Desa Berdaya Transformatif 1: Jejak Kehidupan Lahirkan Gagasan, Warisan Empati dari Pasar Senggol
Mataram (NTBSatu) – Sebuah gagasan besar selalu berawal dari perjalanan hidup yang panjang. Hal itu tampak pada lahirnya konsep Desa Berdaya Transformatif, sebuah pendekatan pembangunan yang berakar pada pengalaman hidup Gubernur NTB, Lalu Muhammad Iqbal, sejak masa kanak-kanak.
Nilai empati, pengabdian, serta pengalaman melihat berbagai negara menjadi fondasi utama lahirnya gagasan tersebut.
Kisah itu bermula dari Kota Pasuruan pada dekade 1950-an. Pasar Senggol menjadi ruang pertama yang memperkenalkan nilai kemanusiaan kepada keluarga Lalu Muhammad Iqbal.
Pasar tradisional tersebut setiap hari mempertemukan petani, pedagang, buruh, ibu rumah tangga, hingga pencari nafkah dalam satu denyut kehidupan.
Hajjah Sofijah membesarkan putri tunggalnya, Hajjah Alimah, di tengah suasana pasar tersebut. Sang ibu tidak sekadar mengajarkan cara berdagang, tetapi juga menanamkan kepedulian terhadap sesama.
Hajjah Alimah menyaksikan secara langsung perjuangan banyak orang mencari nafkah, sekaligus memahami bahwa kesempatan hidup setiap orang tidak selalu sama. Pengalaman itu membentuk rasa empati sejak usia muda.
Kemudian, Alimah tumbuh bersama tiga putra Kiai Haji Abdul Hamid Pasuruan atau Mbah Hamid, seorang ulama kharismatik yang masyarakat kenal karena karomah dan kewaliannya.
Restu Mbah Hamid akhirnya meluluhkan hati ayah Alimah, hingga mengizinkan putrinya menikah lalu menetap bersama suaminya di Praya, Lombok Tengah.
Nilai Kehidupan Mengalir kepada Anak
Setelah membangun keluarga, Alimah mewariskan nilai-nilai kehidupan tersebut kepada putranya, Lalu Muhammad Iqbal. Sejak kecil, Iqbal tumbuh dekat dengan masyarakat karena ayahnya aktif sebagai tokoh masyarakat.
Sang ibu juga sering mengajaknya mengunjungi berbagai desa, mengikuti penelitian pertanian, serta mendampingi aktivitas bersama organisasi nonpemerintah lokal maupun internasional.
Beragam pengalaman itu membekas kuat dalam ingatan. “Yang saya alami pada masa kecil itu melekat di hati dan pikiran saya,” ungkap Iqbal, Senin, 13 Juli 2026.
Kalimat tersebut menjadi penjelasan mengapa setiap pembahasan tentang kemiskinan selalu menghadirkan wajah manusia dalam pikirannya, bukan sekadar angka statistik. Cara pandang tersebut kemudian berkembang menjadi fondasi awal gagasan Desa Berdaya Transformatif.
Perjalanan hidup Iqbal berlanjut saat memasuki usia 14 tahun. Ia meninggalkan Lombok untuk menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Assalam Solo.
“Saya meninggalkan kampung halaman usia 14 tahun,” tambahnya.
Setiap masa liburan, Kiai Haji Idris Hamid mengarahkannya melanjutkan pendalaman kitab kuning di Pondok Pesantren Salafiah, pesantren peninggalan Mbah Hamid.
Lingkungan pesantren membentuk karakter pengabdian dan kepedulian sosial. Nilai tersebut semakin kuat berkat perjuangan ibunya sebagai orang tua tunggal.
Pengalaman itu melahirkan keyakinan bahwa pembangunan bukan sekadar mengejar angka keberhasilan, melainkan menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.
Pengalaman Global Perkuat Cara Pandang
Karier sebagai diplomat Kementerian Luar Negeri selama hampir tiga dekade membuka kesempatan bagi Iqbal mempelajari berbagai model pembangunan dari banyak negara.
Ia mengamati cara pemerintah mengelola sumber daya, memperkuat pelayanan publik, serta membangun kesejahteraan masyarakat melalui pendekatan yang menyeluruh.
Menurutnya, keberhasilan pembangunan tidak hanya bertumpu pada bantuan sosial. Pendidikan, kesehatan, keterampilan kerja, kesempatan berusaha, serta penguatan ekonomi keluarga harus berjalan secara bersamaan agar masyarakat mampu mandiri.
Semakin luas pengalaman internasional yang ia peroleh, semakin kuat keyakinannya bahwa setiap daerah memiliki karakter dan solusi pembangunan masing-masing.
Sebuah kebijakan harus lahir dari pemahaman terhadap budaya, potensi, serta persoalan masyarakat setempat.
Keinginan pulang kampung bahkan sudah hadir jauh sebelum masa pengabdiannya sebagai diplomat berakhir. Saat hendak menikah, pertanyaan pertama yang ia sampaikan kepada calon istrinya bukan soal pekerjaan ataupun tempat tinggal.
“Apakah kamu siap mendampingi saya pulang kampung?,” ungkapnya.
Pertanyaan sederhana itu mencerminkan tekad untuk kembali mengabdi kepada daerah asal.
Desa Berdaya Transformatif Lahir dari Pengalaman Hidup
Sekembalinya ke NTB, Iqbal kembali menemukan persoalan yang sejak lama mengusiknya. Berbagai program pengentasan kemiskinan telah berjalan selama puluhan tahun, tetapi angka kemiskinan masih tergolong tinggi.
Kemudian, ia menyimpulkan bahwa persoalan utama bukan terletak pada jumlah anggaran, melainkan pola kerja yang belum terhubung secara menyeluruh.
Berbagai program pendidikan, kesehatan, sanitasi, rumah layak huni, hingga pelatihan keterampilan berjalan sendiri-sendiri, padahal kemiskinan selalu hadir dalam berbagai persoalan sekaligus.
Dari pemahaman tersebut lahirlah konsep Desa Berdaya Transformatif. Pendekatan ini menempatkan masyarakat sebagai subjek pembangunan, bukan sekadar penerima bantuan.
Pemerintah berperan menyatukan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, pemerintah desa, dunia usaha, perguruan tinggi, organisasi masyarakat sipil, hingga lembaga filantropi.
Pendekatan tersebut berawal dari pemetaan kondisi setiap keluarga secara menyeluruh agar setiap program sesuai dengan kebutuhan nyata masyarakat.
Bagi Iqbal, Desa Berdaya Transformatif bukan sekadar nama program. Gagasan tersebut merupakan hasil perjalanan panjang yang berawal dari Pasar Senggol.
Kemudian, tumbuh bersama nilai keluarga, menguat melalui pendidikan pesantren, berkembang lewat pengalaman internasional, lalu kembali menemukan bentuknya saat berhadapan dengan realitas masyarakat NTB. (Disusun Tim Ahli Gubernur NTB)




