INVESTIGASI – Dari Ruang Kelas ke Kamar Hotel: Pelajar SMP di Pusaran Prostitusi

Prostitusi kalangan pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Mataram seperti virus. Menjalar senyap dan eksklusif. Terungkap penggunanya sebagian dari kalangan pengusaha, ASN, pegawai BUMN, tokoh masyarakat. Investigasi ini menemukan pola kerja jaringan prostitusi anak, di tengah sulitnya Kota Mataram mengejar reputasi Kota Layak Anak (KLA).
“Kamu mau ketemu Om Andi lagi?,” tanya Memi.
“Takut, serem mukanya,” jawab Juni, adik tiri Memi.
“Tutup saja matamu, nggak usah liat mukanya,” Memi meyakinkan Juni.
Potongan percakapan tersebut antara Memi dengan adiknya, Juni, sekitar Bulan Juni tahun 2024 lalu.
Memi lalu memacu sepeda motor matic ke arah jalan utama Panca Usaha Cakranegara, kemudian masuk di salah satu jalur alternatif, Jl. Sadewa, Cilinaya, Kec. Cakranegara. Lalu berhenti di depan Hotel Kenda, tanpa ragu Juni langsung menuntun adik tirinya ke kamar paling ujung Timur. Di sana sudah menunggu Om Andi.
“Lalu saya tinggalkan adik saya ke Alfamart untuk beli minuman. Sekitar 20 menit kemudian saya kembali ke hotel Kenda dan menjemput adik saya,” tutur Memi kepada NTBSatu, Sabtu 21 Juni 2024.
Saat menjemput adiknya, Andi menjulurkan tangan dan memberikan Rp200 ribu ke Memi. Di luar tarif untuk adiknya.
“Berapa kamu dikasi Om Andi?,” tanya Memi.
“Rp1 juta,” jawab Juni polos.
Ini adalah perjumpaan kedua Andi Abdullah (51) dengan Juni atas perantara Memi.
Pertemuan pertama kalinya di Hotel Lombok Raya, penginapan bintang empat di wilayah Cakranegara April 2024.
Saat itu, Memi yang masih duduk di kelas 5 SD itu masih dalam kondisi virgin. Ditawarkan Rp15 Juta sesuai bujet yang disiapkan Andi Abdullah atau karib disapa Om Andi. Tapi akhirnya Om Andi hanya membayar Rp8 Juta dan diterima Memi.
Ia membagi ke Juni sebagian, tapi bukan dalam bentuk uang. Juni membelikan Android produksi China seharga Rp4 juta, sesuai keinginan adik tirinya itu.
Setiap kali terdesak kebutuhan uang, Memi bergantung dari uang yang diberikan Andi ke adiknya. Sekali waktu, Memi meminta ke Juni Rp100.000 untuk belanja.
Memi kembali terdesak kebutuhan ekonomi setelah konflik dengan suaminya. “Saya kabur dari rumah dan butuh uang,” ungkapnya.
Ia kembali menghubungi Andi Abdullah, menawarkan adiknya. Transaksi seks ketiga kalinya berlangsung di Hotel Kenda. Setelah 20 menit. Kejadiannya hampir sama, Memi mendapat Rp200.000 dari Andi. Sementara Juni diberikan Rp1 juta. “Lalu saya pinjam 100 ribu ke adik saya,” sebutnya.
Peristiwa itu sudah satu tahun berlalu. Tapi penyesalan masih menancap di benak Juni hingga saat ini. Kini, ia meringkuk di ruang isolasi Sentra Paramita Mataram, gedung Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial RI. Tempat penampungan perempuan dan anak yang berhadapan dengan hukum. Rangkaian peristiwa ini terungkap dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) saksi di Polda NTB. Andi kini telah ditetapkan sebagai tersangka–kasih keterangan tersangka apa. Kasus ini mencuat setelah ada seorang anak berusia SD melahirkan tanpa bapak. Rupanya dia adalah korban prostitusi anak dengan pelaku orang dewasa seperti Andi. Andi diduga ayah dari jabang bayi tersebut.