Lombok TimurPendidikan

Delapan Tahun Berlalu, Bangunan SDN 2 Seruni Mumbul Bekas Robohan Gempa Belum Tersentuh

Lombok Timur (NTBSatu) – Delapan tahun berlalu sejak gempa mengguncang Lombok pada 2018 lalu, namun SDN 2 Seruni Mumbul, Kecamatan Pringgabaya, Lombok Timur, masih menyisakan bangunan yang roboh dan belum mendapat perbaikan.

Kondisi tersebut, membuat sekolah terus berhadapan dengan persoalan sarana belajar yang belum tuntas.

Bangunan tersebut roboh saat gempa susulan pada 2018. Saat itu, proses belajar mengajar masih berlangsung sehingga guru dan siswa langsung berhamburan keluar untuk menyelamatkan diri.

IKLAN

Guru SDN 2 Seruni Mumbul, Supratman Hadi mengatakan, kerusakan bangunan sebenarnya sudah muncul sejak 2015. Kondisinya semakin parah setelah gempa mengguncang Lombok pada 2018.

“Ketika gempa itu, bangunannya belum hancur betul, tapi mau hancur. Guru dan siswa takut sekali berada di bangunan itu,” ujarnya, Selasa, 11 Agustus 2026.

Menurutnya, bangunan tersebut sempat terlihat miring setelah gempa utama. Pihak sekolah memilih tidak menggunakan bangunan itu karena khawatir sewaktu-waktu roboh.

Kekhawatiran tersebut akhirnya terjadi ketika gempa susulan mengguncang wilayah tersebut. Atap bangunan roboh hingga bagian plafon kantor ikut runtuh.

Peristiwa itu membuat siswa berhamburan keluar karena takut tertimpa material bangunan.

“Waktu dia roboh, memang ada gempa susulan kecil. Anak-anak langsung berhamburan karena takut,” ujarnya.

Konsultan Pernah Datang

Pihak sekolah kemudian melaporkan kondisi tersebut kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Timur. Beberapa bulan setelah laporan masuk, tim konsultan datang untuk mengecek kondisi bangunan.

Supratman mengatakan, konsultan yang datang menyatakan sekolah membutuhkan perbaikan. Namun, setelah beberapa kali melakukan pengecekan, tindak lanjut pembangunan kembali tidak kunjung datang.

“Sudah pernah konsultan turun, bahkan sampai tiga sampai lima kali. Mereka mengatakan sekolah ini harus segera diperbaiki karena takut berdampak kepada anak-anak,” katanya.

Kepala SDN 2 Seruni Mumbul, Haeruddin mengatakan, sekolah terus berupaya mengusulkan perbaikan. Pihaknya telah membuat proposal permohonan bantuan dan melengkapi dokumen pendukung, termasuk foto kondisi bangunan.

Sekolah juga memperbarui data sarana dan prasarana melalui Dapodik sesuai arahan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Timur.

“Kami sudah membuat proposal permohonan bantuan untuk perbaikan. Dapodik juga sudah kami perbarui sesuai permintaan dinas,”jelasnya.

Haeruddin mengatakan, sejumlah pejabat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Timur juga sudah meninjau kondisi sekolah. Namun, peninjauan tersebut belum berlanjut pada pembangunan kembali bangunan yang roboh.

Sekretaris Dikbud Lombok Timur, Lalu Bayan mengatakan, sekolah harus mengusulkan kondisi kerusakan melalui Dapodik, untuk mengikuti program perbaikan dari pemerintah pusat.

Data tersebut kemudian menjadi dasar tim pusat dalam menentukan sekolah yang masuk prioritas.

“Kalau sudah diusulkan, ditunggu saja respons dari pusat. Kalau dari sisi kerusakan masuk sekolah prioritas, tentunya tim verifikasi pusat melalui universitas akan turun langsung ke lokasi untuk memvalidasi data,”kata Lalu Bayan.

Menurutnya, keterbatasan anggaran membuat pemerintah daerah tidak dapat menangani seluruh sekolah yang mengalami kerusakan.

Pemerintah pusat biasanya memprioritaskan sekolah dengan tingkat kerusakan lebih dari 50 persen.

“Yang persentase kerusakannya lebih dari 50 persen itu biasanya langsung dari pusat. Tapi tidak semua juga dapat sekarang, mungkin bisa tahun depan,” ujarnya.

Lalu Bayan membenarkan bahwa tim atau konsultan pernah meninjau SDN 2 Seruni Mumbul. Namun, tindak lanjut perbaikan tetap bergantung pada proses verifikasi dan kebijakan pemerintah pusat.

“Yang paling pokok, kita sudah upayakan semua. Mudah-mudahan cepat terealisasi,” ujarnya.

Ruang Kelas Tidak Layak

Persoalan sekolah tidak berhenti pada bangunan yang roboh. Ruang kelas 4, 5, dan 6 juga mengalami kerusakan. Atap ruangan bocor dan bagian plafon mulai lapuk.

Saat hujan turun, guru harus memindahkan siswa ke teras untuk menghindari risiko plafon jatuh. Kondisi itu membuat proses belajar mengajar semakin tidak nyaman.

Haeruddin berharap, pemerintah segera merealisasikan perbaikan. Terlebih, musim hujan berpotensi memperparah kerusakan bangunan sekolah.

“Harapan saya lebih cepat lebih baik daripada nanti kalau kita menunggu. Kami ingin perbaikan ini selesai sebelum datang musim hujan,” ujarnya. (*)

Artikel Terkait