Pasca Atap SMAN 7 Mataram Ambruk, Dewan Desak Audit Total Seluruh Bangunan Sekolah
Mataram (NTBSatu) – Ambruknya atap bangunan SMAN 7 Mataram, menjadi peringatan serius bagi dunia pendidikan di Kota Mataram. Insiden yang nyaris memakan korban jiwa itu, kini memicu desakan agar seluruh bangunan sekolah di Kota Mataram segera diperiksa secara menyeluruh.
Ketua Komisi III DPRD Kota Mataram, Abd. Rahman meminta Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), segera melakukan audit teknis terhadap kelayakan dan keandalan seluruh gedung sekolah. Terutama, bangunan yang sudah tua dan mengalami kerusakan struktural.
Menurutnya, insiden di SMAN 7 Mataram harus menjadi alarm keras bagi Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram. Agar tidak menunggu jatuhnya korban yang lebih besar.
“Tragedi ambruknya atap sekolah ini adalah alarm keras bagi kita semua. Jangan tunggu ada korban jiwa baru kita sibuk saling menyalahkan. Saya mendesak Dinas PUPR, baik di tingkat kota maupun berkoordinasi dengan provinsi, segera melakukan audit teknis kelayakan bangunan sekolah,” tegas Rahman, Rabu, 20 Mei 2026.
Keselamatan Siswa dan Guru Tanggung Jawab Bersama
Meski pengelolaan SMA berada di bawah kewenangan Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB, Rahman menegaskan, keselamatan siswa dan guru di Kota Mataram tetap menjadi tanggung jawab bersama yang tidak boleh terhambat persoalan birokrasi.
Ia menilai, koordinasi cepat antara Pemkot Mataram dan Pemprov NTB sangat penting. Hal tersebut demi memastikan seluruh ruang belajar di Kota Mataram benar-benar aman.
Rahman juga menekankan, sekolah merupakan instrumen penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana amanat UUD 1945. Sekaligus, bagian dari program prioritas nasional Presiden Prabowo Subianto melalui peningkatan mutu pendidikan dan penyediaan sarana-prasarana sekolah yang layak.
“Kunjungan kami hari ini merupakan atensi langsung dari pusat agar nantinya dapat kami laporkan. Yang paling penting, aktivitas belajar mengajar jangan sampai terganggu,” ujarnya.
Ia meminta, pemeriksaan diprioritaskan pada sekolah-sekolah dengan usia bangunan lama atau yang telah menunjukkan tanda-tanda kerusakan ringan. Menurutnya, langkah pencegahan jauh lebih penting dan murah daripada penanganan pascabencana.
Selain itu, Rahman juga mengajak seluruh kepala sekolah dan komite sekolah di Kota Mataram untuk aktif melaporkan kondisi bangunan yang ia nilai membahayakan.
“Anak-anak kita pergi ke sekolah untuk belajar dengan aman dan nyaman, bukan mempertaruhkan nyawa di bawah atap yang rapuh. Negara harus hadir menjamin keselamatan mereka,” tutupnya.
Kronologi Atap Bangunan SMAN 7 Mataram Ambruk
Sebelumnya, selasar dan atap dua ruang kelas di SMAN 7 Mataram ambruk pada Selasa, 19 Mei 2026 sekitar pukul 12.00 WITA. Empat siswi mengalami luka ringan dalam kejadian tersebut.
Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 12.00 Wita, tepat saat jam istirahat, salat, dan makan (isoma). Kondisi ini meminimalkan jumlah korban, karena mayoritas siswa sedang berada di luar ruang kelas atau di musala sekolah.
Kepala SMAN 7 Mataram, Ridha Rosalina mengaku, sempat mendengar suara gemuruh besar sebelum bangunan runtuh.
“Baru rakaat pertama itu tiba-tiba suara gemuruh yang sangat besar. Kami keluar semua, guru semua bingung ini suara apa. Tahunya anak-anak pada ke ruangan ini,” ujar Ridha Rosalina saat memberikan keterangan di lokasi kejadian.
Ridha menjelaskan, salah satu kelas sebenarnya sudah dikosongkan karena plafonnya mulai terbuka. Namun satu ruang lainnya masih tampak normal, sehingga tetap untuk kegiatan belajar mengajar.
Ia memastikan, tidak ada korban yang tertimpa material berat karena para siswa bergerak cepat menyelamatkan diri. Bahkan, salah seorang siswa sempat berlindung di bawah meja sebelum akhirnya dievakuasi.
Keempat korban langsung mendapat penanganan medis di Puskesmas terdekat dan saat ini dalam kondisi stabil. (*)




