26 Tahun Terisolasi, Warga Baturotok Sumbawa Layangkan Surat Terbuka kepada Presiden Prabowo
Sumbawa Besar (NTBSatu) – Masyarakat Desa Baturotok, Kecamatan Batulanteh, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), melayangkan surat terbuka kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, Gubernur NTB, dan Bupati Sumbawa, pada Minggu, 24 Mei 2026.
Keputusan ini merupakan bentuk protes atas masalah infrastruktur jalan ke wilayah mereka yang rusak parah dan terisolasi selama 26 tahun terakhir.
Dalam unggahan pada akun Facebook Najibullah Ainun, warga mengeluhkan sejak tahun 2000 hingga saat ini belum ada penanganan nyata dari Pemerintah Pusat maupun daerah, untuk membangun akses jalan yang layak menuju desa mereka.
“Kisah yang saya tulis ini bukanlah dongeng atau karangan fiksi. Ini adalah kenyataan pahit, air mata, dan peluh keringat yang mengalir di tanah kelahiran kami,” tulisnya, Minggu, 24 Mei 2026.
Ritual Mencangkul Lumpur secara Swadaya
Keadaan infrastruktur yang buruk memaksa warga Desa Baturotok sering kali gotong-royong berkala setiap musim hujan.
Mereka turun ke jalan untuk mencangkul dan menutup lubang-lubang jalan yang hancur, akibat terkikis air hujan agar masyarakat tetap bisa melaluinya.
Namun saat musim hujan tiba, keadaan jalan berubah menjadi kubangan lumpur pekat yang bisa melumpuhkan total urat nadi transportasi.
Satu-satunya pilihan bagi warga untuk keluar desa adalah dengan berjalan kaki puluhan kilometer menembus lumpur sebetis.
Karena akses yang terputus ini, warga harus menggendong warga lain yang sedang sakit menembus jalanan rusak menuju Kecamatan Orong Telu. Sebelum akhirnya menuju rumah sakit di Sumbawa Besar.
Kritik Skala Prioritas Anggaran Pemerintah
Melalui surat terbuka tersebut, masyarakat Baturotok membandingkan alokasi pembangunan jalan lingkar desa mereka dengan program-program nasional berskala besar dari Pemerintah Pusat.
Warga menilai, pemenuhan kebutuhan infrastruktur jalan di wilayah pelosok Sumbawa seharusnya sebagai prioritas yang bisa selesai dengan cepat tanpa menunggu puluhan tahun.
“Dana untuk membangun jalan Baturotok tidak akan menghabiskan anggaran sampai Rp 1 triliun. Mengapa untuk urusan perut bangsa (Makan Bergizi Gratis) bisa sesegera itu. Namun, untuk urusan urat nadi kehidupan kami di Baturotok harus ditunda puluhan tahun?” tegasnya.
Menanti Realisasi Janji Kepala Daerah
Selama dua dekade terakhir, warga mengaku sering menerima kunjungan dari berbagai pejabat publik. Mulai dari tingkat kabupaten hingga provinsi.
Kendati demikian, mereka menilai, kedatangan para kepala daerah justru belum memberikan dampak perubahan signifikan bagi infrastruktur jalan setempat.
Warga berharap, Pemerintah Pusat di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo bisa segera mengintervensi mandeknya pembangunan jalan di Kecamatan Batulanteh. Hal tersebut demi membuka keterisolasian ekonomi, pendidikan dan kesehatan masyarakat.
“Harapan kami kepada bapak Pemerintah sangat sederhana. Kami tidak meminta kemewahan. Kami hanya butuh jalan kami dibangun layak, sama seperti desa-desa lain di Indonesia,” tutupnya. (Inda)




