Trump Ancam Hancurkan Iran Sambil Ucap Alhamdulillah: Buka Hormuz atau ke Neraka
Jakarta (NTBSatu) – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump kembali melontarkan ancaman keras kepada Iran terkait penutupan Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak global di tengah konflik yang masih berlangsung antara kedua pihak.
Dalam pernyataannya di media sosial Truth Social yang NTBSatu kutip Senin, 6 April 2026, Trump mengancam akan menggempur fasilitas publik Iran. Termasuk pembangkit listrik dan jembatan, jika Teheran tidak segera membuka akses Selat Hormuz bagi kapal-kapal internasional.
“Selasa akan menjadi ‘Hari Pembangkit Listrik’ dan ‘Hari Jembatan’, semuanya digabung menjadi satu di Iran. Tidak akan ada yang seperti itu!!! Buka Selat sialan itu atau kalian akan hidup dalam neraka. Lihat saja, segala puji bagi Allah (Alhamdulillah),” tulis Trump.
Dalam unggahan lainnya, Trump menyebut waktu spesifik, yakni Selasa pukul 20.00 waktu bagian Timur, yang diduga merujuk pada rencana waktu serangan Amerika Serikat ke Iran. Ancaman serupa sebelumnya juga Trump sampaikan pada 26 Maret 2026.
Tanggapan Iran
Pernyataan tersebut menuai kecaman dari pihak Iran. Perwakilan Iran di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menilai, ancaman itu sebagai tindakan yang berpotensi melanggar hukum internasional.
Mengutip laporan Al Jazeera, utusan Iran di PBB menyatakan, Presiden Trump kembali secara terbuka mengancam akan menghancurkan infrastruktur penting yang menopang kehidupan warga sipil.
“Komunitas internasional dan semua negara memiliki kewajiban hukum untuk mencegah tindakan kejahatan perang yang keji tersebut. Mereka harus bertindak sekarang,” ujarnya.
Iran juga menegaskan, akan membalas setiap serangan Amerika Serikat maupun sekutunya, termasuk Israel.
Di tengah ancaman tersebut, Trump juga mengklaim tengah mengupayakan negosiasi untuk mencapai gencatan senjata, bahkan sempat menunda rencana serangan terhadap fasilitas energi Iran. Namun, Iran tetap menolak membuka akses Selat Hormuz bagi Amerika Serikat dan sekutunya.
Konflik antara AS dan Iran yang turut melibatkan Israel, telah berlangsung sejak 28 Februari dan kini memasuki pekan kelima. Serangan intensif tersebut menyebabkan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei serta ribuan warga sipil tewas.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan ke Israel dan aset-aset milik AS di kawasan Teluk. Sekaligus menutup Selat Hormuz sebagai bentuk tekanan terhadap kedua negara tersebut.
Penutupan jalur strategis ini memicu kekhawatiran krisis energi global. Sejumlah negara mulai mengambil langkah antisipatif, seperti menerapkan kebijakan kerja dari rumah bagi aparatur sipil negara hingga membatasi pembelian bahan bakar minyak. (*)



