Selain Balapan, Museum Jadi Daya Tarik di Sirkuit Mandalika
Lombok Tengah (NTBSatu) – Sirkuit Mandalika tak hanya menawarkan adu kecepatan motor dalam gelaran MotoGP 2026. Di tengah hiruk-pikuk balapan, Museum Negeri Nusa Tenggara Barat (NTB) turut memperkenalkan tradisi dan budaya Sasak kepada pengunjung.
Kepala Museum NTB, Dr. Ahmad Nuralam mengatakan, kehadiran museum di kawasan sirkuit bertujuan memperkenalkan kehidupan masyarakat NTB kepada pengunjung domestik maupun mancanegara.
Menurutnya, pengunjung tidak cukup hanya menyaksikan balapan. Mereka juga perlu mengenal tradisi, nilai, dan kebudayaan masyarakat setempat.
“Kita berharap mereka tidak hanya datang melihat, tetapi juga merasakan bagaimana kehidupan masyarakat,” ujarnya kepada NTBSatu, Sabtu, 10 Oktober 2026.
Salah satu benda yang museum perkenalkan ialah Sekardiu dalam wujud Jaran Kamput. Nuralam menyebut, benda tersebut berkaitan dengan tradisi kerajaan dalam masyarakat Sasak. Benda tersebut memiliki kaitan dengan tradisi dan prosesi adat, termasuk kegiatan pernikahan ataupun sunatan.
Nuralam menjelaskan, museum memilih benda tersebut karena maknanya berkaitan dengan kecepatan. Nilai itu dinilai selaras dengan karakter MotoGP yang mengandalkan kecepatan di lintasan.
Ia menghubungkannya dengan tradisi wayang Sasak, khususnya kisah Menak Jayengrana yang menggunakan kuda sebagai tunggangan. Dalam mitologi tersebut, kuda menjadi simbol alat transportasi yang memiliki kecepatan luar biasa.
“Kenapa sekardiu yang kita bawa? Karena ini melambangkan kecepatan,” jelasnya.
Wisatawan Asing Jadi Sasaran
Menurut Nuralam, pengunjung pameran tersebut berasal dari sejumlah negara, di antaranya Australia, Amerika, Brasil, dan Indonesia.
Ia memperkirakan jumlah pengunjung yang hadir mendekati 100 orang saat memberikan keterangan. Namun, ia belum merinci periode penghitungan maupun data kunjungan secara keseluruhan.
Kehadiran museum di ajang internasional ini menjadi peluang untuk memperluas pengenalan budaya Sasak. Pengunjung MotoGP dapat memperoleh pengalaman berbeda di luar aktivitas menonton balapan.
Nuralam berharap budaya lokal tidak hanya menjadi pelengkap agenda pariwisata. Menurutnya, unsur kebudayaan juga bisa menjadi daya tarik utama bagi wisatawan yang berkunjung ke NTB.
“Kita berharap tidak hanya terkait dengan sport tourism, tetapi culture tourism juga bisa menjadi sesuatu yang bisa kita jual,” katanya.
Kehadiran museum di sirkuit membuka ruang untuk mempertemukan olahraga internasional dengan warisan budaya lokal. Namun, pengenalan budaya akan lebih bermakna jika pengunjung juga memahami konteks dan nilai di balik benda yang dipamerkan.
Oleh karena itu, museum NTB juga mencantumkan informasi mengenai tradisi, sejarah, serta penggunaan benda yang mereka pamerkan. Terutama dalam menceritakan kehidupan masyarakat Sasak, sehingga dapat membantu pengunjung mengenal budaya Sasak secara lebih utuh. (*)




