihan permukiman berjalan, perhatian kemudian diarahkan pada potensi ekonomi lokal. Salah satunya, kopi yang banyak dihasilkan masyarakat.
Kopi Leong bagi Khairul bukan sekadar tentang secangkir kopi. Namun di baliknya terdapat cerita bagaimana upaya masyarakat di kawasan tersebut bangkit setelah bencana gempa bumi melanda Lombok pada 2018 lalu.
Leong sendiri memiliki berbagai jenis hasil pertanian yang potensial selain kopi. Misalnya, kakao, pisang, cengkeh, hingga kelapa.
Khairul mengatakan, potensi-potensi ini menggerakkan UT memberikan pembinaan dan pelatihan. Alasannya memilih kopi, karena dinilai lebih mudah dipasarkan. Hampir semua kalangan mengkonsumsinya. Kopi juga bisa diolah dengan berbagai jenis hasil. Misalnya bisa dijadikan oleh-oleh dan sebagainya. Terlebih, ketersediaannya cukup melimpah di Dusun Leong.
Upaya meningkatkan nilai Kopi Leong, sekaligus membuka ruang kerja di desa tersebut. Dalam mengembangkan usaha, UMKM ini memberdayakan anak-anak muda di Dusun Leong. Keterlibatan mereka dalam proses pengolahan, pengemasan, penyortiran bahan baku, hingga pemasaran. Mereka merupakan lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) hingga sarjana. Pekerjaan itu memberi mereka untuk tetap tinggal dan berkarya di desa.
“Kalau di tempat kita (UMKM Kopi Leong) sekarang ada beberapa anak muda yang kita libatkan. Mereka dari masyarakat asli Dusun Leong,” ujarnya.

Proses produksi Kopi Leong hingga siap dipasarkan membutuhkan waktu sekitar satu bulan lebih jika dihitung sejak panen. Namun, prosesnya bisa lebih cepat apabila persediaan green bean telah tersedia.
Untuk pengolahan, Kopi Leong menerapkan sejumlah tahapan. Mulai dari proses sortir setelah panen, sortir menggunakan air, penjemuran, pengupasan, penyortiran green bean, roasting, penggilingan hingga pengemasan.
Adapun hasil produksi Kopi Leong tersedia dalam beberapa jenis olahan. Di antaranya: kopi bubuk 100 gram dengan harga Rp35.000. Kemudian, dalam bentuk drip bag berisi lima saset dalam satu kotak, harganya Rp.65.000. Serta jenis roast bean atau biji kopi yang telah disangrai, harganya Rp78.000 dengan berat 50 gram.
Ekonomi Berkelanjutan
Kopi yang dikembangkan oleh UMKM Kopi Leong merupakan kopi lokal berbiji kecil. Untuk sekarang jenis kopi tersebut cenderung jarang digunakan oleh pengusaha kopi lainnya. Masyarakat sudah banyak beralih ke varietas lain. Misalnya, seperti biji kopi yang lebih besar.
“Ya untuk kopi sebenarnya kita itu membangunnya dari kopi lokal (khas Desa Leong). Jadi kan kopi yang biji kecil itu. Nah itu yang menjadi brand kita sebenarnya,” ujarnya.
Khaerul menegaskan, sejak awal, UMKM ini tidak semata-mata untuk membangun bisnis kopi dan menghasilkan produk. Lebih dari itu, UMKM ini membangun ekosistem berbasis komunitas. Para petani yang tergabung dalam komunitas diberi pelatihan dan pembinaan tentang budidaya kopi. Sehingga, hasil panen petani dapat diserap untuk kemudian diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah.
Saat ini, terdapat empat kelompok binaan yang diakomodir UMKM Kopi Leong. Sebarannya di Desa Leong Tengah dan Barat. Sementara di Desa Leong Timur masih dikembangkan.
“Kita itu punya kelompok binaan. Kelompok binaan ini kita bina untuk bagaimana melestarikan kopi ini. Karena memang target kita, petani tidak hanya sekadar menanam kopi, tetapi bagaimana kopi itu melekat dalam diri kita,” ungkapnya.

Pembinaan dan pendampingan difasilitasi langsung oleh UT melalui CSR-nya. Pendampingan tersebut diarahkan untuk meningkatkan kualitas produk sekaligus memperkuat kemampuan petani dalam mengembangkan usaha.
CSR Associate UT Head Office, Rizky Aditya Nugroho menyampaikan, pembinaan dan pendampingan yang diberikan UT melalui dua lini, yakni sektor hulu dan hilir.
Di sektor hulu menyentuh petani kopi. UT membekali para petani dengan pelatihan tentang budidaya kopi. Mulai dari cara menanam hingga pemeliharaan. Hal ini untuk memastikan, bahwa kopi yang dihasilkan memang sesuai dengan standar, agar memiliki nilai tambah.
“Kita hadirkan beberapa pelatihan, kita datangkan narasumbernya, dan juga kita mengajak para petani itu juga bisa untuk memahami pasar dari kopi itu sendiri seperti apa. Karena memang sebelum kita masuk, masyarakat itu menanamnya cuma biji kakao,” kata Rizky kepada NTBSatu, Kamis, 24 September 2026.
Setelah penguatan petani, baru masuk pada sektor hilir. Di Sektor ini UT memberikan pendampingan pada remaja dan generasi muda sekitar. Mereka mendapat pembinaan dan pelatihan terkait pengemasan hingga pemasaran. Termasuk pelajaran tentang legalitas branding.
“Hilirnya itu kita membina masyarakat sekitar, khususnya untuk para remaja dan juga generasi muda. Pelatihannya satunya tentang pemasaran. Jadi kalau di hulu, ngomonginnya petani, kalau di hilir, bagaimana penjualan produk kopi tersebut,” jelasnya.
Dengan demikian, rantai ekonomi yang dibangun tidak hanya berhenti pada petani sebagai penghasil bahan baku, tetapi berlanjut ke proses pengolahan dan pemasaran.
Dampak Nyata, Produksi Meningkat
Ketua Kelompok Tani (Poktan) di Dusun Leong, Sukardi (42 tahun), juga merasakan hal yang sama. Budidaya kopi di Leong cukup berkembang. Bahkan, menjadi salah satu sumber ekonomi masyarakat sekitar.
Ia mengatakan, budidaya kopi di Dusun Leong, sebenarnya sempat meredup. Beberapa tahun lalu sebagian besar masyarakat kehilangan minat mengembangkan kopi. Padahal potensinya cukup melimpah. Alasanya, harga jual yang tidak pasti. Pada saat itu, harga jualnya masih dikisaran Rp20.000 per kilogram. Bahkan bisa merosot hingga harga terendah Rp12.000 per kilogram.
“Tidak Ada yang mengurus, terutama karena petani melihat hasilnya, harganya yang begini-begini terus. Akhirnya petani merasa malas-malasan dan memilih fokus ke (tanaman) kakao saja,” kata Sukardi kepada NTBSatu, Kamis, 24 September 2026.
Seiring berjalannya waktu, kondisi itu perlahan berubah setelah UT masuk. Perusahaan tersebut hadir memberikan pembinaan dan pelatihan tentang budidaya kopi, seperti pemeliharaan tanaman sampai pemasaran, termasuk bantuan pembibitan. Dari situ minat para petani kembali hidup.
“Nah dari sanalah kami mulai bergiat lagi untuk menanam kopi. Tanaman kopi yang sudah tua, peninggalan orang tua dulu, kami sambung lagi,” ujarnya.

Sukardi mengatakan, jauh setelah pembinaan dan pelatihan oleh UT, hasil dari upaya tersebut mulai terlihat. Pengetahuan petani mengenai cara pemeliharaan tanaman yang diperoleh turut membantu meningkatkan hasil panen tiap tahunnya. Adapun panen kopi dilakukan satu kali dalam setahun. Musim penennya setiap bulan Juli.
“Jauh, jauh bedanya (hasip panen). Kalau kita bandingkan dari sebelum (msauk UT) dan sampai sekarang itu. Karena sekarang kan ilmunya (petani) tentang cara pemeliharaannya sudah dapat, jadi Alhamdulillah hasilnya meningkat,” ungkap Sukardi.
Sukardi menyebutkan, selain hasil panen meningkat, harga jual pun ikut naik. Sekarang, per kilogramnya bisa mencapai Rp60.000. Kenaikan harga tersebut membuat kopi kembali memiliki daya tarik bagi petani.
Hasil panen kopi petani di Leong bervariasi. Ada yang mencapai hingga satu ton dalam satu kali panen. Sebagain besar kopi-kopi tersebut diserap oleh UMKM Kopi Leong. Salah satu UMKM binaan CSR UT.
Sementara sebagiannya lagi, petani menjualnya ke pasar atau pengepul. Terutama memiliki kewajiban untuk melunasi uang panjar yang telah diterima sebelumnya.
“Sebagain hasil panen petani masuk ke Khaerul (Owner UMKM Kopi Leong). Sebagiannya lagi petani membawanya ke pasar Tanjung, Lombok Utara atau pun ke tempat lain,” katanya.
Sukardi mengaku, keberadaan UMKM Kopi Leong membantu para petani memasarkan hasil panennya. Sehingga mereka tidak khawatir lagi. Kata Sukardi, hasil panen tersebut tidak bisa dalam jangka waktu yang lama.
“Setiap tahun tetap (diambil), hampir tidak ada kopi yang tidak masuk di sini (UMKM Kopi Leong),” tutup Sukardi.
Program UTGROWTH dan Target Ekspor Kopi

UT melaksanakan kegiatan CSR sebagai pelaksanaan prinsip-prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance) sekaligus menjadi bagian dari tujuan bisnis sebagaimana ditetapkan dalam Triple-P Roadmap dan Aspirasi Keberlanjutan 2030 UT. Tujuan CSR UT salah satunya menciptakan kebermanfaatan sosial yang nyata di tengah-tengah masyarakat.
UMKM Kopi Leong masuk dalam program UTGROWTH (United Tractors for Generating Opportunities and Wealth). Merupakan program kewirausahaan difokuskan untuk memberdayakan masyarakat rentan secara ekonomi dengan berbasiskan UMKM yang dapat menghasilkan peningkatan pendapatan dan tenaga kerja.
Rizky Aditya Nugroho selaku CSR Associate UT Head Office mengatakan, UT memberikan pelatihan setiap tahun, mulai 2021 hingga sekarang untuk pengembangan Kopi Leong.
Dalam pelaksanaannya, UT tidak langsung menyasar seluruh kelompok tani yang ada. Saat ini terdapat beberapa kelompok tani yang berjalan di wilayah Leong untuk diberikan pembinaan.
Program pendampingan tersebut juga dievaluasi setiap tahun melalui mekanisme planning cycle. Evaluasi dilakukan untuk melihat pelaksanaan program selama satu tahun sekaligus menyusun rencana kegiatan pada tahun berikutnya.
“Planning cycle itu kegiatan untuk mengevaluasi kegiatan selama satu tahun berjalan dan merencanakan kegiatan satu tahun ke depan,” ujarnya.
Selain pelatihan dan pembinaan, UT juga memberikan dukungan dalam bentuk lain. Misalnya, bantuan modal usaha, dukungan infrastruktur termasuk penghargaan bagi masyarakat maupun kelompok tani.
Berkat pelatihan dan pembinaan ini, UMKM Kopi Leong berhasil meraih predikat kopi dengan cita rasa terbaik pada Business Development Services (BDS) 2022 di Lombok Utara. Kompetisi tersebut diikuti sejumlah pelaku usaha kopi dengan bahan baku robusta khas Lombok Utara.
Khaerul memiliki cita-cita besar dalam mengembangkan usaha kopi ini. Ia menargetkan, pemasaran produknya bisa menjangkau pasar yang lebih luas. Bahkan bisa diekspor di luar negeri.
Saat ini, kata Khaerul, penjualan produk UMKM Kopi Leong sudah menyasar pasar di luar NTB. Misalnya, di Jakarta lewat bantuan CSR PT United Tractors yang membantu mempromosikan produk dari UMKM tersebut. Walaupun secara umum masih banyak di sekitar Pulau Lombok.
“Kopi Leong tidak hanya dipasarkan secara offline. Penjualannya juga tersedia di platform penjualan online. Misalnya Tokopedia,” jelasnya.
Peran Swasta Bantu Keberlanjutan Usaha

Project Coordinator Konsorsium untuk Studi dan Pengembangan Partisipasi (Konsepsi) NTB, Hairul Anwar mengapresiasi keterlibatan UT dalam pengembangan UMKM Kopi Leong.
Menurut dia, peran sektor swasta tentu sangat strategis dalam mengakselerasi program pemberdayaan masyarakat. Terutama dapat membantu memastikan keberlanjutan. Misal menjadi off taker dari produk UMKM atau bisa membantu lewat pemasaran hingga bantuan modal.
”Khusus dalam pengembangan UMKM, kapasitas sumber daya dan jejaring sektor swasta dalam mendorong pengembangan mata rantai pasar produk,” kata Hairul kepada NTBSatu, Jumat, 25 September 2026.
Ia mengatakan, Kopi Leong memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Alasannya, karena berasal dari petani pinggir hutan, serta memiliki ciri khas tersendiri.
”Bayangkan berapa banyak petani bisa dibantu ekonominya jika produksi kopi dapat dijaga kualitas dan kuantitasnya. Nah, intervensi CSR UT dapat mendorong juga UMKM-UMKM kopi yang berada di pinggir hutan Lombok Utara,” terangnya.
Dukungan Pemerintah
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) terus memperkuat ekosistem pengembangan UMKM melalui berbagai langkah strategis. Mulai dari perluasan akses pembiayaan, peningkatan kualitas produk, kemudahan memperoleh legalitas, hingga pembukaan akses pasar nasional dan internasional.
Juru Bicara Pemprov NTB, Ahsanul Khalik mengatakan, salah satu langkah yang dilakukan adalah memperkuat akses pembiayaan melalui kerja sama Pemprov NTB dengan sektor perbankan dalam penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) Bank NTB Syariah. Kerja sama tersebut telah diimplementasikan sejak Juli 2026. Sehingga seluruh jaringan bank yang terlibat kini telah membuka akses penyaluran KUR bagi pelaku UMKM di NTB.
“Berbagai program tersebut diharapkan mampu mendorong UMKM naik kelas sekaligus menjadi motor penggerak pertumbuhan investasi dan perekonomian daerah,” katanya belum lama ini. (*)




