Molornya Proyek DAK 2024 Berujung Bangunan Lama SMAN 7 Mataram Roboh
Mataram (NTBSatu) – Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB, angkat bicara terkait peristiwa robohnya sebagian bangunan kelas SMAN 7 Mataram.
Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga NTB, Syamsul Hadi menyampaikan, bangunan yang ambruk terdiri dari dua ruang kelas belajar di lingkungan SMAN 7 Mataram
Peristiwa ini menyebabkan lima orang siswa mengalami luka-luka ringan. Sebanyak empat orang sudah pulang ke rumahnya, sementara satu siswa masih dalam perawatan.
“Sebanyak empat siswa telah kembali ke rumah, sementara satu siswa masih berada di rumah sakit untuk observasi dan penanganan trauma,” kata Syamsul, Selasa, 19 Mei 2026.
Juru Bicara Pemprov NTB, Ahsanul Khalik mengatakan, bangunan yang ambruk merupakan bangunan lama yang dibangun pada tahun 2006 lalu.
“Anggaran pembangunan ruang kelas itu bersumber dari dukungan sumbangan komite sekolah,” kata Aka, sapaan Ahsanul Khalik.
Bangunan itu, lanjut Aka, seharusnya termasuk dalam ruang kelas yang direhabilitasi melalui anggaran DAK Tahun 2024. Namun, sebagian pembangunan tersebut hingga saat ini belum dapat sekolah manfaatkan karena masih dalam proses penanganan hukum.
“SMAN 7 Mataram termasuk sekolah yang sebelumnya mendapatkan program pembangunan ruang kelas melalui DAK Tahun 2024,” ujarnya.
Seluruh anggaran program rehabilitasi tersebut telah pemerintah bayarkan, namun pembangunan ruang kelas belum terselesaikan sepenuhnya. “Apabila pembangunan dapat diselesaikan sesuai perencanaan, para siswa semestinya sudah dapat menggunakan ruang kelas baru yang lebih layak dan aman,” ungkapnya.
Karena itu, Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal mengarahkan seluruh pihak terkait untuk memprioritaskan penanganan dan pendampingan terhadap para siswa yang terdampak, termasuk memastikan seluruh biaya pengobatan Pemprov NTB tanggung.
Kronologi Kejadian
Peristiwa terjadi saat jam istirahat berlangsung, sehingga sebagian besar siswa berada di luar ruangan kelas.
Syamsul mengatakan, berdasarkan hasil pemeriksaan awal, bagian struktur atap mengalami patah pada konstruksi kap sehingga menyebabkan bangunan ambruk.
“Konstruksi bangunan menggunakan rangka kayu dengan penutup atap berupa genteng beton,” katanya.
Ia memastikan, peristiwa ini tidak mengganggu proses belajar dan mengajar ke depan. Karena itu, untuk sementara pembelajaran pindah ke ruang kelas XII.
Pasalnya, siswa kelas XII sudah selesai mengikuti ujian. “Jadi untuk sementara kosong ruang kelasnya, maka dipakai ruangan itu,” katanya.
Mengenai jumlah kerugian akibat insiden ini, Syamsul mengaku tidak mengetahuinya. Nilainya masih dalam proses perhitungan Dinas PUPRPKP NTB.
“Itu PUPRPKP yang hitung (kerugiannya),” ujarnya.
Untuk saat ini, lanjutnya, Pemprov NTB melalui tim teknis dari Dinas PUPRPKP NTB sedang melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Tujuannya, memastikan penyebab kejadian serta mengevaluasi kondisi bangunan lainnya di lingkungan sekolah. (*)




