Kota Mataram

Banjir Rob Kembali Terjang Kampung Bugis Ampenan, Puluhan Rumah Terendam

Mataram (NTBSatu) – Banjir rob kembali menerjang Lingkungan Bugis, Kelurahan Bintaro, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram pada Rabu pagi, 3 Juni 2026.

Gelombang laut mulai memasuki permukiman warga sejak pukul 06.00 Wita. Kondisi tersebut berlangsung hingga siang hari.

Warga mengaku heran karena cuaca terlihat normal. Angin tidak bertiup kencang dan langit tampak cukup cerah. Namun, gelombang laut terus menghantam kawasan pesisir. Air laut bahkan masuk hingga sekitar 200 meter ke daratan.

IKLAN

Kepala Lingkungan Bugis, Suherman menyatakan, gelombang besar datang sejak pagi dan belum menunjukkan tanda mereda.

“Dari tadi pagi jam 06.00 itu sampai sekarang ini masih. Enggak ada angin, enggak ada cuaca buruk, tapi ombaknya tinggi,” ujarnya kepada NTBSatu, Rabu, 3 Juni 2026.

Pria yang akrab disapa Heri itu menjelaskan, gelombang besar merendam banyak rumah warga yang berada dekat garis pantai.

IKLAN

Puluhan rumah terkena dampak langsung akibat luapan air laut tersebut. Warga terus memantau kondisi gelombang sepanjang hari.

“Kalau untuk rumah yang rusak ya puluhan yang di pinggir-pinggir laut itu juga dari tadi pagi sudah kena,” katanya.

Beronjong Pelindung Ikut Rusak

Gelombang besar juga merusak beronjong yang sebelumnya pemerintah dan warga pasang, sebagai perlindungan darurat pasca banjir rob sebelumnya.

Sebagian beronjong terlepas dan hanyut terbawa arus laut. Material yang belum terpasang sempurna ikut rusak.

“Kalau untuk kerusakan ya ada. Beronjong yang sebelumnya dipakai untuk perbaiki setelah banjir rob terakhir kemarin itu hampir rusak,” ungkapnya.

Heri menjelaskan, gelombang datang secara berulang. Air sempat surut sesaat lalu kembali menghantam pesisir dengan kekuatan besar. “Kita mau bilang reda juga, ada lagi datang gelombang besar,” lanjutnya.

Kejadian ini kembali menghidupkan kekhawatiran warga pesisir yang selama bertahun-tahun menghadapi ancaman abrasi dan banjir rob.

Sebelumnya, warga berulang kali meminta pembangunan pemecah gelombang permanen. Mereka menilai kebutuhan tersebut semakin mendesak.

Lingkungan Bugis memiliki garis pantai panjang dengan permukiman yang berada sangat dekat bibir laut.

Setiap gelombang pasang besar selalu membawa ancaman bagi rumah warga, akses lingkungan, dan aktivitas masyarakat pesisir.

Hingga berita ini ditulis, warga masih berjaga di sekitar rumah masing-masing sambil memantau perkembangan kondisi laut. (*)

Artikel Terkait

Back to top button