INVESTIGASI – Dari Ruang Kelas ke Kamar Hotel: Pelajar SMP di Pusaran Prostitusi

Korban Dahulu, Jadi Pelaku Kemudian
Di lingkungan sekolah, prostitusi anak bergerak seperti sel sel yang tak mudah terbaca. Apalagi oleh guru yang hanya fokus mengurus kurikulum, tanpa mendalami karakter dan perubahan sikap serta perilaku siswi.
Prostitusi anak, khususnya kalangan SMP, membentuk jaringan yang simpulnya sangat tertutup, sebab hanya diketahui mereka yang berjejaring. Sehingga dalam beroperasi, cukup teroganisir.
Seorang anak yang jadi pemain, awalnya datang sebagai siswi polos di kelasnya. Datang sesuai jadwal, begitu juga kepulangan.
Sebuah sekolah di belahan Barat Kota Mataram, anak anak yang belum genap syarat usianya untuk berkendara, dijemput orang tuanya. Pintu keluar sekolah satu satunya, berhimpitan langsung dengan jalan utama sekolah dua lantai tersebut. Kadang memicu kemacetan saat jam jam pulang sekolah.
Sehingga semua tampak normal dan kasat mata tak ada yang aneh apalagi mencurigakan.
Ada fakta berbeda ketika menyelami pergaulan di dalam sekolah, khususnya ruang kelas. ES membagikan pengalamannya. Kakak kelasnya yang mulai mengenalkan mereka di dunia hitam ini.
“Aku tahu ini dari kakak kelas. Mereka kayak mentor, ngajarin cara main bersih biar nggak ketahuan guru,” ujar ES.
Di lingkungan sekolah, para pelaku tidak menunjukkan gelagat mencurigakan. Mereka berpakaian rapi, mengikuti pelajaran seperti biasa, dan bersikap seperti anak sekolah lainnya.
“Kita semua lugu kelihatannya. Di sekolah nggak ada yang curiga, guru pun enggak tahu,” tambahnya.
Komunikasi antar anggota jaringan dan pemesan dilakukan diam-diam, umumnya lewat pesan pribadi.
Selain menawarkan dirinya sendiri, ES juga mulai menjadi perantara bagi teman-temannya.
“Awalnya aku sendiri yang jalan. Tapi lama-lama teman satu circle juga aku tawarin. Bukan maksud maksa, tapi kita semua saling tahu kondisi masing-masing,” jelasnya.
Peran dalam jaringan ini tidak selalu tetap, tetapi ada yang secara tidak resmi menjadi perekrut, penghubung, dan pengatur waktu atau tempat bertemu.
Ketika ada permintaan dari klien, prosesnya cenderung cepat dan tertutup. Klien biasanya berasal dari kalangan dewasa: pengusaha, pejabat, aparat, bahkan tokoh masyarakat.
“Ada yang kerja di BUMN, ada polisi, bahkan kepala sekolah. Tapi mereka datang sebagai ‘pribadi’, bukan lewat jabatan,” ungkap ES.
Pengalaman berkesan ES saat diorder seorang anggota Polisi. Ia mengira akan ditangkap. Ternyata bagian dari pelanggannya.
Fenomena prostitusi anak di kalangan SMP ini dibumbui dengan alur dan pola layaknya praktik yang sama untuk tingkat dewasa.
Anak sebagai pelaku prostitusi, mendapat pesanan beragam berdasarkan selera dan permintaan klien. Beberapa menyukai anak yang terlihat polos dan bertubuh mungil, sementara yang lain menginginkan anak yang sudah lebih ‘berisi’.
Pertanyaan pertanyaan terbuka seperti “temenmu ada yang bodinya berisi nggak?”, “Ada yang masih kelihatan lugu?”, jamak didengar perantara dari calon pemesan.
Interaksi semacam ini hanya terbatas di kalangan mereka. Calon pengguna harus melalui proses pekenalan untuk mengakses jasa salah satu di antaranya. Teman sekelas atau kakak tingkat yang lebih “senior”.
Saat order masuk, perantara adalah yang pertama dihubungi. Mereka menentukan siapa yang akan dipanggil, berdasarkan permintaan klien dan ketersediaan anak.
Setelah ada kesepakatan, mereka menentukan tempat untuk transaksi. Seperti yang dilakukan DK, memilih Hotel Lombok Plaza, karena alasannya punya fasilitas lengkap. Seperti room karaoke, bar, sekaligus kamar untuk check in. Kebetulan, anak yang ia order, minta service karaoke.
Ia “menyewa” anak usia SMP itu lewat jaringan pertemanan dengan seorang perempuan inisial C. DK menghubungi C lewat panggilan Whatsapp Tanggal 20 Juni 2025 lalu, tiga hari jelang libur sekolah nasional. Tapi saat itu, target kesulitan izin keluar rumah malam hari. “Kalau alasannya izin belajar kan gak mungkin, karena udah selesai ulangan,” ujar DK.
Kesempatan ia dapatkan justeru setelah selepas libur sekolah, karena alasan diskusi kelompok atau bahas pelajaran untuk tahun ajaran baru. Alasannya dibuat seputar urusan belajar agar dapat izin orang tua.
Sulit Lepas dari Aktivitas Prostitusi
Jarum jam berdetak mendekati Pukul 23.30 Wita saat angin malam Mataram dan Lombok Barat berhembus dingin, suhu menurun hingga 23 derajat Celsius pada Kamis, 17 Juli 2025
Di sebuah kafe tuak (sebutan minuman keras tradisional) di Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat, tiga perempuan muda datang satu per satu, melebur dalam keramaian malam. Mereka adalah pemandu karaoke.
Biasa disebut Lady Companion (LC). Mereka saling mengajak untuk menjemput penghasilan dari gelas-gelas miras yang dihidangkan.
“Kalau kita sih selalu bertiga,” kata seorang dari mereka kepada NTBSatu, sambil membenarkan tali tanktop yang melorot, menyembul tato yang menghiasi sebagian tubuh mudanya.
Perempuan itu masih berusia 20 tahun, dengan rambut yang terurai panjang dan wajah yang lebih sering menunduk saat bicara. Ia menolak namanya disebut, namun bersedia bercerita tentang jejak langkahnya hingga malam itu.
Dia memulai profesi sebagai LC ketika masih duduk di bangku kelas 3 MTS di sebuah pondok pesantren. Usianya waktu itu masih sekitar 14 atau 15 tahun.
“Awalnya saya bolos sekolah,” ucapnya dengan suara tenggelam dalam denting gelas dan musik karaoke yang samar terdengar.
Bolos sekolah itu menjadi pintu masuk ke dunia yang saat ini menjadi tempatnya menggantungkan hidup. Ia masih ingat jelas duduk pertama kali dengan seorang laki-laki yang memberikan uang Rp50 hingga Rp100 ribu. Saat itu, keinginannya untuk melanjutkan sekolah seperti hilang begitu saja.
“Karena enak dapat uang, lumayan kan. Saya akhirnya ikut-ikut,” katanya.
Senada dengan itu, perempuan lainnya juga mengaku pertama kali terjun ke dunia “malam” sejak dia berusia di bawah umur. Dia lupa memulai di antara kelas 2 atau 3 SMP. Kini usianya menginjak angka 18 tahun.
“Siapapun bisa aja sih memesan, yang penting ada uang,” ujarnya menjawab ketika ditanya siapa saja yang bisa memesannya.
Mereka juga bisa diajak ke tempat lain. Tidak hanya di tempatnya di kafe tuak. Perempuan kedua tersebut mengaku mereka sudah “berjalan” sejak empat tahun lalu. Saat usia ketiganya masih anak di bawah umur.
“Makanya kalau kita, satu yang diganggu, kita gerak semua. Jangan macem-macem,” ucapnya sembari memesan sebungkus rokok dan makanan ringan untuk menemani minuman keras.
Suasana hening sempat menjadi jeda obrolan kami. Iringan musik dj dan sesekali sekelompok LC tersebut berjoget menyambut iringan musik.
“Kalau saya sekarang usianya 20 tahun,” ujar perempuan ketiga memotong keheningan.
Perempuan yang kala itu mengenakan pakaian terbuka berwarna hitam tersebut mengaku sudah menjanda. Dia baru melahirkan anak pada beberapa bulan lalu. “Makanya, kita lagi cari uang untuk beli susu sama popok ini,” akunya dengan nada bercanda.
Ketiganya tidak memakai aplikasi daring seperti pekerja seks lainnya. Mereka hanya bisa dipesan lewat mulut ke mulut. Lewat kenalan, pelanggan lama, atau orang yang sudah tahu cara memesan mereka. Tarif mereka untuk “dibawa keluar” biasanya mulai dari Rp1 juta ke atas.
“Yoh, iya sih. Ga boleh terbuka umum kaya orang-orang,” katanya tersenyum sembari mencubit satu teman perempuannya.
Ia tak mengelak, uang yang didapatnya bisa lebih untuk kebutuhan hidupnya. Dari penghasilannya, mereka juga bisa pergi pesta atau dugem di tempat mewah wilayah Kota Mataram. “Tapi masih enakan di tempat begini (kafe tuak),” ujarnya.
Mereka memang tidak bisa ditemui sembarangan. Seperti orang-orang yang aktif “menjual” di aplikasi handphone. Tidak bisa juga bertemu di tempat hiburan malam yang memiliki izin resmi. Hal itu juga dibenarkan salah satu mucikari dihubungi NTBSatu secara terpisah.
“Mana bisa kalau di tempat yang berizin. Lebih banyak di lokasi (disebut lengkap daerah kafe tuak yang menyediakan anak di bawah umur),” ujarnya.
Lokasi mereka bekerja memang tersebar di pelosok Kota Mataram dan Lombok Barat. Tempat-tempat yang jauh dari pantauan.
Cerita sang mucikari ini juga sesuai dengan pengakuan seorang pria yang pernah memakai jasa LC anak di bawah umur di salah satu kafe tuak di Lombok Barat. “Anak SMP sekitar kelas satu atau dua,” ucapnya.
Ia “mendapatkan” anak itu saat sedang duduk bersama rekan-rekannya. Berdasarkan pengakuan perempuan, ia awalnya “bekerja” di salah satu kafe wilayah Kota Mataram. Namun karena pernah terjaring oleh kepolisian si perempuan pun pindah ke wilayah Lombok Barat, tidak jauh dari Kota Mataram.
“Saya kalau tidak salah membayar Rp100 sampai Rp200 ribu,” ucapnya.