Kelas Roboh di Tengah Proyek DAK Bermasalah, Pemprov NTB Kini Minta Bantuan Pusat
Mataram (NTBSatu) – Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB, akan mengusulkan anggaran perbaikan ruang kelas SMAN 7 Mataram kepada Pemerintah Pusat. Langkah itu menyusul insiden robohnya dua ruang kelas di sekolah tersebut.
Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dikpora) NTB, Syamsul Hadi mengaku, sudah mendapat lampu hijau dari Pemerintah Pusat untuk anggaran perbaikan tersebut. Saat ini, Pemprov NTB tengah menyusun rincian besaran anggaran perbaikan.
“Tadi ada lampu hijau dari pusat dari Direktur SMA, yang karena komunikasi kemarin kemudian minta detail laporannya untuk pengajuan pembangunan,” kata Syamsul, Rabu, 20 Mei 2026.
Ia menyebutkan, Pemerintah Pusat memiliki anggaran revitalisasi sekolah. Anggaran ini dialokasikan melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Dengan memanfaatkan anggaran itu, lanjutnya, kementerian meminta pihaknya untuk segera mengajukan proposal sebagai syarat pencairan anggaran tersebut.
“Itu kan artinya kalau kita disuruh buat proposal, kita dapat perhatian pusat juga setelah kita sampaikan dan laporkan kondisi di lapangan,” ujarnya.
Sebagai informasi, bangunan yang roboh tersebut seharusnya termasuk dalam ruang kelas yang pemerintah rehabilitasi melalui anggaran DAK Tahun 2024. Namun, sebagian pembangunan tersebut hingga saat ini belum dapat sekolah manfaatkan karena masih dalam proses penanganan hukum.
Perihal proyek molor DAK Dinas Pendidikan dan Kebudayaan 2024 ini, Syamsul memilih tidak berkomentar. Alasannya, karena proyek itu merupakan kasus lama dan dalam penanganan Aparat Penegak Hukum (APH).
“Lain ceritanya kalau DAK. Masih berkasus. Yang itu kasus lama. Hati-hati, nanti salah saya berkomentar,” ujarnya.
Anggaran Perbaikan Sekitar Rp400 Juta
Terpisah, Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (PUPRPKP), Lalu Wijaya Kusuma menyampaikan, pihaknya sudah melakukan perhitungan besaran anggaran perbaikan gedung tersebut. Nilainya, sekitar Rp400 juta.
“Kita tidak menghitung kerugian, tetapi recovery (pemulihan, red), besarannya sekitar Rp400 juta,” ujarnya.
Dinas PUPRPKP NTB mulai melakukan pengecekan terhadap bangunan terdampak. Sekaligus, menyiapkan langkah penanganan dan pembersihan lokasi.
Ia mengatakan, proses penanganan masih menunggu penyelidikan kepolisian karena area bangunan yang roboh saat ini masih terpasang garis polisi. “Saya juga diminta cek bangunan lain di sekolah tersebut, yang umur bangunannya seumuran,” katanya.
Sebelumnya, Syamsul Hadi menyampaikan, bangunan yang ambruk terdiri dari dua ruang kelas belajar di lingkungan SMAN 7 Mataram.
Peristiwa ini menyebabkan lima orang siswa mengalami luka-luka ringan. Sebanyak empat orang sudah pulang ke rumahnya, sementara satu siswa masih dalam perawatan.
“Sebanyak empat siswa telah kembali ke rumah, sementara satu siswa masih berada di rumah sakit untuk observasi dan penanganan trauma,” kata Syamsul, Selasa, 19 Mei 2026.
Peristiwa terjadi saat jam istirahat berlangsung, sehingga sebagian besar siswa berada di luar ruangan kelas. Syamsul mengatakan, berdasarkan hasil pemeriksaan awal, bagian struktur atap mengalami patah pada konstruksi kap sehingga menyebabkan bangunan ambruk.
“Konstruksi bangunan menggunakan rangka kayu dengan penutup atap berupa genteng beton,” katanya.
Ia memastikan, peristiwa ini tidak mengganggu proses belajar dan mengajar ke depan. Karena itu, untuk sementara pembelajaran pindah ke ruang kelas XII.
Pasalnya, siswa kelas XII sudah selesai mengikuti ujian. “Jadi untuk sementara kosong ruang kelasnya, maka dipakai ruangan itu,” katanya. (*)




