60 Titik Program ‘Tempah Dedoro’ di Jempong Baru Masih Terkendala Lokasi
Mataram (NTBSatu) – Program inovasi pengelolaan sampah “Tempah Dedoro” milik Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram di Kelurahan Jempong Baru, Kecamatan Sekarbela, hingga saat ini belum tereksekusi.
Pihak kelurahan mencatat ada total 60 titik yang targetnya tersebar di 12 lingkungan, namun penentuannya masih terkendala kepastian lahan dan lokasi.
Lurah Jempong Baru, Fika Wulan Hartati menjelaskan, meskipun anggaran dari pemerintah daerah sudah siap di tingkat kelurahan, realisasi di lapangan belum berjalan sama sekali karena proses penentuan lokasi yang cukup selektif.
“Saya belum sampai sejauh ini, belum (eksekusi). Anggaran di kelurahan memang semua kelurahan ada, cuma saya belum karena masih cari lokasi yang belum fix (selesai, red),” ujar Fika, Rabu, 15 Juli 2026.
Target 60 Titik di 12 Lingkungan
Program “Tempah Dedoro” menyasar seluruh lingkungan yang ada di Jempong Baru secara merata. Dengan total 12 lingkungan yang ada, masing-masing wilayah targetnya akan memiliki lima titik Tempah Dedoro.
Fika menekankan, pengerjaan program ini harus berjalan bersamaan, serentak pada seluruh lingkungan setelah semua lokasi sudah siap.
“Lokusnya semua lingkungan ada. Satu lingkungan itu lima titik. Saya ada 12 lingkungan, berarti ada 60 titik. Belum ada sama sekali (realisasi) dari 12 lingkungan, karena dia kan harus serempak,” tambahnya.
Kendala Lahan dan Komitmen Pengelolaan
Lebih lanjut, Fika mengungkapkan bahwa hambatan terbesar di lapangan bukan masalah anggaran, melainkan penentuan tempat. Hingga saat ini, ada tiga lingkungan di kawasan perumahan (BTN) Kelurahan Jempong Baru. Namun, lokasi pastinya belum pada tahapan survei dan kesepakatan bersama kepala lingkungan (Kaling).
Pihak kelurahan menginginkan agar fasilitas program “Tempah Dedoro” ini nantinya ditempatkan di fasilitas umum (fasum) agar bisa digunakan bersama, bukan di trotoar jalan yang hanya menjadi pilihan terakhir. Selain itu, aspek keberlanjutan dan pengawasan setelah fasilitas terbangun menjadi perhatian utama.
“Rata-rata masalah tempat sih. Saya ingin tempat yang bisa dipakai bersama. Dan memang ini sebenarnya harus berkelanjutan, harus ada yang jaga, harus ada yang kelola. Takutnya nanti dibongkar atau malah semua-mua dibuang di sana,” jelas Fika. (*)




