Dandhy Jawab KSAD soal Pendanaan Film “Pesta Babi”, Singgung Biaya Politik dan Promosi Jabatan
Jakarta (NTBSatu) – Sutradara film dokumenter “Pesta Babi”, Dandhy Dwi Laksono menanggapi pernyataan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Maruli Simanjuntak terkait sumber pendanaan film garapannya bersama Cypri Paju Pale.
Dandhy menyebut, ia berhak menjawab sumber dana film tersebut memang ada. Namun ia menegaskan, tidak memiliki kewajiban mempertanggungjawabkan hal tersebut kepada publik layaknya pelaporan pajak.
“Pokoknya ada. Saya berhak menjawab pokoknya ada. Karena saya tidak mempertanggungjawabkan pajak. Lebih benar kalau saya ngomongnya ada,” ujar Dandhy dalam program Saksi Kata di YouTube Tribun Pekanbaru, mengutip dari akun X pribadinya, Rabu, 20 Mei 2026.
Ia kemudian menyinggung, besarnya rasa ingin tahu publik terhadap inisiatif sipil seperti produksi film dokumenter daripada sumber pendanaan dalam kegiatan politik maupun promosi jabatan.
“Tetapi orang lebih curious (penasaran, red) dengan inisiatif-inisiatif sipil seperti ini. Daripada dari mana duit (uang, red) Capres untuk Pemilu, dari mana duit parpol bisa bagi-bagi sembako, bisa bikin konser gede. Dari mana duit jenderal-jenderal polisi dan tentara ketika dia mau promosi jabatan?,” katanya.
Dandhy menegaskan, dalam karya jurnalistik maupun dokumenter, transparansi sumber pendanaan penting untuk menunjukkan independensi sebuah karya. Menurutnya, informasi mengenai pihak-pihak yang terlibat dalam pendanaan film “Pesta Babi” telah dicantumkan secara terbuka.
“Di semua karya jurnalistik yang paling penting adalah mendeklarasikan dari mana sumber beritanya, termasuk sumber pendanaan. Karena dari sana publik menilai apakah ini karya yang independen apa tidak,” tuturnya.
Ia menjelaskan, logo-logo lembaga yang tercantum dalam poster film merupakan para kolaborator yang ikut mendukung pendanaan produksi film tersebut.
“Di film ‘Pesta Babi’, setelah judul ‘Pesta Babi’, dan semua nama orangnya jelas, teman-teman bisa melihat logo-logo yang ada di poster film. Itulah para kolaborator. Jadi itulah lembaga-lembaga yang patungan untuk membiayai film ini,” ucap Dandhy.
Tidak Menerima Bayaran
Ia juga menyebut, seluruh kru yang terlibat dalam produksi film bekerja tanpa menerima bayaran, termasuk dirinya sebagai sutradara, Cypri Paju Pale, produser, director of photography, hingga videografer.
“Saya sebagai sutradara, Bang Cypri sutradara, para produser, para director of photography, videografer, itu enggak ada yang dibayar,” katanya.
Sebelumnya, KSAD, Jenderal Maruli Simanjuntak menyoroti sumber daya finansial di balik penggarapan film dokumenter “Pesta Babi” karya Dandhy Laksono dan Cypri Paju Pale.
“Sekarang permasalahannya, orang sampai membuat video, bagaimana ceritanya seperti ini segala macam, duit-nya dari mana?,” kata Maruli di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa, 19 Mei 2026.
Maruli juga menyinggung, biaya perjalanan dan proses produksi film tersebut. “Sampai datang ke sana, bikin video, terbang sini terbang sana, orang ber-duit lah,” ujarnya.
Namun saat dikonfirmasi awak media mengenai kemungkinan adanya pihak tertentu yang mendanai produksi film tersebut, Maruli tidak memberikan jawaban pasti. “Ya, silakan saja. Ya kan? Anda yang bilang ada yang mendanai ya,” tuturnya. (*)




