Kota Mataram

Komunikasi Terakhir NDR ke Teman AM: Sempat Balas Poster di Grup, Lalu Hilang Kontak

Mataram (NTBSatu) – Teman satu kelompok Asistensi Mengajar (AM) mahasiswi Universitas Mataram (Unram) berinisial NDR, mengungkap komunikasi terakhir mereka dengan korban sebelum ditemukan meninggal dunia di kamar kosnya.

Ketua kelompok AM NDR di SDN 23 Ampenan, Mar’atun Sholihah mengatakan, komunikasi terakhir dengan korban terjadi pada Jumat malam, 15 Mei 2026, sekitar pukul 21.58 Wita. Saat itu mereka masih membahas program kerja kelompok di grup percakapan AM.

“Komunikasi hari Jumat malam, sekitar jam 9,” ujar Mar’atun kepada NTBSatu, Senin, 25 Mei 2026.

IKLAN

Sebelumnya, mereka sempat bertemu pada Jumat siang untuk melatih tarian perpisahan yang rencananya tampil pada Senin. Meski hari itu libur, kelompok AM tetap datang ke sekolah untuk latihan bersama murid-murid.

“Jumat itu kami ketemu. Walaupun libur, kami tetap latihan nari buat acara perpisahan hari Senin,” katanya.

Usai latihan, mereka masih membahas tambahan program kerja (proker) untuk sekolah tempat menjalani AM. “Habis itu kami bahas proker lagi, kira-kira apa yang mau ditambah di sekolah,” ujarnya.

IKLAN

Pembahasan berlanjut pada malam hari di grup AM. Saat itu, teman-temannya menanyakan tambahan poster kegiatan dan NDR sempat membalas pesan tersebut.

“Malamnya di grup kami bahas proker juga. Dia sempat balas jam 9 lewat. Kami nanya soal tambahan poster,” kata Mar’atun.

Mengenai isi balasan NDR, ia mengatakan korban hanya mengirim satu kata. “Balasnya cuma satu kata, ‘poster’ aja,” ucapnya.

Hilang Kontrak Sejak Sabtu

Setelah pesan itu, teman-temannya mulai sulit menghubungi NDR. Pada Sabtu pagi sekitar pukul 11.00 Wita, Mar’atun kembali mengirim pesan di grup AM.

Namun, pesan tersebut hanya menunjukkan centang satu hingga Minggu. “Sabtu pagi sekitar jam 11 saya chat lagi di grup AM, tetapi pesannya cuma centang satu,” katanya.

Kondisi itu membuat teman-temannya merasa heran, karena NDR dikenal aktif dan mudah dihubungi. “Sampai Minggu masih centang satu. Kami kira mungkin enggak ada kuota atau bagaimana,” ujarnya.

Menurut Mar’atun, hilangnya komunikasi selama dua hari terasa tidak biasa. “Iya, tumben hilang. Dua harian enggak ada kabar,” katanya.

Padahal, mereka sudah berjanji bertemu pada Senin untuk kembali membahas program kerja tambahan di sekolah. “Kami sudah janjian hari Senin mau bahas lagi apa yang kurang di sekolah,” ucapnya.

Namun pada Senin dini hari, Mar’atun justru menerima kabar duka dari seorang temannya asal Sumbawa. “Subuh-subuh saya dikasih tahu teman dari Sumbawa kalau Nadya meninggal,” katanya.

Kabar itu membuatnya dan teman-teman AM sangat terkejut karena sebelumnya NDR terlihat seperti biasa. Mar’atun mengatakan, selama menjalani program AM bersama, ia tidak pernah melihat tanda-tanda korban sedang memiliki masalah.

Ia mengenal NDR sebagai pribadi ceria dan aktif menyapa lebih dulu. “Dia memang anaknya ceria banget. Kalau ketemu, dia yang nyapa duluan,” katanya.

Ia berharap, aparat penegak hukum segera mengusut tuntas kasus tersebut. “Semoga pelakunya cepat ketemu dan diadili seadil-adilnya,” harapnya. (*)

Artikel Terkait

Back to top button