Jaje Bantal Gapuk, Cita Rasa Warisan yang Bertahan di Tengah Deretan Penjual Anjani
Lombok Timur (NTBSatu) – Deretan lapak di sepanjang jalan Anjani menuju Aikmel bukan sekadar tempat singgah membeli camilan. Di lokasi itu, puluhan warga Desa Gapuk, Kecamatan Suralaga, Lombok Timur, menjaga tradisi yang telah berlangsung turun-temurun melalui jaje bantal gapuk, jajanan tradisional berbahan dasar pisang dan ketan yang hingga kini tetap menjadi buruan para pelintas.
Nama “bantal gapuk” bukan hanya merujuk pada bentuknya yang menyerupai bantal kecil. Sebutan itu juga berasal dari Desa Gapuk, tempat sebagian besar pembuat sekaligus penjual jajanan tersebut berasal.
Generasi demi generasi di Desa Gapuk, terus mengajarkan cara membuat bantal gapuk kepada anak-anak mereka. Tradisi itu, membuat hampir setiap keluarga di desa tersebut memiliki keterampilan meracik sekaligus menjual jajanan khas itu.
Jajanan tradisional ini dibuat dari ketan putih, pisang raja atau pisang ketip yang telah matang, santan, serta dibungkus menggunakan daun kelapa muda atau janur.
Pisang dipotong menjadi tiga bagian, kemudian dibalut dengan ketan sebelum dibungkus rapat menggunakan janur dan diikat menggunakan lidi.
Proses Pembuatan Cukup Panjang
Proses pembuatannya membutuhkan waktu yang tidak singkat. Sejak pagi, para pembuat mulai menyiapkan ketan, membersihkan daun pembungkus, hingga merangkai satu per satu bantal gapuk. Setelah semua selesai dibungkus, jajanan itu direbus menggunakan tungku kayu bakar selama sekitar empat jam.
Usai merebus selama sekitar empat jam, para pembuat tidak langsung membawa bantal gapuk ke lapak. Mereka menunggu hingga uap panasnya berkurang, kemudian menyusun jajanan itu untuk dijual.
Sejak menyiapkan bahan pada pagi hari hingga mulai menjualnya pada siang atau sore hari, para pembuat menghabiskan waktu lebih dari enam jam untuk menghasilkan bantal gapuk.
Murniati, salah seorang penjual, mengatakan, dirinya sudah puluhan tahun berjualan bantal gapuk. Ia mulai belajar membuat jajanan itu setelah menikah dan tinggal bersama keluarga suaminya di Desa Gapuk.
“Di sini memang sudah dari orang tua. Hampir semua warga bikin dan jualan bantal gapuk. Saya juga belajar dari mertua setelah menikah. Dari dulu sampai sekarang caranya masih sama karena memang sudah jadi tradisi di kampung kami,” ujarnya.
Meski di sepanjang jalan Anjani berdiri banyak lapak dengan dagangan yang sama, Murniati mengaku tidak pernah menganggap pedagang lain sebagai pesaing. Menurutnya, setiap orang memiliki rezekinya masing-masing.
“Kalau soal saingan, kami sudah biasa. Di sini semua jualan bantal gapuk, tapi kami tidak pernah saling iri. Kami percaya setiap orang sudah ada rezekinya sendiri. Kalau memang rezeki hari itu ada, dagangan pasti habis,” katanya.
Pertahankan Tradisi Penggunaan Kayu Bakar
Ia menjelaskan, warga Desa Gapuk tetap mempertahankan penggunaan tungku kayu bakar meski memasak dengan kompor gas dinilai lebih praktis. Menurutnya, kayu bakar menghasilkan rasa yang lebih enak dan membuat aroma bantal gapuk lebih khas.
“Masih pakai kayu bakar. Memang lebih lama, tapi menurut kami hasilnya lebih enak daripada pakai kompor gas. Dari dulu juga semua orang di sini memasaknya seperti itu,” ucapnya.
Dalam sekali memasak, Murniati biasanya menghabiskan sekitar tiga kilogram ketan. Jika dagangan ramai, seluruh bantal gapuk bisa habis dalam sehari.
Jika dagangannya belum habis pada hari pertama, Murniati kembali menjualnya keesokan hari. Apabila masih tersisa, ia menggoreng bantal gapuk tersebut sebelum membagikannya kepada tetangga agar tidak terbuang.
Perjalanan panjang jajanan ini juga terlihat dari perubahan harganya. Murniati mengenang, saat pertama kali berjualan, satu ikat berisi 12 buah bantal gapuk hanya dijual seharga Rp8 ribu. Kini, harga satu ikat mencapai sekitar Rp30 ribu seiring naiknya harga bahan baku.
Meski biaya produksi terus meningkat, Murniati tidak pernah berpikir meninggalkan usaha yang telah menjadi identitas desanya itu.
Baginya, berjualan bantal gapuk bukan sekadar mencari nafkah, tetapi juga menjaga warisan kuliner yang telah bertahan lintas generasi.
Bagi para pelintas menuju kawasan wisata Sembalun maupun Pelabuhan Kayangan, deretan lapak bantal gapuk sudah menjadi bagian dari perjalanan.
Di balik jajanan sederhana itu, warga Desa Gapuk terus menjaga warisan kuliner yang telah menghidupi keluarga mereka selama puluhan tahun. (*)




