INVESTIGASI – Dari Ruang Kelas ke Kamar Hotel: Pelajar SMP di Pusaran Prostitusi

Flexing dan Gaya Hidup
Geng pertemanan anak yang terperangkap prostitusi jumlahnya tak sampai 10 orang. Dalam kasus ES, circle terdekatnya, terdapat tujuh anak perempuan. Mereka kerap berkumpul, saling curhat, dan membahas pengalaman mereka.
Terkadang hanya ngobrol soal om-om atau pelanggan yang pernah mengajak mereka kencan plus plus. Kadang pamer hasil yang didapat di luar tarif. Pelanggan yang tajir tak ragu membelikan mereka android, tas baru, bahkan dalam bentuk perhiasan emas.
Barang-barang berharga yang tak gampang mereka dapatkan dari orang tua masing masing.
Inilah yang menurut Psikolog dari Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Mataram, Pujiarohman, M.Psi, cermin dorongan gaya hidup dan masalah ekonomi.
“Kepingin tampil keren, oke, gaul, posting di sosial media adalah sesutau yang kulit. Dalam psikologi, persona, topeng-topeng,” terang Puji.
Sehingga, “topeng-topeng” tersebut muncul karena ada akar yang menyebabkan itu sangat besar terjadi.
Hasil kajiannya, relevan dengan kajian pada umumnya. Lingkungan dan perhatian orang tua berkontribusi. “Karena di sini ada kontrol value dari sosialnya. Siapa sosialnya anak ini?, dari kecil ya ada orang tua,” tuturnya.

Usia Anak Jadi Incaran
Aktivitas mereka tidak memiliki jadwal khusus, terkadang spontan berdasarkan pesanan. Anak-anak tetap bersekolah seperti biasa dan hanya menjajakan diri ketika ada kebutuhan mendesak atau klien tetap menghubungi.
Ketika kehabisan uang, pikiran mereka tertuju pada klien yang pernah memesan, atau pelanggannya. Tapi mereka memberi catatan bahwa ini bukan profesi atau pekerjaan tetap. Mereka ingin tetap sekolah laiknya anak anak normal lainnya. Hanya akan melayani pria hidung belang jika ada panggilan langsung atau lewat jaringan.
Transaksi biasanya dilakukan di hotel, dengan klien yang menentukan lokasi dan nomor kamar. Tidak ada pola berjenjang lewat mami, semuanya diatur langsung antara pemesan dan anak.
Seorang pelanggan penjaja seks usia anak asal Sumbawa, ER, memilih salah satu penginapan kelas Juni di belakang Hotel Golden Palace, Mataram. Di sekitar tempat ini, jadi rahasia umum favorit untuk transaksi dengan tarif bervariasi.
Ia biasanya order untuk menemaninya tidur dan istirahat selama beberapa hari beraktivitas di Kota Mataram. Pria ini memesan anak di bawah umur karena alasan khusus. “Tentu ada perbedaannya antara yang anak anak dengan yang dewasa,” ujar ER. Dengan tarif yang sudah disepakati, antara Rp350.000 sampai Rp500.000.
Hotel ini, selain beroperasi secara normal layaknya penginapan lain, juga melayani short time dengan tarif Rp150.000 untuk maksimal satu jam.
NTBSatu mendatangi hotel N, tempat biasa ER transaksi. Terletak paling ujung di antara hotel dan kos kosan lain. Jalan selebar 4 meter ini ujungnya buntu.
Seorang perempuan bergegas keluar dari ruang resepsionis saat NTBSatu baru tiba di halaman hotel seukuran lapangan futsal yang sekaliguas jadi tempat parkir. Perempuan mengenakan celana panjang kain dan hoodie warna hitam itu menyebut, tarif untuk short time Rp150.000. Tarif normal Rp350.000.
“Kalau pasangan, biasanya bawa sendiri mas,” jawabnya saat ditanya adakah disediakan “teman” tidur.
ER yang kerap menggunakan kamar itu untuk short time, sudah hafal alur kedatangan anak dan polanya. “Biasanya, mereka diantar. Ada yang diantar pacarnya, ada yang diantar maminya. Mereka biasanya tunggu di halaman hotel. Antara 20 sampai 30 menit. Lalu keluar ke penjemputnya,” ceritanya.
Di luar sewa tempat, pembayaran tergantung kesepakatan. Perantara umumnya mendapat komisi 10–20 persen. Namun karena banyak yang masih polos, beberapa anak sering kali ditipu dalam soal bayaran.
Prostitusi anak juga merasakan pahit getirnya seperti penjaja seks komersil lainnya. Seperti ulah salah satu perantara. Anak yang dijual seharga Rp1 juta, tapi hanya diberikan 50 persen atau Rp500.000 kepada si anak. Sisanya diambil perantara.
Pun tidak semua transaksi berjalan mulus. Selain potongan sepihak, beberapa klien bahkan enggan membayar setelah transaksi seks.
Pengalaman buruk dialami seorang teman SMP ER. Awalnya tak menaruh curiga, karena ia yakin klien itu tajir. Tunggangannya mobil cukup bagus, lantas mengumbar janjitarif Rp 2 juta. Tapi setelah “dipakai”, tiba tiba diturunkan paksa di pinggir jalan.
Sejak kejadian itu, ER dan jaringannya takut dan trauma. Akhirnya dibuat kesepakatan, mereka tak melayani panggilan jika belum bayar di depan.
Pengalaman ini juga dirasakan NTBSatu setelah sepakat bertemu dengan salah seorang anak SMP di salah satu kedai di Cakranegara, Mataram, Minggu 13 Juli 2025 sekitar Pukul 20.15 Wita. Ia minta transfer ke rekeningnya Rp1,5 juta.
Menurut perantaranya, SR, anak ini masuk kategori debut di dunia prostitusi. Selain tarif lebih mahal, cenderung hati hati.