Breaking NewsPendidikan

Atap Dua Kelas SMAN 7 Mataram Ambruk, Empat Siswa Luka-luka

Mataram (NTBSatu) – Selasar dan atap dua ruang kelas di SMAN 7 Mataram ambruk pada Selasa siang, 19 Mei 2026. Kejadian ini mengakibatkan empat orang siswa mengalami luka ringan.

Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 12.00 Wita, tepat saat jam istirahat, salat, dan makan (isoma). Kondisi ini meminimalkan jumlah korban, karena mayoritas siswa sedang berada di luar ruang kelas atau di musala sekolah.

Kepala SMAN 7 Mataram, Ridha Rosalina menceritakan detik-detik mencekam saat struktur bangunan tersebut runtuh. Saat kejadian, ia sedang berada di dalam ruangan untuk bersiap menunaikan salat Zuhur.

IKLAN

“Baru rakaat pertama itu tiba-tiba suara gemuruh yang sangat besar. Kami keluar semua, guru semua bingung ini suara apa. Tahunya anak-anak pada ke ruangan ini,” ujar Ridha Rosalina saat memberikan keterangan di lokasi kejadian.

Ridha menjelaskan, dari dua kelas yang ambruk tersebut, salah satunya memang sudah dikosongkan. Sebab, kondisi plafon yang sebelumnya terlihat mulai membuka. Namun, kelas yang satu lagi (Kelas 11 B3) secara kasat mata masih tampak bagus dan rata, sehingga tetap digunakan untuk aktivitas belajar.

Terkait korban, ia memastikan, tidak ada siswa yang tertimpa langsung oleh material berat berkat tindakan penyelamatan diri yang cepat. Salah seorang siswa bahkan berinisiatif langsung berlindung di bawah meja.

IKLAN

“Yang empat orang itu cuman luka sedikit, tergores, dan sebagainya. Enggak sampai tertimpa, jadi mereka begitu langsung lari keluar, karena ada yang dekat pintu. Nah, yang agak jauh dari pintu ini dia berlindung di bawah meja,” tambah Ridha.

Para korban langsung dievakuasi oleh pihak sekolah ke Puskesmas terdekat, untuk mendapatkan penanganan medis dan saat ini kondisinya telah stabil.

Proses Evakuasi

Sementara itu, Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram, Budi Wartono mengatakan, pihaknya langsung turun ke lokasi sesaat setelah menerima informasi untuk bekerja sama dengan berbagai unsur. Mulai dari Personil Kaji Cepat BPBD, Tim Pemadam Kebakaran (Damkar), RSUD Kota Mataram, hingga aparat kelurahan setempat.

Budi menjelaskan, fokus utama penanganan cepat setelah evakuasi korban adalah mengamankan sisa harta benda sekolah yang tertinggal di dalam ruangan.

“Penanganan sementara tadi yaitu hanya melakukan evakuasi harta (benda) yang tertinggal di dalam ruang kelas, sudah dilakukan oleh teman-teman satgas dari Damkar,” kata Budi Wartono.

Untuk mengantisipasi area berbahaya, personel dari kepolisian dan polsek setempat juga telah memasang garis polisi guna membatasi aktivitas warga maupun siswa di sekitar reruntuhan.

Berdasarkan informasi awal, bangunan kelas tersebut berdiri sekitar 2006 atau telah berumur 20 tahun. Pihak BPBD menduga, ambruknya atap karena faktor usia bangunan yang sudah tua serta cuaca, seperti hujan atau angin kencang. Budi menegaskan, kajian teknis lebih mendalam nantinya oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR).

Menanggapi kejadian ini, BPBD Kota Mataram berencana mengintensifkan sosialisasi dan pengecekan kesiapsiagaan bangunan sekolah di tingkat SD hingga SMP di seluruh wilayah Kota Mataram. “Pencegahan lebih baik daripada kita melakukan penanganan kedaruratan,” tegas Budi. (*)

Artikel Terkait

Back to top button