AdvertorialPendidikan

Dosen STKIP Tamsis Bima Soroti Kemampuan Literasi dan Numerasi Murid

Mataram (NTBSatu) – Dosen Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar STKIP Taman Siswa (Tamsis) Bima, Adi Apriadi Adiansha, M.Pd., menyoroti kemampuan literasi dan numerasi murid sekolah dasar. Menurutnya, kemampuan membaca dan berhitung belum tentu menunjukkan bahwa anak benar-benar memahami materi pembelajaran.

Persoalan tersebut menjadi pembahasan dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat oleh mahasiswa Program Doktor Pendidikan Dasar Universitas Negeri Jakarta (UNJ) di UPTD SDN Pondok Bambu 04, Duren Sawit, Jakarta Timur, Kamis, 29 Oktober 2026. Puluhan guru mengikuti kegiatan yang membahas penguatan literasi, numerasi, serta penyesuaian kurikulum bagi murid dengan kebutuhan belajar beragam.

Dalam pemaparan bertajuk “Hadir di Sekolah, Belum Tentu Belajar”, Adi mengingatkan bahwa kehadiran murid di sekolah tidak otomatis menunjukkan keberhasilan belajar. Sebagian anak mampu membaca teks dan mengerjakan soal, tetapi belum memahami makna bacaan maupun konsep matematika yang mendasari jawaban mereka.

Data pendidikan nasional turut memperlihatkan tantangan tersebut. Skor PISA matematika Indonesia turun dari 379 pada 2018 menjadi 366 pada 2022 dan 364 pada 2025. Sementara itu, hasil Asesmen Nasional 2025 yang Adi paparkan menunjukkan 42,86 persen satuan pendidikan mencapai kompetensi minimum literasi dan 32,45 persen mencapai kompetensi minimum numerasi.

Adi menjelaskan, persentase tersebut merujuk pada satuan pendidikan yang sekurang-kurangnya memiliki 75 persen siswa dengan kompetensi minimum, bukan persentase seluruh siswa yang menguasai kemampuan tersebut.

Metode Belajar Adaptif

Menurut Adi, guru perlu memahami sumber kesulitan anak sebelum menentukan strategi pembelajaran. Kesalahan menjawab soal tidak selalu menunjukkan ketidakmampuan murid, tetapi bisa muncul karena pemahaman konsep dasar yang belum kuat.

Dosen STKIP Tamsis Bima itu mencontohkan soal pengurangan 45 dikurangi 29. Ketika murid menjawab 24, guru perlu menelusuri proses berpikir anak. Kesalahan tersebut mungkin berkaitan dengan pemahaman nilai tempat, bukan sekadar kemampuan berhitung.

Untuk memperkuat kemampuan membaca, Adi memperkenalkan pendekatan Teaching at the Right Level (TaRL). Metode ini mengelompokkan murid berdasarkan kemampuan aktual, mulai dari tahap mengenal huruf, membaca kata, paragraf, hingga cerita. Guru kemudian memberikan materi sesuai tingkat kemampuan dan memantau perkembangannya melalui asesmen berkala.

Pada pembelajaran numerasi, Adi mengenalkan pendekatan Konkret–Gambar–Abstrak (KGA). Guru dapat menggunakan benda sederhana seperti stik es krim dan karet gelang untuk membantu murid memahami konsep matematika sebelum mengenal gambar dan simbol angka.

Ia juga mendorong penerapan pola Contoh, Bersama, Mandiri (CBM). Guru memberikan contoh pengerjaan, mengajak murid menyelesaikan soal bersama, kemudian memberikan kesempatan untuk mencoba secara mandiri.

Selain literasi dan numerasi, kegiatan tersebut membahas penyesuaian kurikulum bagi murid berkebutuhan belajar beragam. Narasumber kedua, Rohmat Widiyanto, M.Pd., memaparkan lima model modifikasi kurikulum, yakni duplikasi, alokasi, eskalasi, substitusi, dan omisi.

Rohmat menjelaskan bahwa penyesuaian pembelajaran tidak selalu berarti menurunkan standar akademik. Guru perlu mempertimbangkan kebutuhan setiap murid melalui pengaturan waktu, penggunaan media alternatif, penyesuaian tugas, hingga pendalaman materi bagi anak yang membutuhkan tantangan lebih.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Mata Kuliah Wawasan dan Problematika Pendidikan Dasar yang diampu Prof. Dr. Edwita, M.Pd., dan Dr. Nina Nurhasanah, M.Pd. Melalui diskusi, peragaan, dan refleksi, para mahasiswa doktoral UNJ mengajak guru menerapkan strategi pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan masing-masing murid.

Melalui kegiatan ini, Adi berharap guru tidak hanya mengejar penyelesaian materi, tetapi juga memastikan setiap anak memahami pelajaran dan memperoleh kesempatan berkembang sesuai kemampuan belajarnya. (*)

Atim Laili

Jurnalis NTBSatu

Artikel Terkait