Daftar 7 Ilmuwan Nuklir Iran yang Tewas Diserang Israel
Jakarta (NTBSatu) – Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Israel mengumumkan telah melancarkan serangan pendahuluan terhadap Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026 waktu setempat.
Pemerintah Israel menyatakan, operasi tersebut merupakan bagian dari langkah keamanan menghadapi ancaman strategis dari Teheran.
Konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat telah berlangsung selama puluhan tahun dan menelan banyak korban, termasuk tokoh militer maupun ilmuwan yang terlibat dalam program nuklir Iran.
Sejak 2010, sejumlah ilmuwan nuklir Iran dilaporkan tewas dalam pembunuhan yang kerap dikaitkan dengan upaya menghambat pengembangan nuklir negara tersebut.
Berikut 7 ilmuwan nuklir Iran yang dilaporkan tewas dalam operasi yang dikaitkan dengan Israel dalam beberapa tahun terakhir:
1. Fereydoon Abbasi
Fereydoon Abbasi-Davani merupakan insinyur nuklir sekaligus anggota Korps Garda Revolusi Islam, yang pernah menjabat sebagai Kepala Organisasi Energi Atom Iran periode 2011–2013. Ia merupakan tokoh konservatif dan mantan anggota parlemen Iran.
Abbasi tewas dalam serangan udara pada 13 Juni 2025, setelah sebelumnya selamat dari upaya pembunuhan pada 2010. Ia dikenal sebagai pembela kuat program nuklir Iran yang disebutnya sebagai bagian dari kedaulatan nasional.
Dalam wawancara 2012, ia juga mengakui Iran pernah menyamarkan informasi tertentu kepada Badan Energi Atom Internasional dan intelijen Barat.
2. Saeed Borji
Saeed Borji merupakan fisikawan dan insinyur nuklir lulusan Malek-Ashtar University of Technology. Ia merupakan ilmuwan senior dalam lingkaran pengembangan teknologi pertahanan Iran.
Borji tewas dalam serangan udara Israel pada Juni 2025. Pada 2019, Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi terhadapnya atas dugaan keterlibatan dalam pengembangan peralatan pertahanan Iran. Media Israel menyebut, ia berperan dalam desain detonator nuklir, meski klaim tersebut dibantah pihak Iran.
3. Ahmadreza Zolfaghari Daryani
Ahmadreza Zolfaghari Daryani adalah profesor fisika nuklir sekaligus Dekan Fakultas Ilmu Nuklir di Shahid Beheshti University. Ia merupakan peneliti fisika reaktor serta teknologi siklus bahan bakar nuklir.
Ia tewas dalam serangan udara Israel pada Juni 2025. Israel menyebutnya, sebagai pakar dengan keahlian strategis yang berpotensi terkait pengembangan persenjataan, sementara Iran menegaskan program nuklirnya bertujuan sipil.
4. Abdolhamid Minouchehr
Abdolhamid Minouchehr merupakan akademisi senior dan Kepala Fakultas Teknik Nuklir di Shahid Beheshti University. Ia berperan dalam pengembangan pendidikan serta riset teknik nuklir di Iran.
Minouchehr tewas dalam serangan Israel pada Juni 2025 yang menghantam kediamannya. Media Iran melaporkan sejumlah anggota keluarganya juga menjadi korban. Israel menyebut, operasi tersebut bagian dari upaya melemahkan kapasitas pengayaan uranium Iran.
5. Mohammad Mehdi Tehranchi
Mohammad Mehdi Tehranchi merupakan fisikawan teoretis dan profesor di Shahid Beheshti University serta Presiden Islamic Azad University.
Ia tewas dalam serangan Israel pada 13 Juni 2025. Tehranchi merupakan pakar fisika lanjutan serta pernah menyampaikan pidato kebijakan sains di hadapan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei tentang pentingnya ilmu pengetahuan bagi kedaulatan nasional.
6. Seyyed Amir Hossein Faqhi
Seyyed Amir Hossein Faqhi adalah deputi di Organisasi Energi Atom Iran sekaligus dosen di Shahid Beheshti University. Ia terlibat dalam proyek pembangkit listrik nuklir dan riset pemanfaatan teknologi nuklir untuk pengobatan kanker.
Faqhi tewas dalam serangan pembuka konflik Iran–Israel pada 13 Juni 2025 ketika rudal menghantam rumahnya. Dalam serangan yang sama, beberapa ilmuwan lain juga dilaporkan tewas.
7. Akbar Motlebizadeh
Akbar Motlebizadeh merupakan ilmuwan nuklir dengan keahlian teknik kimia, serta dosen di Shahid Beheshti University dan Islamic Azad University cabang Yazd.
Ia tewas dalam serangan Israel pada 13 Juni 2025 di wilayah Absard, Provinsi Teheran. Kemudian, otoritas AS pernah menjatuhkan sanksi terhadapnya pada 2019 atas dugaan keterlibatan dalam riset persenjataan. Ia juga pernah menjadi penasihat ilmuwan nuklir Iran, Mohsen Fakhrizadeh. (*)



